Bimas Katolik Bantu Pembanguan Sebuah SMAK di Keuskupan Ruteng

385
Para siswi baru SMAK Santo Peregrinus Laziosi di Mbata, Desa Mokel Mori menyambut pejabat dari Kementerian Agama dengan tarian. (Foto: Floresa.co)

Katoliknews.com – Pembangunan sebuah Sekolah Menengah Atas Katolik (SMAK) di Keuskupan Ruteng – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan dibantu oleh Kementerian Agama melalui Dirjen Bisa Katolik.

Nama sekolah itu adalah SMAK Santo Peregrinus Laziosi yang berada di Kampung Mbata, Desa Mokel Mori, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur (Matim).

Bangunan sekolah itu akan dibangun di lahan yang sudah dihibahkan oleh warga setempat seluas lima hektar.

Sekolah itu dirintis oleh pastor paroki setempat bersama para suster dan mulai aktif tahun ini. Untuk sementara, proses pendidikan masih mengontrak gedung SDI Watu Mengan.

Sebagaimana dilaporkan Floresa.co, pada Jumat, 15 Juli 2016, utusan dari Dirjen Bimas Katolik yang diwakili oleh Fransiskus Endang, Direktur Pendidikan Agama Katolik sudah mendatangi Kampung Mbata, yang disambut warga setempat secara meriah.

Sebelum masuk ke lokasi acara, Fransiskus dijemput secara adat oleh tetua adat, diiringi tarian adat beberapa calon siswa baru bersama beberapa pendidik.

Dalam sambutannya, Fransiskus berharap masyarakat setempat mendukung penuh perjuangan mendirikan sekolah itu.

Ia juga meminta agar para guru dan siswa bisa mengukir prestasi. Ia mencontohkan SMA Katolik Ende yang dalam Ujian Nasional tahun 2016 meraih prestasi juara I Bahasa dan juara V umum untuk kabupaten itu.

Endang, yang saat ke Mbata merasakan sulitnya menempuh perjalanan karena kondisi jalan yang buruk berharap kelak SMAK Mbata melahirkan tokoh-tokoh besar yang memiliki andil untuk memajukan daerah terisolir itu.

“Ada dua perhentian yang kami lalui. Ban pecah dan jalan rusak,” katanya.

Karena itu, ia berharap lulusan sekolah itu nantinya bisa menghadirkan perubahan di daerah itu.

Kasubdit Pendidikan Menengah, Yustina Srimi yang mendampingi Fransiskus mengatakan dalam tahap supervisi, mereka mencocokkan antara data yang tertera pada proposal dengan fakta di lapangan.

“Ada beberapa hal yang belum dilengkapi sekolah, yakni badan hukum yayasan, pernyataan kesanggupan yayasan untuk membiayai operasional sekolah, rekomendasi pemerintah setempat dan sertifikat lahan,” katanya.

“Tinggal melengkapi persyaratan-persyaratan itu aja,” ujar Yustina.

Kepala SMAK Santo Peregrinus Laziosis, Romo Bernadus Palus Pr yakin sekolah tersebut akan diresmikan dalam waktu dekat karena persyaratan-persyaratan yang diwajibkan segera terpenuhi.

Aktivitas di sekolah itu sudah dimulai tahun ini. “Mereka sudah memulai kegiatan belajar mengajar dengan 103 siswa yang dibimbing 12 orang guru yang semua yadigaji oleh Yayasan Pasioniste,” katanya.

Ia mengatakan, SMAK tersebut merupakan kebutuhan Gereja dalam mewujudkan misi menciptakan kader-kader pemimpin Gereja dan masyarakat.

“Orientasinya seperti seminari. Di sana ada pengkaderan untuk menciptakan pemimpin-pemimpin Gereja dan masyarakat,” kata Romo Bernad.

Selain SMAK Mbata, ada dua SMA lain di NTT yang diusulkan untuk mendapatkan izin operasional dari Kementerian Agama. Dua lainnya adalah SMAK Riung di Nagekeo dan SMAK Labuan Bajo di Manggarai Barat.

“Diharapkan tiga SMAK di NTT ini bisa diresmikan pada tanggal 28 Agustus 2016 di Labuan Bajo,” ujar Fransiskus Endang.

Ia mengatakan jika ketiga SMAK tersebut diresmikan, maka jumlah SMAK yang bernaung di bawah Kementerian Agama akan bertambah dari 22 menjadi 25 sekolah, di mana delapan sekolah berada di NTT.

“Selain SMAK, Direktorat Pendidikan Katolik Dirjen Bimas Katolik juga memayungi tiga unit PAUD Taman Seminari dan 22 Perguruan Tinggi Pastoral untuk jenjang S1 dan S3,” katanya.

Edy/Katoliknews

Komentar