Kisah Imam yang Diganggu Saat Misa

16771
Orang Muda Katolik Wilayah St Matius, Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah, Keuskupan Agung Jakarta saat menjalani retret di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu. Dalam Misa penutupan acara ini, sekelompok warga datang hendak membatalkan Misa. Namun, Romo Stefan Kelen Pr, yang memimpin Misa itu memutuskan tetap melanjutkan Misa hingga selesai. (Foto: dok.)

Katoliknews.com – Rabu malam, 13 Juli 2016, Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah St Matius, Paroki St Thomas Rasul, Bojong Indah, Keuskupan Agung Jakarta sedang mengikuti Misa syukur.

Romo Stefan Kelen Pr memimpin Misa itu yang digelar di Pulau Pramuka, pulau yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Kepulauan Seribu.

Ini merupakan penutupan rangkaian acara retret dan wisata rohani mereka.

Di tengah Misa itu yang baru berlangsung belasan menit, tiba-tiba seorang anggota OMK berjalan menuju meja altar.

Kepada Romo Stefan, ia berbisik, “Misa kita sebaiknya dihentikan, sebab warga akan datang untuk demo.”

OMK itu rupanya mendengar kasak-kusuk warga di luar tempat Misa itu yang mengancam akan membubarkan acara rohani mereka.

Mendengar itu, Romo Stefan yang sedang siap-siap untuk membacakan Bacaan Injil menjawab tegas.

“Misa kita tidak bisa dihentikan. Katakan kepada mereka, kalau mau demo, tunggu 15 atau 20 menit lagi,” ujar romo.

Akhirnya, Misa itu tetap dilanjutkan. Menyadari situasi khusus saat itu, Romo Stefan tidak memberi homili. Ini mengantisipasi jika demo benar terjadi, maka Perayaan Ekaristi diharapkan sudah selesai.

Dan, syukur bahwa selama Misa itu sampai konsekrasi dan berkat pengutusan, tidak ada tanda-tanda bahwa para pendemo itu mendekati lokasi Misa.

Usai misa, Romo Stefan menanggalkan kasula hijaunya dan bergerak ke jalan yang berada di punggung pantai pulau itu.

Di sana, imam diosesan Pangkalpinang yang sedang menyelesaikan studi magister komunikasi di Universitas Mercu Buana Jakarta itu melakukan negosiasi dengan utusan warga yang memang sedang berkumpul di tempat itu.

Seorang warga yang tidak ingin disebut namanya menjelaskan bahwa di wilayah Kabupaten Kepulauan Seribu, tidak dibolehkan agama lain merayakan ibadah.

Mendengar itu, Romo Stefan pun meminta menunjukkan aturan terkait larangan itu.

“Seandainya ada perda (peraturan daerah) mengatur kebebasan beragama seperti itu, bisa saya minta buku yang berisi peraturan itu?” tanya Romo Stefan.

“Agar saya bisa membantu sosialisasikan aturan tersebut ke Gereja kami, supaya tiap kali ada umat Katolik yang datang ke pulau ini, mereka sudah memahami aturan tersebut,” lanjutnya.

Namun, warga bersangkutan mulai garuk-garuk kepala dan bingung menanggapi permintaan itu.

Akhirnya, seorang warga lain yang bernama Suherman tiba-tiba angkat bicara.

Berbeda dengan rekannya, Suherman malah mengatakan, “Toh beberapa Minggu lalu juga ada jemaat Kristen yang melaksanakan ibadah di sini.”

Seorang ibu yang berada di dekatnya, mengiyakan penjelasan Suherman. Ibu itu mengaku beragama Kristen dan berasal dari Padang.

Melihat kebingungan warga untuk mencari legalitas penolakan itu, Romo Stefan menjelaskan kepada mereka bahwa Misa yang diadakan itu bukan kampanye agama, untuk merekrut pengikut baru.

“Kami hanya bersyukur kepada Tuhan yang kami imani karena Ia menyertai kami selama kegiatan di pulau ini,” katanya.

“Kami juga bersyukur atas anugerah Tuhan karena saudara-saudari di sini begitu ramah kepada kami. Maka kami memohonkan berkat juga bagi pulau ini,” lanjut imam itu.

Dengan penjelasan itu, para utusan warga pun meminta maaf.

Mereka akhirnya saling bersalaman satu sama lain dengan Romo Stefan yang sejak awal pertemuan terlihat selalu mengumbar senyum ramah.

Claudia/Katoliknews

4 COMMENTS

  1. Pertanyaan saya cuman 1, kenapa harus minta maaf jika tujuannya adalah menyebarkan agama katholik, di undang2 bukannya mengakui adanya 5 agama berarti mengakui penyebarannya, jadi seharusnya urusan memilih agama ada di tiap individu bukan diatur oleh orang sekitar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here