Dalang dari Komunitas Lima Gunung, Sih Agung Prasetyo, memainkan wayang gunung berupa dunia pewayangan satwa dalam pergelaran Temu Nasional Komisi Karya Misioner se-Indonesia di gedung Gubug Selo Merapi Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Kamis (14/4) malam. (Anton Wijayanto/Ketua Komisi Komunikasi Sosial Kevikepan Kedu/Antara)

Katoliknews.com –   “Jaramaya linuhurna, linuhurna asma paduka. Karsa paduka kalampahana’,” demikian tembang Jawa dilantunkan dalang dalam pergelaran wayang gunung di kawasan Gunung Merapi Kabupaten Magelang, seakan terasa keramat karena bertepatan dengan malam Jumat Kliwon.

Tembang tersebut barangkali menjadi pengingat penonton yang kalangan pemimpin umat Katolik dari berbagai daerah di Indonesia terhadap doa utama mereka setiap saat, “Bapa Kami”. Kalimat lengkap dalam doa tersebut secara kental mengingatkan tentang pentingnya manusia selalu bersikap rendah hati.

Penonton terkesan terdiam ketika terdengar lantunan tembang itu. Mereka berhenti dari gelak tawa yang spontan dialirkan oleh dalang dengan bahasa Jawa bercampur Indonesia, sejak awal pementasan wayang kontemporer berdurasi sekitar 30 menit itu.

Kamis malam, 14 April 2016 tersebut merupakan malam terakhir Temu Nasional Komisi Karya Misioner se-Indonesia (11 sampai dengan 15 April) yang dipusatkan di Pastoran Sanjaya Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

“Luhurkanlah Jaramaya atau Batara Guru (Penguasa tertinggi para dewa, red). Dimuliakan namanya. Terlaksanalah kehendaknya.” Begitu kira kira terjemahan bebas syair tembang yang diulukkan dalang dari Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang Sih Agung Prasetyo.

Mereka yang para imam, bruder, frater, suster, dan tokok awam pegiat Komisi Karya Misioner berjumlah sekitar 50 orang dari 37 keuskupan di Indonesia itu bersama umat dan warga umum lainnya di kawasan barat daya Gunung Merapi menyaksikan pementasan wayang gunung.

Pentas wayang gunung menghadirkan para tokoh pewayangan kontemporer dari dunia satwa dalam sebutan masyarakat lokal kawasan Gunung Merapi, seperti semprang atau capung, thungkeret, rayap, landak, gajah, uler atau ulat, ikan, dan tengu, sedangkan tokoh manusia disimbolkan oleh wayang Setyaki atau Sencaki.

Satu gunungan wayang terbuat dari bambu dan anyaman jerami mewarnai pementasan, sedangkan tempat di kanan dan kiri sang dalang memainkan wayang kontemporer juga dipasang instalasi berbagai ragam anyaman jerami dan daun kelapa.

Dalam pementasan di bangunan terbuka bernama Gubug Selo Merapi, Dusun Grogol, Desa Mangunsoko, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang di dekat Sungai Senowo yang aliran airnya berhulu di Gunung Merapi itu, hadir pula Ketua Komisi Karya Misioner Konferensi Wali Gereja Indonesia Mgr Edmund Woga dan Sekretaris Eksekutif Komisi Karya Misioner KWI yang juga Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia Romo Markus Nur Widipranoto.

Bangunan Gubug Selo Merapi selain untuk misa umat Katolik setempat juga tempat pertemuan umum, pusat edukasi alam dan pertanian melalui program “Live In”, serta kegiatan eksplorasi seni budaya masyarakat.

Hujan cukup deras di kawasan barat daya sekitar 7 kilometer dari puncak Gunung Merapi mewarnai suasana pergelaran yang sebelumnya juga disuguhkan pentas kesenian rakyat “Jingkrak Sundang” oleh seniman petani Sanggar Saujana Dusun Keron, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang pimpinan Sujono dan “Kuda Lumping” oleh seniman Sanggar Bangun Budaya Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang pimpinan Untung Pribadi.

Selain itu, dialog tentang edukasi cinta air dan lingkungan, pertanian, gotong royong, musyawarah, seni, budaya, toleransi, dan pluralitas dengan sejumlah narasumber dari kawasan gunung setempat, seperti Sitras Anjilin (pemimpin Padepokan Tjipto Boedojo Tutup Ngisor, Desa Sumber), Muhammad Sodiq (tokoh Islam setempat yang juga guru madrasah di Kecamatan Dukun), Maryono (Kepala Desa Sumber), Muhammad Yatin (Kepala Desa Ngargomulyo), Andreas Susanto (seniman lokal dan pegiat Kelompok Edukasi Gubug Selo Merapi Desa Mangunsoko), Benediktus Gimin (pegiat Kelompok Edukasi Tuk Mancur, Desa Ngargomulyo).

“Di sini (Gubug Selo Merapi, red.) juga pernah diadakan buka puasa bersama, ada musik rebana, ada gamelan. Kami yang muslim tidak asing dengan gamelan. Itu napas kami juga. Tanpa melihat latar belakang agama, kami berekspresi, membangun aura ketenteraman,” kata Sodiq dalam dialog dengan para peserta temu nasional tersebut.

Yatin yang pada kesempatan itu bercerita tentang dampak erupsi dahsyat Gunung Merapi pada tahun 2010 disusul banjir lahar hujan secara intensif hingga pertengahan 2011 di daerah setempat, juga menyebut kebaikan kehidupan masyarakat setempat tidak lepas dari kekuatan alam Gunung Merapi meskipun tidak mudah menguatkan kesadaran banyak orang terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.

“Gerakan pelestarian alam tidak langsung dirasakan hasilnya. Butuh bertahun-tahun, kontinu, tidak patah dengan kegagalan. Butuh kehadiran birokrasi, penguatan kelembagaan masyarakat, keteladan para tokoh, pengawalan terhadap pelaksanaan regulasi. Tidak kalah penting masyarakat diajak bernostalgia tentang alam yang lestari,” ujarnya.

Suster Gabriela C.B, peserta dari Keuskupan Ruteng- Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur mengungkapkan kekaguman pengaruh lingkungan alam Gunung Merapi dengan berbagai simbol yang terkandung dalam seni budaya setempat yang menjadi bagian penting masyarakat menjalani hidup sehari-hari dalam suasana kebersamaan.

“Simbol-simbol itu mengajarkan banyak hal tentang hidup baik,” ujarnya.

Mgr Edmun yang juga Uskup Weetebula di Pulau Sumba, NTT itu, mengatakan bahwa para peserta temu nasional belajar banyak tentang bagaimana masyarakat kawasan Gunung Merapi menjalani hidup bersama.

Bahkan, kata dia, Gubug Selo Merapi juga menjadi simbol keterbukaan bahwa bangunan tersebut milik siapa saja yang berkehendak baik membangun persaudaraan dan kebersamaan.

Ia menjelaskan Gubug Selo Merapi yang berupa bangunan terbuka menjadi simbol tuntutan dan tantangan Gereja Katolik dalam mengajarkan kepada umat bahwa di hadapan Sang Pencipta tidak ada pembeda.

“Ini suatu yang dibutuhkan dalam ciptaan. Manusia, hewan, tumbuhan, tanah, dan batu. Semua mengarah kepada keutuhan. Alam selalu menuntut kepada keutuhan yang diciptakan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Uskup Edmund seakan mengemukakan bahwa manusia hendaknya selalu bersikap rendah hati karena dia bukan segala-galanya di tengah alam ciptaan Tuhan. Penghormatan kepada Sang Pencipta, juga penghormatan terhadap seluruh ciptaan.

Pesan kerendahan hati juga mengemuka ketika para seniman petani Sanggar Saujana Keron dari kawasan di antara Gunung Merapi dengan Merbabu itu, yang selain menjadi penabuh gamelan juga melantunkan tembang Jawa sebagai pembuka pentas wayang gunung.

“Minangka pambukaning carita. Iki seni asale soko ndesa’ (Sebagai pembuka cerita wayang. Ini kesenian dari desa, red.)”. Begitu terdengar berulang-ulang syair tembang tersebut disuguhkan, disambung penuturan sang dalang bahwa manusia hendaknya tidak “kemlinthi” (sombong) karena terlahir terakhir, setelah dunia dengan alam, makhluk, dan ciptaan lainnya.

Ketua Panitia Penyelenggara Temu Nasional Komisi Karya Misioner se-Indonesia yang juga Direktur Museum Misi Muntilan Kabupaten Magelang Romo Yosep Nugroho Tri Sumartono menyebut seluruh rangkaian kegiatan “dibundheli” (dirangkum) dalam pentas wayang gunung malam itu.

“Di tingkat ‘akar rumput,’ misi bukan lagi ‘ngatolikke wong’ (membuat orang lain menjadi pemeluk Katolik, red.), tetapi menyampaikan kabar gembira keselamatan,” ujarnya.

Melalui dialog antara tokoh wayang yang para satwa itu, dalang dengan ungkapan guyon juga menyelipkan berbagai kritik, antara lain tentang pembangunan yang meminggirkan pelestarian alam, perseteruan antarmasyarakat, antarelite, dan bahkan kritik terhadap kehidupan beragama sehari-hari.

Malam itu, para penonton dibuat tertawa karena pengemasan ungkapan kritik secara humor tersebut.

“Aku dan kamu itu diciptakan kalah dahulu dengan Gunung Merapi, apalagi manusia. Itu diciptakan paling akhir. Semua mahkluk ciptaan mempunyai dharma, tanggung jawab masing-masing,” kata dalang ketika memainkan dialog antara semprang dan thungkeret.

Dicontohkan melalui ungkapan dalang Sih Agung yang juga guru SMA swasta di Kota Magelang itu tentang semprang sebagai serangga penanda suatu tempat dengan air yang bersih atau bebas polusi, sedangkan rayap menjadi binatang yang membuat busuk benda-benda alam di tanah.

“‘Ningo aku raiso nek kon mbosokke plastik’. Koruptor aku yo wegah. Ora enak’ (Tetapi aku tidak bisa membusukkan bahan dari plastik. Koruptor aku juga tidak mau. Tidak enak dimakan, red.),” kata rayap sebagaimana diceritakan dalang.

Para penonton pun dibuat tertawa lagi oleh penceritaan tentang keengganan rayap membuat busuk koruptor yang tentunya ungkapan itu sebagai imajinasi sang dalang.

“Mulane manungsa ojo rumongso paling hebat, ojo kemlinthi. (Oleh karena itu, manusia jangan merasa paling hebat, jangan sombong, red.),” katanya.

Antara/Katoliknews

Komentar