Katoliknews.com – Masih segar dalam ingatan kita terkait peristiwa berdarah di Yaman pada tanggal 4 Maret 2016 yang lalu, di mana ada empat orang suster dibunuh oleh para teroris bersama empat belas orang lainnya.

Saat itu, seorang pastor dari ordo Salesian Don Bosco (SDB) sedang berada di lokasi kejadian. Ia tidak dibunuh, tetapi diculik oleh teroris, yang diduga bagian dari ISIS.

Pater Tom Uzhunnalil SDB yang lahir di Kerala, India sedang berdoa di dalam kapel biara para suster. Hingga kini belum ada berita lebih lanjut tentang keberadaannya.

Beberapa waktu terakhir, Pastor Tom disebut-sebut bakal disalibkan pada Jumat Agung, 25 Maret 2016. Namun, kabar tersebut sudah dibantah oleh pimpinan ordo tersebut.

Pastor Mathew Valarkot SDB, juru bicara SDB Provinsi Banglore – di mana Pastor Tom bergabung – mengatakan, informasi tersebut “tidak bisa diverifikasi” kebenarannya.

“Kami, para Salesian, tidak bertanggung jawab atas informasi tersebut,” katanya.

Siapakah Pater Tom? Imam ini dikenal berani mati karena tidak rela meninggalkan pelayanan kasihnya di Yaman, meskipun selalu mendapat ancaman dari para teroris.

Pamannya bernama Pater Mathew Uzhunnalil juga bekerja sebagai misionaris di Yaman dan mengalami banyak perlakuan kasar dari kaum radikal setempat.

Diberitakan bahwa Vatikan banyak membantu membebaskan Pater Mathew. Ia sudah meninggal dunia pada tahun 2015 yang lalu.

Pater Tom sendiri menjadi misionaris di Yaman sejak empat tahun silam. Ia melakukan pelayanan kasih di daerah itu. Namun, akhir-akhir ini dengan hadirnya para ekstrimis ISIS menimbulkan kesulitan besar baginya untuk melanjutkan pelayanan.

Ia tetap diawasi bahkan ketika sedang merayakan Ekaristi, juga diawasi oleh kaum ekstrimis.

Pada bulan September 2015 silam, Gereja tempat Pater Tom merayakan Misa juga ditembaki oleh kaum bersenjata.

Sejak saat itu, pastor berusia 56 tahun itu tinggal di tempat perawatan para lansia yang dikelola oleh suster-suster Cinta Kasih, hingga kemudian ia diculik pada 4 Maret.

Sekalipun Pater Tom sering mengalami banyak intimidasi, namun ia tidak pernah berencana untuk kembali ke kampung halamanya.

Ia tetap ingin meneruskan pelayanan kasihnya di Yaman. Ia seorang pemberani dan tidak akan pernah tunduk begitu saja kepada para teroris.

Kini, berbagai usaha dilakukan untuk membebaskan Pater Tom. Keluarganya terus-menerus menjalin kerja sama dengan pemerintah India.

Kontak terakhir Pater Tom dengan keluarganya adalah pada hari Kamis, 3 Maret lalu.

Hingga saat ini, belum ada seorang pun yang mengklaim diri bertanggung jawab atas penculikan ini.

Yosep/Katoliknews

Komentar