Ilustrasi. (Foto: Ist)

Katoliknews.com –  Sejumlah perwakilan tarekat dan kongregasi yang menganut spiritualitas Fransiskan mulai menggelar rapat kerja tahunan di Wisma St. Maria Guadalupe, Duren Sawit, Jakarta Timur pada hari ini, Jumat, 19 Agustus 2016.

Rapat itu yang akan berakhir pada 25 Agustus membahas khusus tentang korupsi, di bawah tema “Memberantas Korupsi: Tanggung Jawab Demi Keadilan dan Iman.”

Para peserta adalah Fransiskan dan Fransiskanes yang berkarya pada Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) masing-masing tarekat. Mereka tergabung dalam wadah yang disebut Intern Franciscan For JPIC (Info JPIC).

Ada 17 JPIC tarekat dan kongregasi yang mengirim perwakilan tahun ini, yakni JPIC-OFM Indonesia, JPIC-OFM Papua, JPIC-OFMCap Medan, JPIC-OFMCap Sibolaga, JPIC-OFMConv, JPIC-FMM, JPIC-FSGM, JPIC-DSY, JPIC-KSFL, JPIC-KFS, JPIC-FSE, JPIC-FCH, JPIC-SFD, JPIC-SMFA, JPIC-OSF, JPIC-MTB, Perwaklian dari OFS, dan JPIC Keuskupan Banjarmasin yang hadir sebagai undangan.

Pastor Peter C Aman OFM, Direktur JPIC-OFM Indonesia, ketua penyelenggara rapat kerja tahun ini mengatakan, selama kegiatan akan diundang para pembicara dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Indonesia Corruption Watch (ICW) Tax Amnesty dan dari Transparansi Internasional Indonesia (TII).

“Dengan mengundang empat pembicara dari lembaga yang berbeda, diharapkan para peserta dapat memperoleh banyak informasi mengenai korupsi dan bagaimana menangani kasus korupsi yang bisa saja terjadi di tempat para saudara dan saudari berkarya,” katanya, Jumat, 19 Agustus.

Pemilihan tema ini, menurut dia, juga dipicu oleh fakta bahwa di Indonesia kasus korupsi merajalela dan mengorbankan banyak orang, terutama kelompok miskin.

Paus Fransiskus, lanjutnya, mengajak semua orang untuk menolak segala bentuk tindakan korupsi yang merampas hak-hak orang miskin dan terutama sumber daya alam yang mereka miliki.

“Korupsi sumber alam selalu menciderai rasa keadilan masyarakat di mana selalu terjadi masyarakat kecil dikorbankan dan harus kehilangan tanah, mata pencaharian dan kehancuran sistem budaya serta sosial kemasyarakatan,” katanya.

Charles/Edy/Katoliknews

Komentar