Bencana Alam dan Ketakberdayaan Manusia

600
Pastor Peter C Aman OFM (Foto: JPIC-OFM Indonesia)

Oleh: Pastor Peter C. Aman OFM, Direktur JPIC-OFM Indonesia dan dosen Teologi Moral di STF Driyarkara, Jakarta

Ketika manusia dikuasai hasrat menikmati dan mengumpulkan harta, alam ciptaan hanya dilihat dari aspek kegunaan, fungsi dan manfaatnya saja. Alam berada dalam genggaman kuasa manusia. IPTEK membantu manusia menundukkan alam. Manusia begitu digdaya menaklukkan alam.

Kedigdayaan itu ternyata semu, di hadapan kekuatan bencana alam. Manusia dan “candi babel” buatannya (gedung-gedung besar dan kuat, rumah kediaman atau gedung pencakar langit, dan industri, dll) luluh lantak dalam hitungan detik. Manusia diajar untuk menemukan kebenaran tentang dirinya. Ia laksana sebutir debu dalam tiupan angin, atau setitik air dalam deburan tsunami.

Alam adalah satu entitas, yang melampaui manusia. Alam tidak dapat dikuasai. Pengetahuan manusia tentang alam, mesti mengembangkan sikap respek dan mengubah persepsinya tentang alam. Alam bukan sekedar sumber nafkah dan kekayaan. Dia adalah “oikos” – rumah dan ruang hidup manusia. Tak cukup melihat alam dari sudut pandang manfaat atau kegunaan.

Dibutuhkan pemahaman dan pendekatan menyeluruh.
Pendekatan menyeluruh bertitik tolak dari pemahaman bahwa ekologi adalah suatu refleksi dan seni interaksi. Segala sesuatu berelasi atau berinteraksi. Alam adalah suatu sintesa di mana tak ada satu elemen pun yang tidak mendapat tempat di dalamnya (ekosistem). Melihat alam hanya dari sudut pandang manfaat dan kegunaan bagi manusia adalah keliru.

Memahami Bencana

Bencana alam adalah petunjuk adanya disharmoni dalam ekosistem. Persoalannya, manusia melihat bencana selalu dari sudut antroposentris. Bencana itu negatif, karena mengorbankan manusia. Alam bukan melulu sahabat, tetapi juga musuh.Bencana sesungguhnya merupakan bagian dari evolusi biologis alam.

Dalam bencana terjadi seleksi alam, dalam ruang dan waktu. Manusia hidup dalam ruang dan waktu. Ia serba terbatas. Ia dapat menjadi korban bencana. Bencana alam tak dapat dienyahkan, manusia mesti mengubah cara memahami bencana.

Ada tiga pandangan untuk memahami bencana. Yang pertama, diajukan oleh T.H. Huxley (1893) dalam karyanya Evolution and Ethic. Dia mengatakan alam itu kasar, jahat dan kejam. Kekuatan jahat alam harus dihadapi kekuatan moral dan rasional. Ilmu pengetahuan berguna bagi manusia untuk mengusai alam. Alam harus ditundukkan demi kebaikan manusia.

Pandangan kedua diajukan Henry Drummond. Karyanya The Ascent of Man (1894) mempertegas pandangan teisme Kristiani dan ajaran tentang penyelenggaraan ilahi. Evolusi menurut dia harus dilihat dari hasil akhir dan hasil yang terbaik, untuk manusia dan keseluruhan. Kebaikan keseluruhan lebih penting dari kebaikan masing-masing ciptaan. Ilmu pengetahuan dan teologi berhubungan.

Ilmu pengetahuan memberi informasi penting bagi teologi, tentang bagaimana Allah menciptakan, melalui suatu evolusi. Teologi lantas membingkai ilmu pengetahuan dengan memberikan makna religius dan spiritual. Menurut Drummond evolusi adalah suatu proses berkelanjutan menuju titik kulminasi yakni suatu altruisme manusiawi dan kasih.

Pandangan ketiga diajukan Thomas Aquinas. Ciptaan dimaksudkan untuk mengkomunikasikan kebaikan Allah dan setiap ciptaan memperlihatkan kebaikan Allah (cf. S.T.I,47). Kerusakan pada ciptaan merupakan akibat dari kenyataan bahwa Allah menciptakan makhluk ciptaan dengan kondisi keterbatasan dan peluang (untuk berkembang). Kesempurnaan keseluruhan alam ciptaan tidak sebanding dengan hal-hal yang negatif itu (yang rusak itu).

Adanya kerusakan tidak membuat seluruh ciptaan rusak. Allah menghendaki kesaling-tergantungan antara ciptaan sebagai suatu organisme alami dan menghendaki adanya proses alami di mana ada ciptaan yang bertahan hidup karena ciptaan lainnya mati. Kerusakan yang terjadi bukanlah sesuatu yang jahat pada dirinya, sebaliknya justru dapat membawa kebaikan bagi keseluruhan. Kebaikan keseluruhan jauh lebih bermakna dari adanya hal negatif, seperti bencana.

Manusia tidak dapat menyangkal adanya sakit, penderitaan dan yang jahat dalam alam. Ada hal-hal yang kurang baik, yang berdampak buruk pada manusia. Kejahatan juga dilakukan manusia dan mengorbankan manusia lain. Jika kejahatan itu adalah kejahatan moral, maka tanggapan terhadapnya adalah bahwa manusia harus memperbaiki, mengampuni dan saling menanggung (S.T. II-II, 25.6).

Bencana alam bukanlah kejahatan moral. Karena bukan merupakan kejahatan moral, menurut Aquinas, ketika terjadi bencana kebajikan moral harus diutamakan: memperhatikan korban, melalui karya-karya karitatif (S.T. II-II.32.2). Bencana alam tidak bisa dihadapi dengan menguasai alam, atau mengakrabi alam. Alam tidak bisa menjadi musuh atau sahabat manusia. Perlu kebajikan teologis, terutama iman dan harapan pada penyelenggaraan Pencipta.

Bencana merupakan bagian integral dari dinamika evolusi internal alam, sebagai ekosistem. Manusia adalah bagiannya dan merasakan dampaknya. Manusia tidak dapat menuntut tanggungjawab siapapun bila bencana terjadi. Manusia justru semakin disadarkan bahwa dia adalah bagian dari alam. Keberlangsungan keberadaannya tergantung pada ciptaan lainnya. Di saat bencana, manusia mesti meningkatkan solidaritas dan kebajikan sosial.

Akan lain jika bencana disebabkan tindakan eksploitatif manusia, yang menyebabkan disharmoni ekosistem lantas menyebabkan bencana. Disharmoni dalam ekosistem merupakan asal-muasal bencana. Bencana alam akibat perbuatan manusia, menuntut tanggungjawab moral manusia.

Bencana dalam kehidupan manusia, terutama disebabkan oleh manusia sendiri. Tak tepat ketika bencana datang, Tuhan yang diomeli. Tuhan tidak akan melenyapkan bencana ketika pola hidup dan cara berada manusia tidak berubah. Manusia harus mengubah gaya hidup dan sikap terhadap alam. Kata bijak berikut baik direnungkan: Tuhan menggerakkan langit, karena manusia tidak dapat melakukannya, tetapi Tuhan tidak mengeluarkan duri dari kaki manusia, karena manusia dapat melakukannya.

Arne Naess dan St. Fransiskus Assisi

Berkaitan dengan perubahan sikap dan prilaku terhadap alam, Arne Naess, mengajukan konsep yang disebut ecosophy T, atau ‘deep ecology’. Ada tiga prinsip utama dari “deep ecology”: (1). Kebaikan serta berkembangnya kehidupan (manusia dan ciptaan) bernilai pada dirinya sendiri; (2). Kekayaan serta keberagaman hayati amat bermanfaat bagi realisasi dari nilai-nilai ciptaan; (3). Manusia tidak berhak merusak atau mengurangi keberagaman hayati kecuali demi kebutuhan vital.

Manusia bukanlah kriteria atau nilai unggul yang kepadanya nilai-nilai ciptaan harus dikorbankan. ‘Deep ecology’ bukanlah suatu teori tetapi suatu cara berada dan cara hidup. Deep ecology adalah suatu etika hidup baru, di mana agama, tradisi, budaya, kearifan lokal, spiritualitas, dan praksis nyata menjadi amat penting.

Arne Naess menekankan pentingnya kebijaksanaan dalam mengatur dan menata hidup selaras alam. Cara hidup dan persepsi manusia terhadap alam mesti diubah. Deep ecology’ melawan pengutamaan kepentingan manusia di atas makhluk lainnya. Deep ecology adalah cara berada baru di dunia, karena manusia bukan hanya makhluk rasional dan sosial, tetapi juga makhluk ekologis.

Ada hubungan erat antara “deep ecology” dan spiritualitas kosmik St. Fransiskus Assisi yang memulai tradisi baru dalam mengejar kesucian hidup, yakni kontemplasi Allah dan keindahan-Nya dalam alam. Spiritualitas Fransiskus Assisi berciri kosmik. Ia menyebut dirinya ‘saudara dari segala ciptaan’ dalam satu bumi, yang adalah biaranya. Syairnya Gita Sang Surya adalah kristalisasi pengalaman dan penemuan diri Fransiskus di hadapan Allah dan sesama ciptaan.

Spiritualitas kosmik berhubungan dengan kebajikan kemiskinan. Kemiskinan bukan sikap menolak sesuatu, tetapi suatu cara berada yang menjamin kebebasan mencintai serta menghargai segala sesuatu sebagai saudara dan saudari. Keinginan memiliki, adalah ‘induk’ keinginan menguasai, mengontrol dan mengeksploitasi, yang melahirkan konflik dan bencana alam.

Kemiskinan membebaskan manusia dari keinginan tak teratur, terutama ketamakan. Ketamakan melahirkan bencana dan orang miskin adalah korban utamanya. Kepedulian pada alam tidak dapat dilepaskan dari kepedulian pada orang-orang miskin.

Leonardo Boff benar ketika mencatat bahwa pada hakekatnya krisis ekologi adalah derita bumi, ibu pertiwi, yang memperparah derita orang-orang miskin. “Tangisan bumi adalah tangisan orang miskin”. Hidup manusia menjadi indah karena ‘cinta’ dari alam ciptaan. Keindahan alam dan keindahan hidup manusia adalah pancaran keindahan cinta Pencipta, yang oleh St. Agustinus disebut: “keindahan lama yang selalu baru”.

Artikel ini sebelumnya dimuat di Jpicofmindonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here