Ahmad (7) tidur di trotoar di perbatasan Hungaria dan Austria. Ia melarikan diri dari rumahnya di Idlib, Suriah ketika sebuah bom menghantam rumah keluarganya. Kepalanya sempat terluka karena kena pecahan benda akibat ledakan bom, sementara adiknya meninggal. Bersama keluarganya, Ahmad terpaksa mengungsi dari Suriah di mana mereka kemudian melewati hari di jalan dan di dalam hutan. (Foto: Magnus Wenneman/Dailymail.co.uk)

Katoliknews.com – Paus Fransiskus mengatakan, “sangat sulit menerima” bahwa warga biasa, termasuk anak-anak harus menjadi korban dalam perang sipil di Suriah yang saat ini memasuki tahun keenam.

Hal ini ia sampaikan dalam khotbah setelah Doa Angelus, Minggu, 7 Agustus 2016 kepada umat Katolik yang berkumpul di Basilika St Petrus, Vatikan.

Paus merujuk pada pertempuran pada Sabtu, yang sudah meletus di bagian utara kota Allepo antara pasukan pemberontak dan pendukung Presiden Suriah, Bashar Assad.

Menurut PBB, sekira 300 ribu orang terjebak di antara perang kedua pihak yang berseteru sejak 2011 itu.

“Sangat tidak bisa diterima, banyak orang-orang tidak berdosa, termasuk anak-anak, harus membayar harga akibat konflik, harga akibat tertutupnya hati nurani dan keinginan untuk perdamaian oleh kekuatan tempur,” ujar Paus, seperti dilansir Time.com, Senin, 8 Agustus.

Ini kali kedua Bapa Suci menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi di Suriah.

Pada Mei 2016, ia mengecam keras perang di Aleppo setelah serangan udara menewaskan puluhan orang, termasuk anak-anak.

Edy/Katoliknews

Komentar