Katoliknews.com – Enam uskup yang tergabung dalam Komite Eksekutif Federasi Konferensi Uskup Katolik se-Oseania menggelar pertemuan terkait niat Papua bergabung dengan Melanesian Spearhead Group (MSG), di Port Moresby, Papua Nugini, pada  Senin, 22 Agustus 2016 lalu.

Uskup-uskup itu adalah Uskup Agung Port Moresby, John Ribat MSC;  Uskup Parramatta, Vincent Long OFM Conv; Uskup Toowoomba, Robert McGuckin; Uskup Palmerston North, Charles Drennan; Uskup Noumea, Michel Calvet SM,  dan Uskup Port Billa, John Bosco Baremes SM.

Mereka berasal dari Australia, Selandia Baru, Papua Nugini, Kepulauan Solomon dan CEPAC.

Sebagaimana dilansir dari Catholicoutlook.org, mereka  berkumpul untuk menyerukan kepada  pemerintah  negara mana pun  agar tidak menghambat keinginan rakyat Papua untuk bergabung dengan Melanesian Spearhead Group (MSG).

“Menghalangi partisipasi rakyat Papua di MSG adalah luka di sisi semua rakyat Melanesia. Untuk Papua (Barat), MSG adalah tempat alami kolaborasi dan potensi sumber pemahaman  yang lebih dalam,” kata para Uskup tersebut.

Menurut mereka, rakyat Papua mencari apa yang dicari oleh setiap keluarga dan kebudayaan, yakni penghormatan terhadap martabat pribadi dan komunal, kebebasan berekspresi bagi aspirasi individu serta hubungan bertetangga yang baik.

“Batas politik tidak pernah dapat membatasi atau mengontrol hubungan etnis dan kami mendesak pemerintah untuk mendukung keinginan rakyat Papua (Barat) untuk berpartisipasi penuh dalam Melanesian Spearhead Group (MSG),” kata mereka.

Oseania (Oceania) adalah istilah yang mengacu kepada suatu wilayah geografis atau geopolitis yang terdiri dari sejumlah kepulauan yang terletak di Samudra Pasifik dan sekitarnya, termasuk wilayah Indonesia Timur seperti Maluku dan Papua Barat.

Sejak tahun 2014 lalu,  salah satu organisasi yang ada di Papua, United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) telah berupaya untuk diterima di MSG, sebagai perwakilan dari rakyat Melanesia di Papua.

Pertengahan Juli lalu, aplikasi ULMWP untuk menjadi anggota penuh MSG ditunda, dengan alasan masih perlu adanya penyempurnaan kriteria keanggotaan MSG.

Hingga saat ini, Pemerintah Indonesia tidak menyetujui ULMWP menjadi penghubung masyarakat Papua Barat dengan MSG, karena sejak berdirinya, ULMWP telah dianggap sebagai kelompok separatis yang membahayakan persatuan bangsa Indonesia sendiri.

Yohanes Trisno/Katoliknews

Komentar