Benyamin Agustinus saat menjelaskan materi parenting PAUD Santa Theresia Wedi (Foto: Laurentius Sukamta/Katoliknews)

Katoliknews –  Jangan sekali-kali membandingkan anak Anda dengan anak lain, karena itu akan membuat sang buah hati tidak merasa percaya diri.

Demikian salah satu poin yang disampaikan Pengurus Himpunan Pendidik Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Provinsi Jawa Tengah Benyamin Agustinus saat acara parenting yang diadakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Santa Theresia Wedi, Kabupaten Klaten di GOR Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Sabtu, 3 September 2016.

“Orangtua jangan terbiasa membandingkan anak. Karena membandingkan dengan anak lain dapat membuat anak merasa tidak memiliki kemampuan, sehingga dapat mengakibatkan rasa percaya diri anak menurun,”ujar Agustinus.

Orangtua juga, kata dia, jangan terbiasa membohongi anak. Sebab kebohongan itu meski menyelamatkan Anda sementara, tetapi akan menghancurkan Anda untuk selamanya.

Pantangan lainnya dalam mendidik anak adalah jangan membiasakan diri untuk memerintah, meremehkan, memberi julukan negatif, mengancam, menyindir, dan menyalahkanmanak.

Praktisi PAUD dari Kabupaten Wonosobo itu menyatakan, bila salah satu gaya berkomunikasi itu dilakukan, maka anak usia dini bisa menjadi tidak percaya pada perasaan sendiri dan tidak percaya diri. Karena itu, orangtua harus bisa membaca bahasa isyarat tubuh atau perilaku anak, dan mau mendengarkan ungkapan perasaan anak.

“Orangtua perlu memahami cara berkomunikasi dengan anak. Setidaknya, ada lima prinsip bicara dengan anak, yaitu tatap mata selalu, bicara yang pelan, hindarilah kata-kata “jangan”, jelas perintahnya, dan bahasa yang ringan. Maka orangtua perlu menghindari berbicara tergesa-gesa, dan mau mendengarkan anak secara aktif,” jelasnya.

Benny menerangkan, perhatian yang kurang dari orang-orang yang dicintai akan berdampak besar pada anak. Anak akan suka menyerang, susah diberi pengertian, dan berteriak atau bicara lantang.

“Permasalahan anak usia dini itu kompleks. Maka orangtua dan sekolah harus saling bergandengan tangan. Guru harus memahami perkembangan anak, dan orangtua harus mau menjadi mitra sekolah,” ucapnya.

Laurentius Sukamta/Katoliknews

Komentar