Azizah

Oleh: Benno Ola Tage

Katoliknews.com Perhelatan entertainment dan edukasi kontes KDI 2015 yang diselenggarakan oleh MNC TV telah berakhir dengan penobatan Mahesya dari Pekanbaru sebagai pemenang. Segera acara ini dilupakan oleh pemirsa dan masyarakat Indonesia. Bersamaan dengan itu, peserta KDI dan kontes KDI 2015 berlahan-lahan dikuburkan dalam ribuan arus informasi, berita dan hiburan yang mengalir laksana air sungai ke dalam kehidupan kita oleh media komunikasi.

Salah satu fenomena unik dari KDI kali ini adalah kehadiran Azizah, seorang remaja putri beragama Islam, berasal dari Maumere, Flores. Maumere secara khusus dan Flores secara umum adalah ikon dari masyarakat yang mayoritas beragama  Katolik di Indonesia.

Setiap kali selesai menyanyikan lagu sebagai ajang kompetisi KDI, dan setelah dewan juri memberikan komentar, Azizah mengakhiri dengan mengucapkan terima kasih kepada pihak yang membentuk dirinya sebagai penyanyi dan serta memohon partisipasi pemirsa untuk membawa dirinya sebagai juara kompetisi ini. Ia pernah menyampaikan ucapan terima kasih kepada Uskup Maumere dan lembaga pendidikan Katolik, SMK Yohanes XXIII, tempat ia menimbah ilmu.

Sementara itu, melalui media sosial YouTube, penulis, menyaksikan antusiasme masyarakat Maumere menyambut kedatangan Azizah. Masyarakat Maumere memandang Azizah adalah bagian dari kehidupan mereka, bukan karena faktor agama (dimensi religi), tetapi karena ia berasal dari Maumere (dimensi sosio-cultural). Bagi masyarakat yang mendukungnya melalui polling SMS atau berpartisipasi dalam penyambutannya bukan hanya karena Azizah memiliki kualitas suara dan penampilan sebagai penyanyi berbakat, tetapi mereka juga memiliki ikatan emosional dengannya.

Azizah adalah benih penyanyi yang ditaburkan dalam masyarakat Maumere. Benih ini ditaburkan di tanah yang subur, yakni masyarakat yang hidup dalam bingkai toleransi. Persepsi berpikir agama mayoritas dan agama minoritas, tidak memiliki kekuatan destruktif untuk memisahkan hubungan antarumat beda agama. Bingkai toleransi bukan hanya memberikan tempat untuk hidup, tetapi toleransi adalah atmosir yang membuat kemampuan alamiah Azizah diasah, diasuh, dan dibimbing sehingga ia menjadi seorang penyanyi.

Komunitas Gereja setempat telah menjadi atmosfir yang kondusif bagi Azizah. Azizah kerap diundang untuk bernyanyi di Gereja bukan untuk menobatkan dia menjadi seorang Kristen. Suara Azizah adalah anugerah Tuhan yang dapat menggetarkan perasaan seorang Kristiani ketika ia menyanyikan mazmur dalam sebuah kebaktian. Azizah merapatkan relasi umat Katolik dengan Tuhannya tanpa Azizah diasingkan dari akidahnya.

Azizah Bukan Buah Program Kerjasama Antar Lembaga Keagamaan

Salah satu fenomena kerja sama antara umat beragama Indonesia adalah kerja sama antara lembaga atau institusi agama, misalnya kerja sama ekumunis di kalangan Kristen, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kerja sama ini dirajut dalam bingkai yuridis formal. Melalui pertemuan dan programnnya, kerja sama ini menjaga konduksivitas hubungan umat beragama melalui menyalurkan aspirasi umat, menyampaikan pesan-pesan toleransi kepada masyarakat.

Di beberapa tempat, organisasi semacam ini telah menjadi harapan untuk mediasi hubungan antarumat beragama apabila terjadi konflik horizontal antar pemeluk berbeda agama.

Azizah bukan buah dari hasil kerja sama organisasi/institusi Katolik dan organisasi Islam di Maumere maupun NTT. Ia berkembang di luar kerangka kerja sama formal yuridis antar lembaga beda agama. Tetapi ia bertumbuh dan berkembang dalam relasi sosial dan iklim kultur masyarakatnya. Aziazah adalah produk persahabatan yang alamiah dan humanis dalam masyarakat heteroginitas.

Sebenarnya, persahabatan antarumat beragama semacam inilah yang dirindukan oleh Paus Fransiskus untuk terwujud di muka bumi. Fr. Migual Angel Ayuso Guixot, Missionary Comboni, menuturkan bahwa dalam ensikliknya, Evangelii Gaudium (World Mission, June 2015), Paus Fransiskus menegaskan bahwa dasar dialog antarumat berbeda agama adalah persahabatan (EG No. 250-251).

Bila dibandingkan dengan pendekatan teoritis dalam dialog antaragama, persahabatan justru memberikan dampak yang penting dan lebih nyata. Dalam persahabatan kita membangun saling pengertian, memperkaya wawasan satu sama lain, saling mendukung dan memberikan pertumbuhan kepada pihak lain. Untuk itu, setiap kali mengadakan kunjungan pastoral ke sebuah negara, Paus Fransiskus selalu memiliki agenda untuk bertemu secara ekslusif dengan tokoh lintas agama setempat.

Dialog dan persahabatan ini bukan tindakan yang membuat iman kita menjadi kompromistis. Persahabatan antarpemeluk agama justru membawa kita semakin bersahabat dan tulus dalam bertingkah laku, seraya membawa kita semakin menghayati iman masing-masing. Inilah yang dinamakan oleh Paus Fransiskus sebagai pengalaman pertemuan antarbudaya (culture of encounter). Dalam pesan hari Komunikasi Dunia tahun 2014, Paus mengingatakan bahwa pertemuan antarbudaya dan persahabatan hanya terjadi apabila setiap orang yang hendak masuk ke dalam persahabatan dan dialog memiliki disposisi dan sikap siap untuk mendengarkan dan memahami pihak lain.

Secara tidak sadar dan tidak langsung, Azizah adalah buah yang diusung Evangelii Gaudium. Sesungguhnya persahabatan antaragama telah mengkristal dalam diri kultur masyarakat NTT. Pesan Evangelii Gaudium mengukuhkan budaya tolerensi yang merupakan kebijakan harmonisasi yang diajarkan para leluhur Flobamora sebelum kedatangan agama Kristen dan Islam.

Azizah Maumere adalah Kenangan, Theresia Avilla Banda Aceh adalah Kerinduan

Azizah tidak akan muncul lagi dalam paket acara yang sama di ajang kontes KDI MNC TV. Tetapi pesan toleransi bergama yang direnungkan dari kemunculannya di blantika musik Indonesia akan menjadi bibit untuk menumbuhkan kultur toleransi di Indonesia. Apapun terjadi Azizah pasti berlalu, tetapi apabila pesan toleransinya ditaburkan di penjuru Indonesia, saya yakin Indonesia akan abadi.

Azizah Maumere adalah kenangan akan kenyataan tolerensi yang menyuburkan mekarnya talenta generasi muda. Berkaca pada cermin Azizah, saya merindukan suatu hari, seorang Kristen menjadi kebangggan masyarakat yang menjadi agama Islam atau Hindu menjadi ikon sosio-cultur masyarakatnya. Misalnya, kemunculan seorang Katolik atau Kristen Protestan bernama Theresia Avilla di Banda Aceh karena prestasinya, apakah di bidang seni, olahraga, atau ilmu pengetahuan.

Dia memaklumkan melalui media sosial bahwa keberhasilannya bukan karena dukungan pastor atau pendeta, tetapi benih yang diberi Tuhan padanya dirawat dan dikembangkan oleh ustad, alim ulama sempat. Saya merindukan hal ini terjadi suatu saat kelak. Maka apa yang sering dimaklumkan bahwa agama senantiasa menjadi berkat bagi semua umat manusia menjadi kenyataan. Agamaku menjadi berkat bagimu, agamamu menjadi berkat bagiku. Akhirnya semua agama menjadi berkat bagi umat manusia.

Benno Ola Tage adalah seorang pastor dan mahasiswa Pasca Sarjana Program Kommunikasi Pastoral Universitas Santo Thomas Manila, Phillipine.

[Tulisan ini telah diterbitkan di Pos Kupang pada 24 Juni 2015]

Komentar