Pastor Agatho Elsener OFMCap. (Foto: .bsb-agatho.org)

Katoliknews.com – Tahun 1960, dua tahun setelah ditahbiskan menjadi imam, Pastor Agatho Elsener OFMCap diutus ke Indonesia oleh pimpinannya dan mendapat tugas di Sanggau, Kalimantan Barat.

Sebagai imam baru, ia digambarkan melayani umat dengan penuh sukacita.

Kecintaannya pada Indonesia, membuat ia mengubah kewarganegaraannya pada 1983.

Setelah berkarya puluhan tahun di Indonesia, ia kembali ke ke Swiss beberapa waktu lalu.

Meski semula berniat mengunjungi adiknya yang adalah seorang suster, ternyata ia kemudian menghembuskan nafas terakhir pada Jumat 26 Agustus 2016 di tanah kelahirannya.

Ia dimakamkan pada Rabu 31 Agustus.

Dari Keluarga Berada

Apa yang bisa dikenang dari sosok Pastor Agatho?

Sebagaimana dilansir Sesawi.net, imam ini lahir dari pasangan orangtua berdarah Swiss bernama Carl Elsener dan Elisabeth Gut.

Ia lahir di kota kecil bernama  Scwyz,  Swiss pada 15 Juli 1932. Ia merupakan anak ke-4 dari enam bersaudara.

Ayahnya adalah pemilik pabrik pisau yang amat terkenal karena tingkat ketajaman dan keindahan estetikanya.

Victorinox, demikian nama label pisau-pisau lipat produk Swiss ini.

Namun, meski datang dari keluarga sangat berada, perjalanan hidup rohaninya malah ‘berakhir’ di panggung kehidupan yang meninggalkan kemewahan.

Seakan seperti meniti ulang kisah hidup Santo Fransiskus dari Assisi yang meninggalkan hidup mewah sebagai bangsawan Italia dan kemudian mengadopsi hidup sederhana dan “bersahabat’ dengan alam, demikian pun kisah hidup Agatho.

Ia meninggalkan tanah airnya yang makmur dan keluarga kandungnya yang serba berkecukupan, menjadi imam Fransiskan Kapusin dan rela diutus menjadi imam misionaris di Indonesia dan masuk hutan lebat di Kabupaten Sanggau.

Merintis Pertanian Organik

Selama menjalani tugas kegembalaannya, yang paling mencolok adalah perhatiannya yang begitu besar pada apa yang ia sebut pertanian organis.

Latar belakang sebagai orang yang hanya berbekal pendidikan teologi, membuat ia secara otodidak mempelajari ilmu pertanian.

Pilihannya untuk itu bermula saat ia bertugas di Sanggau, di mana kala itu para petani mengalami gagal panen akibat serbuan hama dan masifnya penggunaan pestisida yang malah mencemari lingkungan.

Jenis sayuran yang dihasilkan oleh pola pertanian organis Pastor Agatho. (Foto: Ist)
Jenis sayuran yang dihasilkan oleh pola pertanian organis Pastor Agatho. (Foto: Ist)

Ia berupaya mencari cara bagaimana mengatasi persoalan yang melilit para petani, termasuk gagal panen.

Ia lalu beberapa kali pulang ke Swiss untuk mengamati dan mempelajari secara khusus sistem pertanian di sana, yang tidak merusak alam.

Niatnya untuk serius menekuni pertanian organic muncul ketika setelah pindah ke Jakarta pada 1980, ia mendapat kesempatan membantu Romo G. Utomo Pr, imam diosesan Keuskupan Agung Semarang yang waktu itu menjadi Sekretaris Kantor Pembangunan Sosial Ekonomi dari KAS dan kemudian MAWI (kini KWI)

Perkenalannya dengan Romo G. Utomo Pr seakan membukakan jalan untuk merintis keinginannya melakukan pola pertanian organis yang telah menyergap hatinya saat berkarya di Sanggau, Kalbar.

Tahun 1983 itulah, Agatho mulai bergerilya mencari lokasi yang cocok untuk pengembangan pola pertanian organis.

Ia memacu waktu guna mewujudkan impiannya.

Maka, sering  kali, ia meninggalkan Pastoran Gereja Assisi di Tebet dan pergi ke kawasan Jakarta selatan yang waktu itu masih dibilang kawasan hutan belantara.

Ternyata, kawasan di selatan Jakarta tidak cocok untuk membangun pola pertanian organis karena tekstur ketinggian tanah tidak memenuhi kriteria.

Maka opsi lainnyaa adalah kawasan Cisarua di Jawa Barat yang berdiri di posisi ketinggian  sekitar 1.000 di atas peremukaan laut.

Menurut website Yayasan Bina Sarana Bakti yang didirikan almarhum Pater Agatho Elsener OFMCap, kiprahnya mengawali pola pertanian organis itu dilakukan dengan mendirikan satu unit kerja atau unit pengembangan yang disebut dengan “unit pengembangan sayuran”.

Ini dia tempuh seiring dengan nafas semangat pada  dekade tahu 1980-an, ketika  pemerintah tengah gencar-gencarnya rajin mengkampanyekan swasembada beras.

Unit tersebut adalah unit pertanian yang tidak menggunakan sarana kimia.  Karenanya, rekomendasi pun datang bukan saja datang dari Departemen Pertanian, melainkan juga dari Kementrian Lingkungan Hidup — sebuah kondisi yang memang yang sangat dilematis saat itu.

Demi menjalankan cita-cita luhurnya, begitu tulis situs Yayasan BSB, almarhum  Pater Agatho Elsener OFMCap dengan bantuan beberapa rekannya mendirikan lembaga resmi bernama  Yayasan Bina Sarana Bakti.

Melalui lembaga ini, almarhum Pater Agatho Elsener OFMCap tidak hanya berkeinginan mau mendidik orang agar bersedia melakukan pola pertanian organis.

Juga, almarhum ingin  bertani dengan cara mengajari semakin banyak orang untuk bersikap organis, saling membantu, dan tidak egois.

Setelah melihat pertanian organis yang dikelola pastor berhasil, semakin banyak orang yang ingin belajar mengenai sikap organis dan pertanian organis darinya.

Menjaga Alam

Apa itu pertanian organis? Menurutnya, organis berasal dari kata organ, aslinya dari bahasa Yunani yaitu organon, yang artinya alat kerja. Kata dasarnya Ergon, yang berarti pekerjaan.

“Jadi organis berarti alat kerja (organ) yang bekerja untuk organisme. Organ yang bekerja dengan baik, organisme pun akan sehat. Sikap hidup inilah yang perlu kita kembangkan untuk mencapai harmonis antara manusia dengan alam,” kata Pastor Agatho.

Lahan pertanian organis Pastor Agatho di Cisarua, Jawa Barat. (Foto: Ist)
Lahan pertanian organis Pastor Agatho di Cisarua, Jawa Barat. (Foto: Ist)

Konsep ini menurut Pastor Agatho menggambarkan kesatuan unit yang mendasar di mana masing-masing teratur dan terarah pada satu kesatuan atau harmoni antara organ dan organisme.

Artinya, kata dia, setiap anggota mendukung keseluruhan, dan keseluruhan menjaga anggotanya.

Kemudian, sistem pertanian organis, menurut Pastor Agatho adalah sebuah upaya meniru sistem kehidupan yang alam berikan.

Hal itu, menurutnya, mengingat alam sudah terbukti mampu bertahan, mendukung organisme di dalamnya (hewan, tumbuhan, manusia, hingga mikroorganisme di dalam tanah) dengan mekanisme harmonisnya.

Oleh karena itu, ia mengajurkan para petani merawat alam secara organis agar mendapatkan manfaat dari alam tersebut.

Dengan konsep organis, lanjutnya, produk pertanian tidak saja menguntungkan secara ekonomi dan kesehatan, tetapi juga membuat petani menjadi mandiri. Pasalnya, petani tidak lagi bakal bergantung pada penggunaan pupuk dan zat-zat kimia lainnya untuk memperkaya tanah.

Buah karya Pertanian Organis

Untuk menghidupkan karya Pastor Agatho, saat ini sudah berdiri komunitas organis yang bernama Cormundi, yang berarti orang yang hatinya terbuka untuk dunia.

Komunitas ini yang bakal melanjutkan misi pertanian organis Pastor Agatho ke generasi yang akan datang.

Di sisi lain, saat ini pelanggan hasil pertanian organis sudah tersebar di berbagai kota besar dan merambah hingga ke pelanggan rumahan.

Banyak pelanggan merasakan bahwa sayuran organis terasa lebih segar, enak dan manis, serta tahan lama bila disimpan dalam lemari pendingin, ketimbang sayuran dari pertanian modern. Lalu apabila dimasak, rasanya jauh lebih enak.

Lantas, untuk mendukung kepercayaan pelanggan, produk-produk organis pernah disertifikasi oleh National Assosiation of Sustainable Agriculture Australia (NASAA).

NASAA melakukan kunjungan dan menginspeksi lahan pertanian organis pada tahun 2001, hingga saat itu produk organis mampu mengisi pasar international.

Hasil pertanian organis juga kini dapat ditemui di berbagai gerai dan toko swalayan, seperti Toko Buah Total Buah Segar dan Ranch Market.

Roby Sukur/Katoliknews/Berbagai Sumber

Komentar