Yenny Wahid. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Survei yang dilakukan Wahid Foundation dan Lembaga Survei Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia masih rawan dengan intoleransi dan radikalisme.

Menurut survei itu dengan 1.520 orang responden, 7,7 persen berpotensi melakukan tindakan radikal dan 0,4 persennya mengaku sudah pernah terlibat, seperti menyerang rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukan sweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

Responden survei ini adalah umat Muslim usia 17 tahun atau sudah menikah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation mengatakan, hasil survei ini mencemaskan.

Pasalnya, dengan jumlah 150 juta umat Islam Indonesia, maka terdapat sekitar 11 juta umat Islam yang berpotensi radikal.

“Itu sama dengan jumlah umat Islam di Jakarta dan Bali,” tutur Yenny saat peluncuran hasil survei itu di Bogor, pada Senin, 1 Agustus 2016.

Apalagi, kata dia, dari total responden, sebanyak 59,9 persen memiliki kelompok yang dibenci, yakni mereka yang beragama nonmuslim, kelompok Tionghoa, hingga kaum komunis.

Kemudian, dari jumlah 59,9 persen itu, kata Yenny, sebanyak 92,2 persen tak setuju bila anggota kelompok yang mereka benci menjadi pejabat pemerintah.

Lalu sebanyak 82,4 persen tak rela anggota kelompok yang dibenci itu menjadi tetangga mereka.

Meski demikian, masih ada fakta menggembirakan, di mana 67,3 persen responden mendukung pemberlakuan sistem demokrasi  dan 82,3 persen menyatakan dukungannya kepada Pancasila dan UUD 1945.

“Itu artinya kita tetap memiliki peluang untuk mempertahankan dan terus menyebarkan toleransi kepada umat Islam Indonesia,” ujarnya.

Yenny menyimpulkan, selain ideologi, penyebab terjadinya intoleransi dan radikalisme di tubuh umat Islam Indonesia adalah faktor ekonomi dan sosial.

Survei ini digelar sejak 30 Maret hingga 9 April 2016. Pengumpulan datanya menggunakan metode random sampling dengan margin error sebesar 2,6 persen dan tingkat keyakinan 95 persen.

Roby Sukur/katoliknews

Komentar