Lokakarya Para Rektor Seminari Tinggi: Menjadi Sahabat Para Seminaris

418
Perwakilan dari seminari tinggi diosesan se-Indonesia yang ikut dalam lokakarya di Mojokerto pada 20-23 Juli 2016. (Foto: Redem Kono)

Katoliknews.com – Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) menggelar lokakarya dengan para rektor seminari tinggi diosesan se-Indonesia di Wisma  Aloysius, Pacet- Mojokerto, Jawa Tengah pada 20-23 Juli 2016.

Lokakarya ini dihadiri oleh 12 utusan seminari tinggi diosesan, kecuali Seminari Tinggi Keuskupan Agung Jakarta, Santo Yohanes Paulus II dan Seminari Santo Paulus Kentungan, Yogyakarta.

Dari Komisi Seminari, hadir Romo Siprianus Hormat Pr yang adalah sekertaris, menggantikan ketua komisi, Mgr.Ludovikus Simanullang OFMCap yang berhalangan hadir.

Lokakarya bertema “Cura Personalis: Menjadi sahabat seperjalanan para seminaris” ini merupakan kesempatan berbagi pengalaman, saling belajar, dan menemukan kesepahaman bersama mengenai pendampingan dan pembinaan yang efektif dan berdaya guna bagi para seminaris.

Semangat cura personalis diartikan sebagai semangat untuk hidup bersama para seminaris calon imam sebagai sahabat.

Harapan dari pertemuan ini adalah penetasan, penemuan dan penegasan komitmen para formator untuk menjadi sahabat bagi para seminaris.

Dengan demikian, cura personalis dapat memberikan ruang kepada para formandi untuk mengembangkan diri.

Bimbingan ataupun pembentukan pribadi dapat membantu para formator mengenal diri sendiri dan mengenal formandi.

Romo Sipri membuka lokakarya ini dengan Perayaan Ekaristi, di mana dalam khotbahnya ia berbicara tentang panggilan.

Ia menekankan bahwa Allah bekerja dengan caranya yang khas.  Namun, misteri panggilan Allah, katanya, menuntut sikap kreatif, inovatif, dan aktif untuk menangkap misteri itu.

Mengacu pada bacaan Kitab Yeremia 15:10.16-21 dan Injil Matius 13:44-46,  ia mengatakan, ada dua hal yang bisa dipetik.

Pertama, katanya, Allah dengan caranya sendiri memanggil setiap seminaris untuk terlibat dalam karya pelayanan-Nya.

“Diharapkan para seminaris menjawab panggilan Allah itu dengan khas dan unik, berdasarkan latar belakang mereka masing-masing,” ungkapnya.

Kedua, menurutnya, para formator dapat menjembatani sikap batin para seminaris atas misteri panggilan Allah itu dalam dalam hidup panggilan dan hidup berkomunitas.

“Inilah makna sentral  menjadi sahabat seperjalanan bagi para seminaris”, ujar Romo Sipri.

Romo Siprianus Hormat Pr, Sekertaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). (Foto: Redem Kono)
Romo Siprianus Hormat Pr, Sekertaris Komisi Seminari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI). (Foto: Redem Kono)

Hari pertama kegiatan diawali dengan sharing para peserta tentang pengalaman formasi, terutama mengenai pelbagai strategi atau kebijakan terkait cura personalis yang sudah, sementara dan akan dilaksanakan.

Sharing diantar oleh Romo Sipri yang mengajak para peserta untuk merenungkan cura personalis di seminari tinggi dan kaitannya dengan perkembangan-perkembangan aktual dalam Gereja.

Ia mengingatkan bahwa gerak aktual Gereja universal, seperti yang tertuang dalam Ensiklik Evangelii Gaudium, Ensiklik Laudato Si, Bulla Misericordiae Vultus, Anjuran Apostolik Amoris Laetitia dan gerak Gereja lokal seharusnya mengundang tanggapan yang kreatif, inovatif, dan aktif di seminari tinggi.

Pada hari kedua, para peserta memperoleh masukan dari dua narasumber, yaitu Budhi Sutedja dan Romo Antonius Denny Firmanto.

Keduanya memberi masukan tentang cura personalis dari konteks hidup dan pengalaman masing-masing.

Dengan pengalaman hariannya sebagai awam Katolik, Budhi menyingkapkan beberapa poin penting dalam kaitan dengan perhatian dan pendampingan terhadap keluarga, kelompok kategorial dan lain-lain, terutama kesadaran baru tentang cura personalis.

Sementara itu, Romo Denny Firmanto dalam pengalamannya sebagai Rektor Seminari Tinggi Giovanni Malang membaca cura personalis dengan menggunakan prisma teologi panggilan.

Masukan dari para narasumber itu memperkaya para peserta untuk memahami dan menguatkan komitmen merumuskan cura personalis yang sesuai konteks zaman.

Hari ketiga menunjukkan usaha para formator memikirkan cura personalis secara konkret.  Sharing, refleksi dan masukan dari narasumber direnungkan bersama oleh para peserta.

Para peserta diharapkan dapat mendalami, membandingkan dan merumuskan secara bersama tentang cura personalis yang diharapkan ke depan.

Pada bagian akhir dari tahap ini, para peserta diajak mengajukan poin-poin rekomendasi yang baik untuk diri mereka sendiri, untuk uskup di masing-masing keuskupan, maupun untuk Komisi Seminari KWI.

Hari terakhir dari pertemuan ini diisi dengan membuat rekomendasi-rekomendasi dan rencana kegiatan ke depan.

Ada enam butir rekomendasi penting yang dihasilkan, yakni membakukan pedoman tentang formasi pendampingan, memotivasi dan memberdayakan potensi-potensi dalam diri formandi dengan semangat cura personalis sebagai sahabat seperjalanan, meningkatkan cura personalis baik dalam kehidupan pribadi maupun secara komuniter melalui program-program yang dibuat, mengembangkan program yang dapat mengolah rasa/kepekaan/afeksi dalam diri para formandi, meningkatkan hidup kontemplatif dan asketis, serta meneruskan refleksi akhir semester para seminaris kepada uskup untuk mengenal dan melihat perkembangan formandi.

Selain itu, para peserta merasa perlu adanya pertemuan internal forum rektor seminari tinggi setiap tahun.

Karena itu, forum mengusulkan lokakarya para rektor seminari tinggi se-Indonesia ini dilakukan lagi pada tahun depan di Ambon.

Mengakhiri kegiatan ini, Romo Sipri menyatakan terima kasih atas antusiasme peserta.

“Ini menjadi bukti betapa kita sudah menjadi sahabat seperjalanan para misionaris dalam hidup praktik. Semoga Tuhan selalu memberikan rahmat-Nya bagi kita dalam mendidik dan membina para calon imam kita,” katanya.

Laporan Kontributor, Redem Kono/Katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here