Warga Lamalera, Kabupaten Lembata sedang mengikuti Misa lefa untuk mengawali tradisi penangkapan ikan paus. (Foto: Yuven Fernandez)

Katoliknews.com – Masyarakat di Lamalera, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur umumnya berprofesi sebagai nelayan. Daerah itu juga terkenal dengan tradisi menangkap ikan paus yang dalam bahasa setempat disebut lefa.

Di balik tradisi itu, mereka selalu meyakini bahwa Tuhanlah yang memberi rejeki dan perlindungan selama melaut, demikian kata Fince Bataona, tokoh muda di Lamalera kepada Katoliknews.com.

Menurutnya, musim penangkapan ikan paus, selalu didahului dengan Misa.

Misa dilaksanakan di pantai, mohon berkat untuk melaut dilanjutkan dengan pemberkatan perahu dan peralatan penangkapan.”

Fince menjelaskan, pada musim lefa, warga juga menggelar serangkaian  ritual adat.

Masyarakat Lamalera, kata dia, meyakini bahwa segala perjuangan mencari nafkah, mencari makan harus dilakukan dengan hati yang bersih dan karena itu wajib dilakukan seremoni Tobu Neme Fate (duduk bersama tiga bersaudara).

Tiga bersaudara (lika telo) itu adalah dari suku Bataona, Blikololong dan Lewotukan serta tuan tanah (fujon tufan) dan nelayan (leva alep).  Dalam upacara ini dibicarakan semua hal yang berkaitan dengan suku, tuan tanah, masalah-masalah dalam kampung, yang kemudian diselesaikan pada saat itu juga.

”Duduk bersama dan membahas masalah bagian dari pembersihan diri dan kampung,” kata Fince.

Acara ini lalu dilanjutkan dengan upcara memanggil roh ikan paus (le gerek) di batu paus, sebuah batu besar yang sangat persis menyerupai ikan paus.

Upacara ini dilakukan setiap tanggal 29 April dan oleh tuan tanah suku Langofujo.

Seluruh ritual adat, demikian Fince, mencapai puncak dalam Misa pembukaan musim lefa tanggal 1 Mei. Misa berlangsung di Kapel St. Petrus yang berlokasi di Pantai Lamalera. Dalam Misa lefa ini, Lamafa, seluruh pedang dan peralatan tangkap diberkati imam.

Sehari sebelumnya, kata Fince, di kapel yang sama, dilakukan Misa arwah mengenang semua arwah nelayan Lamalera yang meninggal di laut. Misa arwah ditutup dengan karangan bunga dan lilin bernyala di  letakkan di air laut Lamalera dan dibiarkan bergerak ketengah laut mengikuti arus dan gelombang laut. Dan, tanggal 2 Mei musim lefa pun dimulai, hingga Oktober.

Bagi nelayan Lamalera, sebagaimana diungkapkan Sony Keraf, tokoh nasional yang pernah menjabat sebagai Menteri Lingkungan Hidup, dalam workshop tentang ikan paus di Lewoleba awal Desember 2014 lalu, seluruh aktivitas penangkapan ikan paus, mulai dari mencari kayu  untuk membuat perahu hingga pembagian hasil tangkapannya, sudah ada tata caranya, punya ritualnya yang tidak boleh dilanggar.

Yuven Fernandez/Katoliknews

Komentar