Katoliknews.com – Vatikan melalui Karitas Internasional dan Dewan Kepausan untuk Pastoral Peduli Migran dan Perantau menggelar konferensi selama tiga hari pada 5-7 September 2016 di Nigeria, Afrika, di mana mereka membahas khusus masalah human trafficking atau perdagangan manusia.

Pastor Pierre Cibambo, penanggung jawab Karitas Internasional untuk Afrika mengatakan kepada Radio Vatikan, perdanganan manusia adalah isu yang sangat krusial saat ini.

Melalui konferensi itu, kata dia, mereka hendak meningkatkan kesadaran publik dan memberi harapan kepada mereka yang menjadi korban.

Ia menyebut human trafficking  sebagai tragedi kemanusiaan di era modern.

Menurut dia, konferensi ini ingin menyatukan tekad semua pihak, baik dari Gereja sendiri mapun organisasi-organisasi berbasis keagamaan lainnya untuk mendorong para pemimpin dan pejabat public agar berkomitmen memerangi perdagangan manusia, terutama di seluruh Afrika, daerah yang dikenal dengan jumlah kasus terbanyak saat ini.

Ia mengatakan, Paus Fransiskus sangat mendukung misi Gereja melawan masalah ini.

Dalam konferensi itu, peserta sempat mendengar sharing pengalaman dari Sophie (21), gadis asal Nigeria yang pernah dieksploitasi oleh pamannya sendiri saat ia masih berusia 13 tahun.

Ia mengisahkan, awalnya orangtuanya menitipkan ia kepada pamannya untuk bisa sekolah. Namun, pamannya sendiri malah menghabiskan uang yang diberikan orangtua Sophie dan ia dipaksa menjadi pembantu di rumah pamannya itu. Anak dari pamannya juga melakukan kekerasan seksual pada Sophie.

Setelah kemudian berhasil lolos dari “perbudakan” di rumah pamannya itu, Sophie merasa trauma.

Ia mengatakan, dalam banyak hal, pelaku kekerasan perdagangan manusia adalah orang-orang dekat korban.

Ia pun bertekad untuk ikut melawan masalah ini, di mana kini ia bergabung dengan organisasi anti perdagangan manusia.

Kardinal Luis Tagle, Presiden Karitas International mengatakan keprihatinnya pada maraknya kasus perdagangan manusia, yang ia sebut sebagai akibat dari hilangnya rasa kemanusiaan.

“Kita melihat para pelaku sama sekali tidak bermoral, memangsa mereka yang paling rentan dan miskin,” katanya.

Tagle memuji konferensi itu dan menyebut ia bisa menimbah banyak hal.

Ia juga menekankan pentingnya upaya bersama untuk mengatasi masalah ini.

“Tidak ada idividu atau lembaga tunggal” yang dapat memberikan “respon memadai,” katanya. “Kita harus bekerja sama ….dengan semua orang yang berkehendak baik. ”

Pada tingkat pribadi, Kardinal Tagle mengatakan ia terganggu dan sedih dengan kenyataan bahwa pada abad ke-21 ini, kita masih berbicara tentang “perbudakan, kerja paksa, eksploitasi kelompok yang paling rentan,” di tengah kehidupan “masyarakat modern yang ditandai dengan begitu banyak kemajuan teknologi, ilmu dan pengetahuan.”

“Dii mana rasa kemanusiaan kita?,” tanyanya.

Edy/Katoliknews

Komentar