Pengruus Fox Point Institute berpose bersama setelah deklrasi di Jakarta, Sabtu 11 Maret 2016

Katoliknews – Bertempat di Grand Central Restaurant, Jalan  Bulungan Raya 22, Jakarta Selatan, Sabtu 12 Maret 2016 Perhimpunan Vox Point Indonesia (VPI) resmi dideklarasikan.

Ketua Umum VPI, Handyo Budhisedjati mengatakan VPI merupakan wadah perhimpunan  bagi para awam Katolik yang terpanggil untuk terlibat dalam kegiatan sosial politik di Indonesia.

Berasal dari berbagai latar belakang, VPI kata Handoyo diharapkan menjadi titik temu bagi para awam katolik untuk memberikan kontribusinya yang nyata dalam kegiatan sosial politik di tengah-tengah masyarakat.

“Kami menyadari sepenuhnya bahwa perlu keterlibatan aktif umat Katolik dalam kehidupan sosial politik di tingkat nasional yang selama ini kami akui masih sangat kurang,” kata Handoyo.

Tak hanya itu, sebagai perhimpunan yang berlandaskan iman Katolik, VPI lanjut Handoyo ingin menjadi gerakan yang juga mampu membangun kesadaran di internal Gereja Katolik Indonesia terutama kaum awamnya supaya pro aktif dalam kegiatan kehidupan sosial politik di kancah nasional.

“Jadi ke luar kita ingin memberi kontribusi dengan menghimpun kekuatan yang sudah ada supaya berkarya lebih hebat lagi. Dan ke dalam kita perlu membangun umat yang lain terutama kaum muda agar memiliki kepedulian pada urusan sosial politik kemasyarakatan,” terangnya.

Sesuai namanya VPI, Handoyo berharap VPI tidak hanya menjadi perhimpunan yang ikut-ikutan ramai di ruang publik, tetapi wadah yang benar-benar menjadi “VOX” yaitu SUARA yang tidak hanya sekedar membuat gaduh atau bising suasana tetapi SUARA yang menggerakan dan membawa perubahan.

Bagi VPI, di tengah demokrasi yang begitu bising, tantangan Vox Point Institute adalah memisahkan noise dari voice. Vox adalah sungguh-sungguh suara yang tidak hanya sekedar membuat gaduh atau bising suasana. Suara (vox) adalah suatu kekuatan yang sungguh-sungguh mendorong perubahan. Dia lahir dari proses refleksi yang tidak pernah henti, yang kemudian menjadi aksi nyata.

“VPI ini datang dari berbagai latar belakang, ada politisi, pengusaha, aktivis HAM, pegiat Gereja, akademisi, birokrat, purnawirawan TNI/Polri, pekerja media. Sehingga kami harapkan wadah ini bisa menjadi titik temu yang baik sebagia wadah refleksi bersama di bawah terang iman katolik untuk merespon situasi-situasi di masyarakat,” beber Handoyo.

Ia tegaskan pula, VPI hadir dengan usaha memenuhi ruang publik dengan ‘suara-suara konstruktif-solutif.’

“Kalau itu kritik maka kritik kami membangun, jauh dari sekedar kritik yang menjatuhkan apalagi mencaci-maki atau mengumbar fitnah. Termasuk suara yang digabungkan adalah suara yang mampu menghadirkan daya dorong perubahan, di mana ada persoalan VPI hadir menjadi corong untuk menghadirkan solusi,” kata Handoyo lagi.

Selain agenda deklarasi, kesempatan ini juga digunakan untuk mengesahkan sejumlah pengurus.Turut hadir dalam deklarasi ini beberapa tokoh nasional yang didapuk sebagai Dewan Penasihat antara lain Letjen TNI Purn Cornelius Simbolon, Letjend TNI Purn Tono Suratman, Veronica Wiwiek Sulistio, Antonius J. Supit, FX Budhi Hendarto, Titus Sarijanto dan beberapa Dewan Pakar antara lain Adrianus Meliala, Natalius Pigai, Adrianto Gani dan Andreas Susetyo.

Beberapa politisi antara lain ikut terlibat dalam kepengurusan yaitu anggota DPR RI Rufinus Hutahuruk, Johny Plate, Inggar Joshua, dan beberapa nama lainnya.

Peter/Katoliknews

Komentar