Oleh: Fr Charles Talu OFM, staf pada Komisi JPIC-OFM Indonesia

Masa Liturgi baru dalam Gereja Katolik, yaitu Masa Penciptaan telah di mulai pada hari ini, 1 September dan puncaknya pada Perayaan Pesta St. Fransiskus dari Asisi, 4 Oktober.

Hal ini telah dimulai setahun yang lalu, di mana Paus Fransiskus mengajak semua umat beriman untuk berpartisipasi dalam pemeliharaan ciptaan.

“Sebagai orang Kristen kita berharap untuk dapat memberi sumbangan kita terhadap upaya mengatasi krisis ekologi yang dihadapi oleh umat manusia saat ini,” tulis Paus Fransiskus dalam surat bertanggal 6 Agustus 2015 yang lalu.

Telah sekian lama dalam liturgi Gereja Katolik, ciptaan yang lain tidak mendapat tempat dalam karya keselamatan Kristus. Dengan diumumkannya masa liturgi ini, ciptaan lain kini mendapat tempat. Hal ini sebenarnya sudah ada dalam khazanah pemikiran dan kehidupan spiritualitas Fransiskan yang diwariskan St. Fransiskus dan para pengikutnya, salah satunya Beato Yohanes Duns Scotus.

Fransiskus Asisi dan Pemeliharaan Ciptaan

Penetapan Masa penciptaan dengan puncak pada perayaan Pesta St. Fransiskus Asisi segera langsung dapat dimengerti mengingat semangat St. Fransiskus yang menjadi inspirasi dalam berelasi dengan ciptaan.

St. Fransiskus melihat seluruh ciptaan sebagai saudara dan saudari, yang darinya ia menemukan kemuliaan Allah dan bersama mereka ia dapat memuji dan memuliakan Allah. Dalam Kidung Saudara Matahari, terungkap dengan jelas keyakinan Fransiskus. Melalui ciptaan ia menemukan Allah dan karena ciptaan itu ia mampu memuji dan memuliakan Allah. “Terpujilah Engkau Tuhanku, karena saudara Matahari ……”

Melalui ciptaan, Fransiskus menjumpai Allah yang Maha Kasih dan mau merendahkan diri dalam diri Yesus Kristus yang turun serendah-rendahnya melalui tiga tiang perendahan diri, yaitu peristiwa inkarnasi, salib dan Ekaristi. Perendahan diri Allah ini bagi Fransiskus adalah untuk semua ciptaan, manusia dan seluruh ciptaan yang lain. Refleksi ini kemudian dihidupi dan dikonfrontasikan oleh para pengikutnya, salah satunya Yohanes Duns Scotus dengan pemikiran teologis pada masanya.

Inkarnasi Menurut Yohanes Duns Scotus

Yohanes Duns Scotus (1265/1266-1308) adalah seorang teolog abad pertengahan (teolog skolastik). Arus filsafat pada masa itu sangat dipengaruhi filsafat Aristoteles. Filsafat Aristoteles digunakan untuk memahami dan menjelaskan teologi, agar iman dapat dipertanggung jawabkan secara rasional. Filsafat aristotelian berusaha mendefinisikan segala sesuatu dan mencari hubungan kausalitas antar realitas. Selain itu teologi juga dipengaruhi oleh pemikiran Agustinus, Avichena, dan tradisi sistersian serta tradisi fransiskan. Scotus sangat dipengaruhi oleh aliran filsafat dan teologi tersebut.

Dalam pembicaraan mengenai inkarnasi, Scotus mencoba memahaminya dengan latar belakang pemikiran di atas sambil mengkritisi pemikiran teolog sebelumnya, seperti Anselmus, Aquinas, dan Bonaventura. Dengan kerangka filsafat Aristoteles, para teolog abad pertengahan umumnya melihat peristiwa inkarnasi dalam hubungannya dengan dosa manusia. Anselmus mencoba menjawab pertanyaan filosofis, Cur Deus Homo?Menurut Anselmus, Allah menjadi manusia (inkarnasi) sebagai silih atas dosa manusia.

Manusia tidak bisa membayar utang dosanya yang telah melukai Allah yang Mahatinggi. Karena itu, yang dapat membayar adalah manusia yang sekaligus Allah. Karya penyelamatan dimengerti sebagai penebusan dari dosa manusia. Demikian juga oleh Thomas Aquinas, inkarnasi dipahami sebagai jalan untuk memulihkan dan menebus apa yang telah dirusakkan oleh manusia. Tata rahmat,  yang ada di balik inkarnasi, dipahami dalam kaitannya dengan jatuhnya manusia ke dalam dosa.

Seandainya manusia tidak berdosa, apakah Allah tetap menjadi manusia? Tesis Anselmus dan Aquinas tidak cukup memadai untuk menjawab pertanyaan ini. Scotus menempatkan inkarnasi dalam hubungannya dengan kebebasan dan kasih Allah. Allah, dalam kebebasan dan kasih-Nya, mengundang manusia dan segenap ciptaan untuk tinggal dengan-Nya, dalam suatu situasi persatuan dan kebersamaan dalam kemuliaan Allah. Inilah yang menjadi dasar paham inkarnasi Scotus. Allah telah merencanakan inkarnasi Sang Sabda, sebagai puncak segenap ciptaan, untuk dibawa kembali dalam persatuan dengan Allah.

Dosa merupakan hambatan dari pihak manusia untuk mencapai hal ini, maka Allah dalam inkarnasi-Nya  menyembuhkan  manusia  agar ia bisa mengarahkan kembali tujuan hidupnya pada Allah, yang semakin nyata dalam peristiwa inkarnasi. Scotus memisahkan  dosa dari maksud  Allah untuk menyempurnakan ciptaan. Tujuan utama inkarnasi  menurut Scotus adalah penyempurnaan seluruh ciptaan, bukan untuk menebus dosa. Segala sesuatu  memiliki arti dan nilai karena oleh Allah telah direncanakan untuk dipersatukan dalam kemuliaan-Nya. Inkarnasi berarti tidak hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh ciptaan. Inkarnasi mempunyai makna universal.

Scotus  mengajak  orang beriman untuk menempatkan segala sesuatu sebagai yang memiliki nilai dalam dirinya sendiri karena relasi mereka dengan Allah. Setiap ciptaan memiliki haeceitas, yang menyebabkannya mempunyai nilai yang istimewa dan unik dari dan di hadapan Allah. Scotus kemudian melihat relasi antar ciptaan dari perspektif inkarnasi, berlandaskan pada kasih Allah. Allah dalam diri Kristus hadir dalam seluruh ciptaan-Nya untuk mengangkat segenap ciptaan dalam kemuliaan-Nya. Kasih Allah kepada manusia sangat tampak dengan inkarnasi Putra-Nya dalam diri Sang Sabda.

Inkarnasi bukanlah tanggapan Allah atas dosa manusia, tetapi merupakan sapaan Allah untuk memanggil dan mengangkat manusia pada kemuliaan yang tertinggi melalui pribadi ilahi Kristus yang menjadi manusia. Kristus adalah yang utama dari segala ciptaan – tidak berarti bahwa Kristus adalah ciptaan pertama – karena Dia telah hadir saat Allah menciptakan dan telah dikehendaki Allah sejak semula untuk menyempurnakan segala ciptaan melalui kehadiran-Nya di dunia.

Manusia, sebagai partner Allah dalam ciptaan, melalui peristiwa Yesus dipanggil untuk melanjutkan karya Allah dalam ongoing co creation dan co-redemption. Pandangan ini berciri teosentris dan sekaligus kristosentris. Segala sesuatu diciptakan dan ditransformasikan dalam Yesus dan memiliki nilai dalam diri mereka sendiri karena merupakan pengungkapan diri Allah sendiri.

Pemikiran ini menjadi sangat relevan dewasa ini. Kita manusia, tidak melulu mendoakan keselamatan diri kita tanpa mendoakan keselamatan seluruh ciptaan. Semoga pada masa penciptaan yang berlangsung selama empat Minggu ini, kita semua semakin sadar akan tugas kita untuk memlihara segenap ciptaan karena peristiwa inkarnasi Tuhan Yesus sendiri. Dia mengajak kita semua untuk menghantar seluruh ciptaan masuk dalam kemuliaan-Nya.

Tulisan ini juga dimuat di situs JPIC-OFM Indonesia dengan judul Teologi Fransiskan: Kristus untuk Semua Ciptaan  

Komentar