J Kristiadi (Foto: Romo Stefanus Kelen Pr)

Katoliknews.com – Politik itu suci, tetapi politik tidak dilakoni di tempat atau panggung yang suci. Lantas, bagaimana mengurus politik yang benar? Pertanyaan ini tampaknya mulai mendikte Komisi Kerasulan Awam (Kerawam) KWI.

Pasalnya, komisi yang diketuai oleh Uskup Agung Ende, Mgr Vincentius Sensi Potokota itu bersama Sekjendnya RD Guido Suprapto menghimpun semua rasul awam yang ada di wilayah Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) di ruang sidang KWI, Cut Meutia Jakarta (25/02/16).

Kegiatan yang oleh BNC disebut sharing politik para rasul awam itu, menghadirkan pengamat politik nasional, J Kristiadi dan Adrianus Meliala. Dalam pengantar yang dipaparkannya, Kristiadi menegaskan bahwa dalam konteks kehidupan bernegara, untuk mencari kebahagiaan bersama, Negara lah instrumennya.

“Karena Negara mengkoordinir masyarakat dengan system tertentu,” ungkap pengajar ilmu politik di Universitas Indonesia ini.

Kristiadi juga menegaskan, politik itu suci tetapi terjadi di ruang atau tempat yang tidak suci. “Maka diperlukan system. Dan system itu harus dikelolah oleh orang yang mempunyai kompetensi moral,” tegasnya lagi.

Sebab, menurut Kristiadi lagi, kesulitan untuk mempertahankan kompetensensi moral dalam berpolitik terjadi ketika berkembangnya pertarungan siasat politik.

“Pertarungan siasat politik, sudah dapat dipastikan menghalau segala cara,” imbuh Kristiadi.

Walaupun demikian, Kristiadi menganjurkan harus ada rasul awam yang duduk di partai. “Partai itu kita benci tapi Presiden, Kepala Daerah, dan lain-lain dari partai,” sebutnya.

“Anda-anda harus masuk partai dulu, untuk dilatih. Sebab kemampuan berpolitik, tidak muncul tiba-tiba,” ujarnya.

Oleh karena itu Kristiadi juga mengusulkan kepada Komisi Kerawam KWI agar membuat roadmap kerawam.

“Supaya kita tidak hanya kumpul saja, tetapi tidak ada output nya. Dengan roadmap itu, diharapkan kita mempunyai kerangka berpikir untuk membangun manusia yang merdeka dari keinginan daging,” pungkasnya.

Sedangkan di mata Adrianus Meliala, seorang rasul awam Katolik harus menempatkan otak dan cara berpikir sebagai dasar kompetensinya untuk terjun ke dunia politik.    

Kegiatan itu diawali dengan perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Ketua Komisi Kerawam, Mgr Vincentius Sensi Potokota.

ROMO STEFANUS KELEN PR