Herman Jumat Masan (Foto: kupang.tribunnews.com)

Katoliknews.com – Herman Jumat Masan, mantan pastor di Keuskupan Larantuka – Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang sudah divonis mati terkait kasus pembunuhan berencana terhadap seorang mantan suster dan dua anak mereka dilaporkan akan segera menjalani hukuman mati setelah upaya bandingnya ditolak.

Hal itu dikatakan oleh Asisten Pidana Umum Kejaksaan Tinggi NTT, Budi Handaka kepada para wartawan, Kamis, 8 September 2016 sebagaimana dilansir Tempo.co.

Selain Herman yang disebut juga dengan nama Herder, kata dia, terpidana lain yang akan dieksekusi adalah Gaundensius Resing alias Densi.

Budi menjelaskan, rencana hukuman mati keduanya masih akan dikoordinasikan dengan Jaksa Agung Muda Pidana Umum Kejaksaan Agung.

“Kami akan melakukan koordinasi dengan Jampidum untuk pelaksanaan eksekusi mati bagi dua terpidana itu,” ujarnya.

Kedua terdakwa, menurut Budi, terlibat kasus pembunuhan berencana dan dijerat Pasal 340 KUHPjuncto Pasal 338 KUHP.

“Herder telah menjalani hukuman di Rumah Tahanan Maumere selama 2 tahun 8 bulan,” ucap Budi.

Sebagaimana diketahui, Herder divonis setelah membunuh dengan mencekik seorang bayi pada 1999, hasil hubungan gelapnya dengan Yosefin Keredok Payong alias Merry Grace.

Merry Grace merupakan mantan suster SSpS, yang meninggalkan biara pada tahun 19997

Tahun 2002, ketika Merry Grace kembali melahirkan anak kedua hasil hubungan gelap mereka, Herder membiarkan saja bayi itu di kamarnya hingga meninggal, bersama Merry Grace yang juga akhirnya meninggal  setelah mengalami pendarahan selama 10 hari.

Ketiga jenazah ini dikuburkan di belakang kamar Herder di kompleks Tahun Orientasi Rohani (TOR), Lela, Maumere, di mana saat itu ia bertugas sebagai pendamping para frater TOR.

Herder meninggalkan imamat tahun 2008 dan bekerja di Kalimantan.

Kasus ini terungkap ketika pada Januari 2013, polisi menggali kuburan ketiga jenazah itu, berkat pengakuan dari mantan pacar Herder, bernama Sofi, berhubung Herder pernah menceritakan peristiwa pembunuhan ini kepadanya.

Proses hukum pun dilakukan, setelah Herder berhasil dibawa ke Maumere. Pada 19 Agustus 2013 lalu, ia divonis hukuman seumur hidup.

Ia sendiri mengajukan kasasi ke MA atas kasus ini pada November 2013. Namun, bukannya mendapat keringanan hukuman, malah diperberat dengan hukuman mati.

Upaya Peninjauan Kembali (PK) pun sudah ditolak.

Pastor, Suster Tolak Hukuman  Mati

Hampir sepekan sebelum pembacaan vonis terhadap Herder di Pengadilan Negeri Maumere, dalam sidang pada 13 Agustus 2013, sebuah koalisi para imam, suster dan aktivis HAM sempat menyampaikan surat pernyataan penolakan hukuman mati.

Pernyataan ini disampaikan oleh 3 wakil dari koalisi yang menyebut diri “Jaringan Peduli Perempuan dan Anak Sikka”, antara lain Suster Eustochia SSpS, Pastor Otto Gusti Madung SVD dan Suster Mikaelin Bupu SSpS.

Dalam pernyataan yang dibacakan oleh Pastor Otto, anggota jaringan itu mengatakan, “mengutuk kejahatan yang telah dilakukan oleh terdakwa, mendukung proses hukum yang telah berjalan dan meminta agar Hakim memutuskan kasus pembunuhan ini sesuai dengan fakta persidangan”.

“Setuju agar terdakwa dihukum seberat-beratnya, tetapi kami menolak hukuman mati karena tidak sesuai dengan prinsip dasar hak asasi manusia. Hukuman mati ini bertentangan dengan hak hidup setiap manusia sebagaimana terkandung dalam Pasal 6 Kovenan PBB tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang telah diratifikasi oleh Pemerintah Republik Indonesia. Hak ini juga dilindungi dalam Pasal 28A UUD 1945 serta Pasal 4 UU No. 39/1999 tentang Hak Asasi Manusia”.

Dalam pernyataan tersebut mereka juga menegaskan, “sebagai orang Kristen, kami yakin bahwa setiap manusia adalah citra Allah”.

“Dan Manusia tidak punya hak untuk menghilangkan status citra Allah itu dari manusia lain dengan cara membunuhnya. Manusia tidak pernah boleh menjadi Tuhan atas hidup sesamanya. Hidup manusia ada di tangan Allah sendiri”, tegas mereka dalam penyataan tersebut”.

Suster Eustochia, yang juga bekerja di Tim Relawan Kemanusiaan Flores (TRUK-F) mengatakan, “Kami tidak menghendaki agar pelaku dihukum mati. Kami tidak menghendaki adanya hukuman mati kepada siapa saja.”

Edy/Katoliknews

SHARE

24 COMMENTS

  1. Di Keuskupan Larantuka, sepertinya Rm. Herman hidup sembrono. Kini di Rutan Negara Maumere Herman menemukan panggilannya dan menjadi “pastor” (counselor) istimewa bagi rekan-rekan napi. Kita tetap harus berjuang agar Herman dibiarkan menjalankan panggilannya di Lapas. Betapa tragisnya kematian Mary Grace dan kedua anak mereka, kita mesti berjuang agar Herman diberi kesempatan untuk “menebus’ kematian mereka itu dengan menjalankan tugas-panggilannya seumur hidup bersama rekan-rekan napi. John Prior, svd, pastor Rutan Negara Maumere.

    • Setuju.
      Saya pribadi tidak menyukai “menghilangkan nyawa seseorang” dimasukan dalam sistem hukum dan menjadi nama “hukuman mati”.
      Ini bukan hukuman tetapi membunuh ciptaan tuhan secara sistem. Apa bedanya negara “menjalankan hukuman mati” dg herman jumat “membunuh 3 org yg dia cintai” ?

    • kalau herman boleh menghukum mati terhadap makluk tuhan lainnya, apa keistimewahan herman itu saya pribadi khusus utk herman hrs dihukum mati.

      • Saudara beni. Bukan apa keistimewaan Pak Herman utk mengambil nyawa org2 yg beliau cintai, sampe kitapun melakukan hal yg sama dg beliau dg hukuman mati.,?????
        Tapi, kita Bukan Tuhan sampe bertindak sperti itu. Bukannya kejahatan harus dbalas dgn kebaikan? Seandainya kita membalas kejahatan dgn kejahatan, sama halnya kita membantu IBLIS merusak ciptaan Tuhan.
        Di sisi lain, mungkin Pak Herman jg tdk menginginkan kejadian ini.
        Ini cara taktik IBLIS untuk merusak relasi manusia dgn manusia, manusia dgn penciptanya..

        Be Wise!!
        Salam

  2. Setuju Pater.. menghukum mati tidak saja merusak citra Allah, tetapi memberi pembebasan yg tak seharusnya terdakwa peroleh secara cuma2.

  3. Hmmm…kasihan wanitanya….selalu saja wanita mengalami tindakan kekerasan dimana2..baik seksual atau apalah…jadi sedih baca berita ini..

    • Reality sperti itu.
      Why???
      Karna peran utamanya IBLIS itu sendiri.
      Mau merusak relasi antara manusia dg Tuhan,manusia dgn manusia.
      (Kembali ke org tua kita yg pertama, Adam dan Hawa)

  4. setuju dengan hukuman mati yang di jatuhkan kepada Herman, mantan pastor larangtuka.karena dia sudah jelas – jelas telah mengambil hak Tuhan menghilangkan nyawa orang lain, apalagi dia sudah di sumpah untuk menjadi pekerja di ladang Tuhan. Menjadi pelajaran juga bagi yang masih terselubung di luar sana untuk berhati – hati.

  5. Hukuman mati pun tdk akan memberikan efek jera terhadap kejahatan karena orang yang berbuat nekad adalah orang yang sdh bosan hidup artinya orang tersebut sudah memilih bunuh diri, maka perlu adanya hukuman seumur hidup tapi dengan jalan kerja paksa selama hidupnya

  6. Kalo memang pantas dihukum mati silakan,tapi jika slama masih ada pengampunan jangan dihukum mati,biarlah dia mati atas panggilannya sendiri.
    Dan dia sendiri yang menangung dosanya,kalo kamu bukan orang berdosa hukumlah dia,seperti apa mau kalian.

  7. Aku mengenal baik Herman Jumat ketika saya belajar filsafat teologi fi STFK. Ledalero dan kami tinggal di SemTinggi St Petrus Ritapiret, walaupun Herman kk kelas saya. Ketika saya menjadi imam dan melanjutkan kuliah di Roma baru saya mendengar kasus ini & kami berdua rmYance Sengga studi sama2 di Roma di st Anselmo sempat bercakap mslsh ini. Sebagai i komentar saya bhwa Herman telah melakukan dosa besar melanggar Ham serta berlaku keji pd prinsip moral dan ajaran dasar Soko Guru yg seharusnya tdk boleh dilakukan oleh org katolik & apalagi imam atau mantan imam, lalu menghilangkan 3 nyawa mc itu sdh kejam dan biadab lalu kita mempertahankan & nembiarkan kejahatan tetap hidup utk apa? Hernan menerima hukuman mati krn; karma yg dibuatnya, pengadilan tdk membiarkan hidup sosok WNI yg begini, contoh yg baik bagi kita semua spya jgn meniru tingkah laku yg dilakukan oleh Herman Jumat Masan & apa yg diputuskan oleh pengadilan adalah adil&enarnya…kasus2 lain sebaiknya diperiksa juga krn diklngan Gereja hidup biarawan biarawati byk hal yg tdk senonoh tp didiamkan

  8. Jika kamu bukan org berdosa hukumlah dia. Apapun yg dia lakukan itu urusannya dengan Tuhan. Petcayalah bagi Tuhan tiada yg mustahil.

  9. Kalau Herman bisa membunuh atas kemauan sendiri, kenapa Herman tak boleh dihukum mati berdasarkan hukum?

    • Well,
      Kita bukan Tuhan.
      Dan kita juga bukan Tuhan utk org lain, sampe bertindak semau kita.
      Tindakan Pak Herman itu cara IBLIS lah yg mau merusak relasi manusia dg Tuhan, manusia dg manusia.
      (Ingat org tua kita yg pertama, Adam dan Hawa.)
      Dari situlah sin enter the world. Dan d jadikan warisan turun temurun

      Be Wise!!!

  10. Semoga upaya penolakan hukuman mati membuahkan hasil di negara tercinta Indonesia. Kejahatan Herman tidak perlu “dibalas” dengan pembunuhan dirinya walau itu atas nama keadilan.
    Saya mengunjungi Dan melayani para napi di 4 penjara setiap bulan dan sy menyaksikan perubahan hidup dari antara para napi.
    Hukuman mati memangkas kesempatan untuk bertobat bagi yg ingin bertobat.

  11. saudara yudit boleh membela herman jumat yg sangat biadab itu, tetapi anda juga hrs ingat apa tuhan setuju pikiran anda dan kita jgn membawa nama Tuhan untuk melindungi manusia yg bersifa binatang ini. lalu apakah kami yg setuju herman dihukum mati tdk menghayati perintah tuhan…?

  12. Berita Tempo pada 8 Sept 2016 telah memperjelas semuanya ini, bahwa Herman Jumat Masan, manta imam projo itu akan segera dieksekusi setelah Herman Jumat Masan mengajukan banding, kasasi dan PK tetapi semuanya ditolak. Saya pikir para hakim memvonis hukuman mati bukan karena rasa simpati kepada Yosephina Kredok Payong dan dua anaknya yang diduga dibunuh lalu dikuburkan diam-diam oleh Herman Jumat Masan, namun kepada keyakinan bahwa membunuh orang yang tidak berdosa tidak bisa dibenarkan oleh hukum.

    Jadi tiada ada simpati, yang ada ialah keyakinan. saya pikir perintah jangan membunuh ialah sebuah hukum yang sudah sangat tua dan tertulis dalam kesepuluh perintah Allah dalam Perjanjian Baru. Kewajiban untuk menjalaninya ialah sebuah keharuan bibilis-teologis yang kini dikuatkan oleh hukum positif negara kita tercinta ini.

    Memang manusia bukanlah Tuhan namun oleh kodratnya yang tinggi, manusia telah menjadi co-creatio yakni rekan kerja Tuhan dalam menguduskan dunia dan ciptaan, utamanya saling menguduskan antara sesama manusia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here