Administrator Keuskupan Agung Semarang, Romo F.X Sukendar Wignyosumarta Pr

Katoliknews.com – Menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-71, 17 Agustus 2016, Keuskupan Agung Semarang menerbitkan Surat Gembala yang isinya meminta umat Katolik ikut terlibat dalam proses pembangunan.

Dalam surat itu, yang terbit pada 8 Agustus, dinyatakan bahwa, meski Indonesia sudah merdeka, namun, hingga kini masih banyak persoalan bangsa yang belum bisa diurai tuntas.

“Selain persoalan ekonomi, politik, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pembangunan daerah-daerah pinggiran, ada persoalan moralitas kehidupan dan kemanusiaan,” demikian menurut surat tersebut yang ditulis Administratur Diosesan KAS Romo F.X. Sukendar Wignyosumarta.

“Kasus-kasus korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, pornografi, perdagangan manusia, narkoba dan ketidaksetiaan dalam rumah tangga, masih terus terjadi.”

Untuk mengatasi persoalan-persoalan itu, berbagai tindakan konkret dalam rangka mendukung dan mengembangkan semangat cinta Tanah Air perlu disusun serta diagendakan secara terencana dan terukur.

Sebanyak lima poin disampaikan Romo Sukendar dalam Surat Gembala itu, yakni menyangkut kesejahteraan rakyat, pengembangan hidup bermartabat, menyatakan semangat iman kepada Allah yang satu, menjadi warga negara yang terlibat, dan mengisi setiap momentum dengan kegiatan positif.

Upaya mewujudkan pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, kata dia, berlaku adil dan benar dalam membuat regulasi kebijakan dan pengadilan serta mengentaskan mereka dari kemiskinan perlu menjadi penegasan setiap pribadi.

Moralitas bangsa, menurut dia akan makin maju bila didukung dengan penghargaan martabat manusia yang dari generasi ke generasi perlu diajarkan, sedangkan berbagai tindakan yang merendahkan martabat pribadi perlu diganti dengan menghormati setiap pribadi dimulai dari habitus baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar.

Ia menjelaskan upaya menyatakan semangat iman kepada Allah yang satu perlu terwujud diawali dari semangat Bhinneka Tunggal Ika.

“Kita kukuhkan Indonesia yang satu. Satu hati, satu bahasa, satu pengharapan, satu Tuhan Yang Esa bagi semua. Meski berbeda agama, ras, dan suku budaya, kita adalah umat yang satu dan sama di hadapan Allah Yang Esa,” katanya.

Romo Sukendar juga mengajak umat untuk memanjatkan doa setiap tanggal 17 dalam bulan, selama sembilan kali, mulai 17 Agustus 2016 hingga 17 April 2017, sebagai ujud doa bersama bagi bangsa dan Tanah Air.

Terkait dengan rencana Pemilihan Kepala Daerah 2017 di sejumlah daerah di Provinsi Jateng dan D.I. Yogyakarta, KAS mendorong umat Katolik ikut dalam proses mewujudnyatakan perubahan, pembaruan, dan kemajuan dengan mendampingi serta mengawal jalannya pesta demokrasi tersebut agar berjalan dalam “rel kebenaran”.

Ia menjelaskan bahwa keberanian terlibat dalam tugas penyelenggaraan pilkada di setiap tingkatan maupun sebagai pengawas dalam Bawaslu, akan menghasilkan produk pemilihan yang bermutu.

“Saya berharap umat Katolik KAS akan dapat menjadi pemilih yang cerdas dan aktif terlibat di dalam prosesnya,” ujarnya.

Ia mengharapkan “Bulan Kemerdekaan” sekaligus sebagai Bulan Ajaran Sosial Gereja itu menjadi kesempatan umat untuk kiprah kebangsaan dan kegiatan bersama masyarakat, seperti upacara bendera, tirakatan kemerdekaan, dialog atau sarasehan kebangsaan, ataupun tindakan sosial kemasyarakatan lainnya, sedangkan kegiatan kreatif dan melibatkan masyarakat akan memberikan daya ubah yang berguna bagi bangsa dan negara.

Pada kesempatan itu, dia juga mengemukakan bahwa hingga saat ini bangsa Indonesia masih mengalami hambatan kemerdekaan sejati karena berbagai persoalan yang belum bisa diurai secara tuntas.

“Selain persoalan ekonomi, politik, tenaga kerja, pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, dan pembangunan daerah-daerah pinggiran, ada persoalan moralitas kehidupan dan kemanusiaan. Kasus-kasus korupsi, kemiskinan, ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, pornografi, perdagangan manusia, narkoba, dan ketidaksetiaan dalam rumah tangga masih terus terjadi,” katanya.

Surat Gembala tersebut dibacakan sebagai pengganti kotbah di berbagai gereja KAS pada Misa bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, 13-14 Agustus 2016.

Edy/Katoliknews

Komentar