Tommi Legowo. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Sebagai seorang peneliti, pengamat, juga aktivis yang memilih terjun dalam dunia politik, Thomas Aquino Legowo – yang akrab disapa Tommi -, juga mendedikasikan dirinya bagi Gereja Katolik.

Kesan demikian terungkap dalam buku “Peneliti Sejati, Pejuang Demokrasi,” yang ditulis rekan kerja, keluarga dan para sahabat Tommi.

Buku itu yang ditulis khusus untuk mengenang 100 hari kepergian Tommi, yang meninggal dunia pada 29 Maret 2016 diluncurkan pada 24 Juli 2016 lalu di Kolese Kanisius Jakarta.

Dunia Penelitian

Kiprah Tommi dalam dunia penelitian bermula saat ia bergabung dengan Centre for Strategic and International Studies (CSIS), pada 1984-2007.

CSIS merupakan lembaga think tank yang sudah eksis sejak era orde baru.

Karir di lembaga itu dirintis Tommi sejak ia menyelesaiakan pendidikan S1 di Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Dalam perjalanan waktu, di tengah tugasnya, lulusan Kolese de Britto, Yogyakarta itu juga melanjutkan studi S2 di Essex University Inggris dan S3 di Universitas Indonesia.

Salah satu karya besar Tommi adalah dengan ikut mendirikan Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia (Formappi) pada 2001.

Di sela-sela tugasnya sebagai peneliti, Tommi juga pernah menjadi staf ahli anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) RI bidang hukum dan HAM.

Untuk Gereja

Tommi –  yang meninggal saat usia 57 tahun –  tidak hanya berkarya untuk negara.

Ia juga menyediakan waktu untuk membantu karya Gereja, dengan bergabung di Komisi Kerasulan Awam Konferensi Waligereja Indonesia pada 1998-2004.

“Dia salah satu orang yang membantu perumusan sejumlah surat gembala KWI yang berkaitan dengan isu sosial politik,” kata A Margana, salah satu tokoh Katolik saat peluncuran buku “Peneliti Sejati, Pejuang Demokrasi.”

Ia menyebut Tommi sebagai sosok yang aktif membantu mencari jalan agar Gereja bisa ikut terlibat dalam dunia politik.

“Tommi seorang peneliti, ilmuwan dan pegiat di bidang sosial politik dan demokratisasi. Ia agaknya belajar dari Santo Thomas Aqunas, nama babtisnya. Santo Thomas tidak terjun ke arena politik praktis, tetapi tetap setia menekuni penelitian dan penulisan masalah sosial politik. Ia juga orang yang mempertegas posisi Gereja dalam bidang politik,” kata Margana, yang adalah editor buku itu.

Mgr Yustinus Harjosusanto, Uskup Agung Samarinda yang pernah menjadi Ketua Komisi Kerawam KWI juga punya kesan khusus tentang pribadi Legowo.

Ia menyebut Legowo sebagai pribadi yang sederhana, tenang, optimis, dan reflektif.

“Sejak awal perjumpaan, yaitu di awal tahun 2009, saya sudah terkesan dengan pribadinya. Ia sederhana, bukan hanya dalam soal penampilan, melainkan dalam seluruh gaya, kata-kata, dan tindakannya,” kata Mgr Yustinus.

Sementara itu, Sebastian Salang, Kordinator Formappi menyebut Tommi telah meninggalakan sejarah dan karya.

“Ia juga meninggalkan semangat bagi saya dan teman-teman untuk terus berjuang. Kecintaannya pada negeri ini dan Gereja sangat besar. Ia selalu meyakinkan saya bahwa tidak ada perjuangan yang tak ternilai, tidak ada harapan yang sia-sia,” katanya.

Romo Edy Purwanto Pr, Sekjen KWI mengatakan, selain menjadi guru, Legowo juga menjadi sahabat bagi para hirarki.

“Ia telah ikut hadir dalam pelayanan Gereja, termasuk lewat KWI,” jelasnya.

“Ketika Komisi Kerawam KWI berjuang keras menetapkan jati dirinya sebagai komisi yang akan fokus pada karya sosial kemasyarakatan dan sosial politik, Tommi memberikan banyak sumbangan tulisan dan pemikiran yang bernas,” katanya.

Yohanes Trisno/Katoliknews

Komentar