Oleh: Markus Marlon MSC

“Kabeh tindakanmu tepakna karo awakmu dhewe” – Semua  tindakanmu sesuaikanlah  dengan dirimu ( Pepatah Jawa).

Pernah suatu kali saya jalan-jalan di pasar – sebut saja – blusukan. Di pinggir jalan, ada orang buta yang mau membeli sesuatu, tetapi sejak tadi tidak ada yang menghantar. Saya ingin sekali membantu bapak tua yang buta itu.

Lantas, bapak itu saya gandeng. Kami pun berjalan dengan jarak tempuh yang cukup jauh dan rumit karena melewati jalan setapak. Sesampai di tempat yang dituju, saya merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Dalam hati saya berguman, “Hidupku berarti bagi orang lain”.

Tentu dalam hidup, kita berharap bahwa hidup kita tidak hanya berguna bagi orang lain, melainkan lebih dari itu yaitu menjadi berkat bagi sesama. Ini yang sudah dikatakan Isiah Berlin (1909 – 1997), “Manusia tidaklah hidup sekadar untuk memerangi keburukan. Mereka hidup dengan tujuan yang positif untuk menghadirkan kebaikan, “Mercy for the mankind” atau rahmat lil-alamin.

Ternyata, tidak hanya yang menerima yang merasa bahagia dalam memberi. Yang memberi – ternyata – lebih bahagia. Barangkali kisah tentang seorang yang bernama Monobaz bisa mengajak kita menyadari pentingnya “hidup bagi orang lain” dengan cara memberi dan  memberi itu memunyai nilai rohani.

Monobaz  – tokoh di atas tadi –  mewarisi kekayaan yang besar dari leluhurnya.  Ia seorang yang baik dan peduli terhadp orang lain dan murah hati. Pada masa kelaparan ia memberikan seluruh hartanya untuk membantu orang miskin. Saudara-saudaranya datang kepadanya dan berkata, “Para leluhurmu mengumpulkan harta dan itu ditambahkan pada harta yang mereka warisi dari leluhur-leluhur mereka dan kamu bermaksud menyia-nyiakan semua?”

Ia menjawab, “Para leluhurku mengumpulkan harta di bawah; aku telah mengumpulkan harta di atas sana. Para leluhurku mengumpulkan kekayaan mammon; aku mengumpulkan kekayaan bagi dunia yang akan datang.

Itulah sebabnya, Yohanes Krisostomus (349 – 407), yang sering disebut juga si mulut emas berkata,  “Orang yang hidup sesungguhnya hidup untuk orang lain. Sebaliknya orang yang hidup untuk dirinya sendiri dan tidak menghargai serta tidak memerhatikan orang lain adalah orang yang tidak berguna.

Kontemplasi ini akan saya tutup dengan sebuah tulisan karya Pius Pandor dalam bukunya yang berjudul, “Seni Merawat Jiwa” yang salah satunya mengisahkan  tentang perekrutan yang dilakukan  Sokrates (470/469 – 399 seb. M ). Katanya, “Ketika seorang pemuda datang kepada saya dan menyatakan keinginannya untuk menjadi seorang murid, saya menyuruh dia melihat ke dalam sebuah kolam untuk mengetahui apakah yang dilihatnya di dalam kolam itu”.

Jika dia kembali dan kemudian mengatakan kepada saya bahwa dia melihat ikan yang sedang berenang, maka saya menerimanya sebagai seorang murid. Tetapi sebaliknya, jika dia kembali kepada saya dan kemudian mengatakan bahwa dia hanya melihat bayangan wajahnya sendiri, maka saya tidak akan menerimanya sebagai seorang murid. Dia lebih menaruh perhatian pada dirinya sendiri daripada orang lain (altruist).”

Kamis, 17 Maret 2016

Komentar