Antonia Rahayu Rosaria Wibowo (26) bersama murid-muridnya di Waghete, pedalaman Papua. (Foto: dok pribadi)

Katoliknews.com – Seusai menuntaskan studi pada Pasca Sarjana Hubungan Internasional Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Antonia Rahayu Rosaria Wibowo (26), tertarik untuk pergi ke Papua sebagai relawan pengajar.

Pergi ke wilayah ujung timur Indonesia itu, bagi Ayu – panggilan akrabnya – merupakan mimpi sejak lama, namun urung dilaksanakan karena terkendala biaya.

Ternyata, Tuhan membukakan jalan baginya.

Lewat bantuan seorang pastor Jesuit yang berkarya di Waghete, Papua, gadis penggemar travelling ini pun bisa berangkat ke Bumi Cenderawasih pada 27 Juni 2014.

Setibanya di Waghete, Ayu langsung disambut udara dingin. Itu tidak menjadi masalah baginya karena ia memang lebih menyukai udara dingin.

“Cuaca yang dingin membuat saya sangat menikmati tinggal di Waghete. Selain itu, sejak lama saya ingin berinteraksi dengan masyarakat dan budaya Papua,” katanya,

“Saya bahagia bisa datang langsung ke sana dan mengenal mereka secara dekat.”

Babak baru kehidupan Ayu pun dimulai dengan menjadi guru kelas 3 SD YPPK  Santo Fransiskus Xaverius, Waghete.

Waghete terletak 250 km dari Nabire ke arah pedalaman, di dekat Danau Tigi.

Ayu ditugaskan mengajar Bahasa Inggris untuk kelas 4 dan 5 SD. Selain itu, ia juga mengajar pelajaran tambahan Bahasa Inggris untuk siswa kelas 3 SMP di SMP YPPK, untuk persiapan ujian nasional.

Murid-muridnya yang berasal dari suku Mae ini terbiasa hidup di alam bebas. Mereka pergi ke sekolah dengan bertelanjang kaki.

Di sekolah pun mereka biasa membuat kegaduhan. Namun, di balik kisah kenakalan mereka, Ayu melihat kebaikan hati murid-muridnya.

“Saat kami berjalan bersama, murid-murid saya selalu menawarkan diri untuk membawakan barang-barang serta memegang tangan saya saat saya kesulitan berjalan di tanah yang licin,” katanya.

“Tangan-tangan kecil mereka tidak akan pernah melepaskan saya, apapun yang terjadi. Mereka selalu memegang saya dengan kuat,” tutur dara kelahiran Semarang, 28 Februari 1989 ini dengan haru.

Seiring waktu yang terus bergulir, teranyam relasi yang indah antara Ayu dan murid-murid kecilnya.

Ia menyebut para muridnya sebagai “jembatan” untuk bisa bergaul dengan masyarakat sekitar. Kemanapun ia melangkah, panggilan ibu guru selalu mengikutinya.

Ayu terkesan dengan semangat belajar murid-muridnya. Mereka selalu datang ke sekolah, meski hujan deras. Bahkan, ada juga murid yang berjalan kaki hingga dua jam untuk bisa sampai ke sekolah.

Berbeda dengan murid di kota yang segalanya disiapkan orang tua mereka,  anak-anak di Waghete mengerjakan semuanya sendiri, mulai dari bangun pagi hingga pergi ke sekolah.

Bahkan, kata Ayu, mereka juga sering melewatkan sarapan pagi karena tidak ada yang menyiapkan.

Ketulusan dan semangat berbagi murid-muridnya seringkali membuat ia meneteskan air mata haru.

“Mereka selalu ada saat saya membutuhkan bantuan. Misalnya, untuk mengantar surat ke rumah teman-teman mereka,” katanya.

“Selain itu saat kami jalan-jalan bersama mereka akan selalu saling mengingatkan untuk menunggu dan menjaga saya. Mereka juga selalu membagi makanan pada teman-teman mereka tanpa diminta,” kisahnya kagum.

Sebagai seorang guru, Ayu merasa prihatin dengan beberapa muridnya yang sulit diatur dan malas belajar. Berbagai metode mengajar dan pendekatan sudah ia coba lakukan, namun tak membuahkan hasil.

Ia juga melakukan kunjungan rumah untuk mencoba berdialog dengan orang tua mengenai kondisi anak mereka di sekolah. Namun, tetap tidak ada perubahan.

Pada akhir tahun ajaran Ayu terpaksa tidak menaikan 11 anak.  Tujuh diantaranya anak laki-laki dengan rapor kosong, karena memang tidak pernah belajar di sekolah.

Mereka ini hanya datang ke sekolah, duduk dan melihat-lihat selama 30 menit lalu keluar lagi dan bermain sampai siang.

“Ini adalah keputusan yang berat, tetapi harus saya lakukan karena dari segi sikap pun anak-anak ini tidak tertolong. Mereka selalu melawan dan mengganggu serta memaki teman-teman dan guru,” katanya.

“Akhirnya, setelah membicarakan kondisi mereka dengan orang tua, saya berani mengambil keputusan ini,” tutur Umat Paroki St Yusuf Ambarawa ini sedih.

Waktu tak terasa begitu cepat berputar menghantar Ayu pada akhir masa tugasnya.

Pada 11 Juni 2015 lalu, ia kembali ke Yogyakarta dengan membawa pengalaman berharga yang tak larut di genangan ingatannya.

Meski hidup di pedalaman, namun murid-murid Ayu memiliki semangat belajar yang tinggi.

Mereka juga sangat menghargai gurunya. Hal inilah yang mendorong Ayu  kembali mengajar di daerah, selain untuk memenuhi hasratnya untuk mengunjungi daerah baru.

Pada Januari 2016, Ayu mulai mengajar di SD Negri Gunung Katun Tanjungan  Kecamatan Tulang Bawang Udik, Kabupaten Tulang Bawang Barat Provinsi Lampung.

Ia menjadi salah satu dari 12 “Pengajar Cerdas,” sebutan untuk pengajar yang mengikuti program Tubaba Cerdas, yang ditempatkan di 12 sekolah di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba).

Ayu bersama murid-muridnya di Lampung. (Foto: dok. pribadi)
Ayu bersama murid-muridnya di Lampung. (Foto: dok. pribadi)

Program ‘Tubaba Cerdas’ adalah program yang diinisiasi oleh Bupati Tulang Bawang Barat, melalui dinas pendidikan untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Tubaba.

Program ini terinspirasi dari gerakan Indonesia Mengajar. Para pengajar Indonesia Mengajar sudah lima tahun mengabdi di Kabupaten Tulang Bawang Barat sehingga sudah saatnya berpindah ke daerah lain di Indonesia.

Karena Pemerintah Daerah Tubaba tidak ingin program pendidikan ini putus begitu saja, maka diinisiasilah program bertajuk Tubaba Cerdas ini.

Program Tubaba Cerdas diadakan mulai tahun 2016. Ayu mendapat tugas mengajar selama satu tahun yaitu dari Januari- Desember 2016.

Ayu diminta mengajar pelajaran IPA untuk kelas 1 sampai kelas 6 SD.

“Saya mengajak murid-murid melakukan percobaan sederhana untuk mempermudah mereka menerima konsep IPA. Saya menggunakan metode mengajar yang kreatif dan menyenangkan,” katanya.

“Saya juga senang mendengar cerita mereka dan bermain bersama mereka. Lewat cerita-cerita itu saya bisa mengenal murid-murid saya lebih dekat,  memotivasi,  serta memberi mereka nasehat saat mereka melakukan kesalahan,” lanjutnya.

Ia berharap, murid-muridnyaa menjadi generasi muda yang baik yang dimiliki bangsa ini.

Mengajar sambil menjelajah negeri, itulah kebahagiaan batin yang dialami putri sulung pasangan Bowo Wurjanto dan Precila Endang Widyastuti Hardani ini.

Tak hanya itu, ia juga belajar mengenai budaya masyarakat setempat seperti bahasa daerah dan cara makan tradisional Lampung yaitu nyeruit.

“Saya tidak hanya mengajarkan pelajaran di sekolah, tapi juga ‘belajar’ bersama anak-anak dan masyarakat di tempat ini,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam menjalankan tugas, ia juga dibantu oleh penduduk desa.

“Saya belajar hidup sederhana dari masyarakat desa yang mayoritas berprofesi sebagai penderes karet dan nelayan,” kisah gadis yang suka menulis ini.

Ketika ditanya apa pelajaran hidup yang didapatnya selama  mengajar di daerah,  ia berujar “Saya menjadi orang yang lebih bersyukur karena ternyata masih ada orang-orang lain yang hidup dalam suasana yang penuh kesederhanaan dan selaras dengan alam,” katanya.

“Saya juga menjadi makin menjaga alam sebab saya sadar semua ciptaan Tuhan baik alam dan manusia hidup saling membutuhkan.”

Ivonne Suryanto/Katoliknews

Komentar