Romo Stefan Kelen Pr

Oleh: Romo Stefan Kelen Pr, Pemimpin Redaksi Katoliknews.com

Semalam, saya memimpin Misa arwah untuk seorang umat di Paroki St Bernadeth, Ciledug. Misa itu diadakan di Kapel Susteran Sang Timur, Karang Tengah.

Paroki St Bernadeth merupakan salah satu paroki di Keuskupan Agung Jakarta yang belum mempunyai Gereja. Selama ini, pada setiap Minggu, belasan ribu umat di paroki itu masih Misa di “Gereja Tenda” karena izin pendirian Gereja belum terbit, lantaran masih diprotes warga.

Setelah Misa itu, saya pulang ke tempat tinggal saya.

Karena gaung HUT Kemerdekaan RI ke-71 begitu menyentuh di sanubari, saya masih sempat duduk ngobrol dengan beberapa satpam, tukang ojek dan kawanan kaki lima lainnya di sebuah kedai kopi.

Realitas kaki lima ini menarik. Sebab, ketika gedung jangkung menjadi incaran warga metropolis, pada saat yang sama, kaki lima yang bertampang kumuh itu tetap menunjukkan reputasi sosialnya.

Saya mempunyai alasan untuk mengkonstruksikan asumsi ini secara induktif. Alasan itu terungkap dalam percakapan antara satpam, tukang ojek, tukang tambal ban dan kawanan kaki lima lainnya, Selasa malam, 16 Agustus.

Percakapan di antara “kawanan kaki lima” itu sangat menarik. Mereka seolah-olah sedang mendiskusikan dimensi ontologis dari kemerdekaan.

Pertanyaan yang mengemuka dalam diskusi itu adalah, “apa hakekat kemederkaan bagimu?”

Jawaban atas pertanyaan itu pun begitu bervariasi.

Namun, ada satu jawaban menarik dari salah seorang satpam.

Ia mengatakan, kemerdekaan adalah situasi ketika penjajahnya tidak kelihatan lagi. Berarti sang satpam itu mempunyai pemikiran lain bahwa di negara yang belum merdeka, penjajahnya masih kelihatan.

Saya mencoba mengkorelasikan “penjajah yang tidak kelihatan dan penjajah yang kelihatan” dengan pandangan Erving Goffman tentang dramaturgis.

Goffman menyebut bahwa interaksi simbolik dalam kehidupan sosial terkomunikasikan dalam panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage).

Jika kita mengacu pada jawaban satpam itu, maka secara dramaturgis penjajah yang tidak kelihatan berada di panggung belakang, sedangkan penjajah yang kelihatan tentu saja berada di panggung depan.

Lalu apakah kemerdekaan berarti saatnya para penjajah menjadi sutradara karena berada di panggung belakang?

Lalu apakah sutradara di panggung belakang ini sedang mengkonstruksikan skenario magnificat (kidung pujian) bagi masyakarat kaki lima atau sedang menyusun strategi bagaimana membagi lima roti dan dua ekor ikan yang sudah diperbanyak oleh penyelamat pada masa lalu kepada satu atau dua orang?

Saya tidak mau terjebak dengan pertanyaan ini. Sebab oleh iman, saya lebih diyakinkan pada Injil Hari Raya Maria Diangkat ke Surga yang dirayakan Gereja Katolik, Minggu 14 Agustus lalu.

Sebagaimana kita tahu, Injil Minggu itu berisikan Kidung Pujian (Magnificat).

Dalam kidung itu, Maria memperlihatkan ada dua wilayah stratifikasi sosial. Ada yang berkategori tajir, ada yang miskin.

Dalam kidung itu, Maria juga mem-framing stratifikasi sosial dalam kategori, di mana ada pihak yang ditinggikan, dan ada kawanan yang direndahkan.

Menariknya, yang dimuliakan dan ditinggikan dalam konteks kidung ini adalah mereka yang direndahkan atau yang dapat direndahkan.

Setelah membaca Injil Kidung Pujian Maria itu di mimbar sabda Gereja St Polikarpus Grogol, Jakarta, saya pun berpikir lebih jauh lagi.

Saya berpikir, jangan-jangan Kidung Maria ini menjadi salah satu premis dan inspirasi bagi Goffman untuk mengkategorikan stigma?

Seperti yang kita tahu, Goffman memilah dua kategori stigma menjadi: orang yang direndahkan (discredited stigma) dan orang yang dapat direndahkan(discreditable stigma).

Stigma menurut Goffman, tidak selalu merupakan realitas, karena terkadang hanya berisi stereotip. Percaya tidak percaya, ada fenomena yang memperlihatkan stereotip dalam struktur sosial kita, yakni ada golongan yang direndahkan sebagai “subordinat” dari agama.

Pasalnya, harus ada izin setiap kali mau mendirikan rumah untuk beribadah dan berdoa.

Ada istilah yang khas untuk “kawanan kaki lima” dalam agama ini.

Di depan Gereja Damai Kristus, ada tulisan spanduk yang berisi “Gereja Ilegal.”

Siapakah konstruktor hegemoni stigma itu? Belum terungkap. Berarti sutradaranya tidak kelihatan.

Stigma ini tidak mengganggu aktifitas religious di Gereja Damai Kristus yang digembalakan para romo ordo MSC itu.

Media ini pernah melansirkan berita tentang koteks itu. “Permulaan paroki Pekan Suci di Paroki Damai Kristus Kampung Duri, Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) diwarnai oleh penolakan sejumlah orang yang mengaku terusik oleh atribut daun palma di depan Gereja,” tulis Katoliknews.com pada tanggal 20 Maret 2016.

Sedangkan di St Bernadeth Ciledug, stigma sosial tidak berpengaruh pada kemerosotan iman.

Liturgi hari Minggu di “Gereja Tenda” itu sungguh-sungguh ditandai oleh antusiasme iman yang diinteraksikan secara simbolik dalam koor yang indah dan perayaan yang sakral.

Juga, setiap kali Misa seribu lebih kursi yang disiapkan selalu terisi, bahkan masih ratusan umat lain masih kelihatan berdiri.

Itulah yang terlihat dalam Misa Minggu, beberapa pekan yang lalu.

Dalam situasi seperti itu, Keuskupan Agung Jakarta tetap tampil sebagai Gembala Baik dan Murah Hati.

Dalam semangat kegembalaan dan kemurahan hati, Gereja tetap mengajak umatnya untuk menjunjung tinggi Pancasila dan melaksanakannya dalam hidup sehari-hari sebagai anak bangsa.

Sehingga siapapun konstruktor stigma, baik yang kelihatan di depan panggung maupun yang tidak kelihatan karena di belakang panggung, mereka tetaplah sesama dan saudara kita.

Mereka bukan musuh kita, tetapi mereka harus didoakan supaya semangat pluralisme dimaknai dalam kasih, bukan dihegemonikan sebagai drama kebencian.

Drama kebencian tidak melahirkan harmoni, justeru mendistorsi kemerdekaan.

Kemerdekaan yang terdistorsi tidak akan sanggup memberikan panggung untuk pentas kebencian pada minoritas, karena Gembala Yang Maha Murah akan mengangkat kaum yang direndahkan.

Mari kita memuliakan harmoni dan damai, lantas meninggalkan kebencian.

Kemerdekaan sesungguhnya adalah situasi ketika tidak ada lagi hegemoni kebencian, baik yang dilakukan oleh aktor yang kelihatan maupun sutradara yang tidak kelihatan.

Komentar