Bukit Doa Watomiten Bour, Pilihan Destinasi Ziarah Iman di Lembata

1947
Patung Bunda Maria di Kawasan Ziarah Rohani Watomiten, Desa Bour, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata. (Foto: lembatakab.go.id)

Katoliknews.com – Letaknya di ketinggian, Bukit Doa Watomiten Bour, kian memancarkan sinar penuh pengharapan bagi banyak orang Katolik.
Di destinasi ziarah yang berada di Desa Bour, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur tersebut, para peziarah bisa menghabiskan waktu untuk lebih dekat dengan Bunda Maria.

Dari sejarahnya, bukit doa itu dulunya hanya sebuah tempat gersang yang ditumbuhi ilalang. Itu seperti sebuah tempat mati yang sepi akan kehidupan.

Namun, bukit dengan ketinggian 140 meter di atas permukaan laut tersebut enjadi tempat doa, sejak Uskup Larantuka, Mgr. Fransiskus Kopong Kung  Pr, didampingi  Deken Lembata, Rm. Philipus Sinyo Da Gomez Pr dan sejumlah imam memberkati tempat itu pada 31 Oktober.

“Siapa saja yang bertekad mati raga melalui Jalan Salib, sejak ini bisa didalamai dengan menyusuri lereng yang telah disucikan ini,” ungkap Uskup usai pemberkatan kala itu.

Pada puncak bukit, tampak Patung Bunda Maria setinggi 7 meter. Jika ditambahkan dengan pangkuan, tingginya menjadi 11 meter.

Dengan ukuran seperti itu, patung tersebut lantas masuk nominasi menjadi salah satu patung Bunda Maria tertinggi di dunia.

Di balik pembangunan tempat ziarah indah ini, ada suatu kisah unik.

Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung sedang memberkati patung di Kawasan Ziarah Rohani Watomiten, Desa Bour, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata. (Foto: lembatakab.go.id)
Uskup Larantuka Mgr Fransiskus Kopong Kung sedang memberkati patung di Kawasan Ziarah Rohani Watomiten, Desa Bour, Kecamatan Nubatukan, Kabupaten Lembata. (Foto: lembatakab.go.id)

Menurut beberapa pengakuan, bukit doa yang sukses didirikan pada masa kepemimpinan Bupati Eliaser Yentji Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado Watun tersebut, ternyata merupakan hasil ide kreatif seorang umat Muslim asal Yogyakara, Eko Priyono.

Eko yang awalnya melihat kegersangan bukit itu meyakni bahwa tempat ini potensial untuk menjadi lebih indah. Itulah sebabnya, dia meminta masyarakat agar segera menghijaukannya, kala itu.

Seiring berjalannya waktu, karena disokong  segenap jajaran kepemimpinan daerah Lembata, kini tempat Ziarah tersebut tampak lebih indah dibanding dengan sebelumnya.

Bukit yang dulunya ditinggalkan itu, sudah menjadi wadah doa yang sakral dan tempat ziarah iman bagi umat Katolik.

Harapan terbesar di balik pembangunan tempat ziarah indah ini, agar masyarakat dan para peziarah lebih dekat dengan Yesus.

Lembatakab.go.id/Bartolomeus Robyvan/Katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here