Perayaan Paskah bersama keluarga dari Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai, NTT, sangat kental dengan nuansa inkulturasi. Tampak pada gambar, tarian adat Manggarai mengantar persembahan pada perayaan ekaristi Paskah bersama, di Aula SD St Antonius, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (16/4) malam. [SP/Laurens Dami]

Katoliknews- Warga asal Manggarai – Flores yang berasal dari Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok, yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya merayakan Paskah bersama di Aula SD St Antonius, Matraman, Jakarta Timur, Sabtu (16/4) malam.

Perayaan Paskah dalam balutan budaya Manggarai- Flores ini mengusung tema dalam bahasa Manggarai “Le To’o Tombon Anak Ca Mongko Mori Yesus, Pande Widang Ciar agu Nai Ngalis Lawa Serani, Kudut Nggelok Ka’eng Beo,”.

Seperti dilaporkan Suara Pembaruan, tema ini membawa pesan khusus buat umat kristiani asal Manggarai untuk membangun kehidupan bersama yang bersih dan suci. Perayaan kebangkitan Putra Tunggal Yesus Kristus diharapkan dapat membuka pikiran dan hati umat kristiani untuk membangun kehidupan bersama yang lebih baik.

Perayaan ekaristi dipimpin oleh Rm Daniel Sulbadri Pr dan P Frumen Gions OFM, keduanya berasal dari Manggarai, Flores, NTT.

Perayaan Paskah bersama tersebut dikemas dengan nuansa inkulturasi, perpaduaan antara tata cara adat (kultur) Manggarai dengan liturgi tata cara perayaan ekaristi.

Unsur-unsur adat atau kultur Manggarai diselipkan dalam tata perayaan ekaristi baik itu berupa kostum, lagu perarakan berupa lagu adat, tarian adat pengantar persembahan, kata pengantar persembahan menggunakan bahasa adat Manggarai maupun lagu-lagu perayaan ekaristi menggunakan lagu bahasa daerah Manggarai.

Paskah bersama tidak hanya perayaan iman tetapi juga perayaan budaya, untuk mengingatkan masyarakat Manggarai yang tinggal di diaspora Jabodetabek akan pentingnya nilai-nilai iman kristiani dan nilai-nilai budaya Manggarai itu sendiri.

Nilai-nilai budaya kebersamaan, persaudaraan dan kekeluargaan Manggarai, harus tetap dijaga dan dijunjungi tinggi kendati berada di tempat perantauan.

Ketua Umum Panitia Perayaan Paskah Bersama, Simon Mon mengatakan, kegiatan Paskah bersama memang sengaja diciptakan, kendati waktu persiapannya kurang dari sebulan, dengan tujuan untuk meningkatkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan di antara warga yang berasal dari Kecmatan Reok dan Kecamatan Reok Barat, Kebupaten Manggarai.

“Pada hari-hari biasa kita sulit berkumpul karena kesibukan kita masing-masing. Momen seperti ini sebagai sarana bagi kita untuk berkumpul, saling bertegur sapa, saling membagi cerita, saling meneguhkan dan saling menguatkan. Saya bersyukur, karena pada acara Paskah bersama ini ada begitu banyak yang hadir. Ini acara Paskah bersama pertama yang kita buat. Ke depan, acara seperti ini harus rutin dilakukan setiap tahun, untuk mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan di antara kita,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Panitia Paskah Bersama Vinsensius Jeharus menyatakan, terselenggaranya acara Paskah bersama untuk Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat berkat dukungan dari para orang tua se-Jabodetabek dan peran serta dari semua saudara dan saudari dari Manggarai khususnya dari Kecamatan Reok dan Kecamatan Reok Barat, Kabupaten Manggarai.

“Saya diberi waktu kurang dari sebulan untuk menyelenggarakan acara ini. Kami dari panitia tidak bekerja sendiri. Kami mendapat dukungan dari semua orang tua dan anak-anak muda. Mari kita tetap semangat membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan di antara kita,” ujar Vinsensius Jeharus, yang biasa disapa Sius ini.

Katoliknews/Suara Pembaruan

Komentar