Josep Matheus Rudolf Fofid (Foto: Kompas.com)

Katoliknews – Josep Matheus Rudolf Fofid, asal Ambon, menjadi salah satu penerima Maarif Award tahun 2016. Penghargaan ini diberikan kepada orang-orang yang telah bekerja mengusahakan perdamaian melampaui sekat primodial agama.

Bersama Budiman Maliki (Poso) dan Mosintuwu Institute (Poso), pria yang biasa disapa Rudi ini dinilai telah memberi inspirasi dalam merawat kebhinekaan, merekatkan integrasi sosial dan menggelorakan perdamaian di Ambon.

Seperti dilansir antaranews.com, Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ulhaq saat konferensi pers di Jakarta, Minggu, mengatakan para penerima Maarif Award 2016 merupakan para pejuang dalam jalan sunyi yang jauh dari hingar bingar publikasi.

Menurut dia, ketiga penerima tersebut sangat tepat dengan konteks yang terjadi saat ini, rekonsiliasi dengan masa lalu untuk menjadi pijakan yang lebih baik di masa depan. Hal ini sesuai tema yang diambil dalam Maarif Award 2016, memulihkan luka dan merawat solidaritas sosial bangsa.

Josep Matheus Rudolf Fofid kepada Katoliknews.com mengatakan ia tak menduga mendapat penghargaan ini.

“Saya tidak tau siapa usulkan untuk pencarian figur akar rumput, orang biasa dengan karya luar biasa. Setelah sudah ada lima nominasi, baru mereka investigasi dan beritau,”ujarnya.

Ia mengatakan baik sebelum maupun pasca konflik bernuansa agama di Ambon beberapa tahun silam, ia selalu menjalin relasi dengan umat berbagai agama di daerah itu.

“Sebelum, selama dan setelah konflik, saya tidak pernah berpisah dengan Islam dan selalu bersama Protestan,”tandasnya.

Mantan Ketua PMKRI Cabang Ambon ini mengatakan dalam berdialog dengan umat agama lain, ia menggunakan seni sebagai medium perjumpaan.

“Saya ajar dan ajak menulis puisi, baca puisi, teater, pentas rutin, pertemukan komunitas beda agama dari kampung ke kampung,”ujar alumnus SMA Xaverius Ambon ini.

Dialog dengan umat agama lain itu, kata dia, merupakan bagian dari penghayatan dia akan ajaran gereja serta nilai-nilai yang pernah dia pelajari selama aktif di PMKRI.

“Saya hanya menjalankan nilai yang diajarkan gereja, PMKRI dan Maarif mengapresiasi,”ujar pria yang juga wartawan ini.

Kerusuhan bernuansa agama di Ambon pada tahun 1999 telah merenggutnya nyawa ayah dan kakak perempuan Rudi. Alih-alih dendam, ia justru terus menggelorakan semangat perdamaian dan menerbos sekat-sekat primodialisme agama.

Baginya, Ambon yang damai adalah obat untuk semua orang yang telah menjadi korban dalam konflik di Ambon, termasuk ayah dan kakaknya.

Peter/Katoliknews

Komentar