Katoliknews.com – Ini merupakan renungan Romo Aloysius Budi Purnomo Pr, Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang untuk Minggu, 11 September 2016 yang merupakan Minggu Biasa XXIV dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik.

BACAAN: Kel 32:7-11.13-14; Mzm 51:3-4. 12-13.17.19; 1Tim 1:12-17; Luk 15:1-32


Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihat dia, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.

Begitu sering kita membaca dan merenungkan Perumpamaan tentang Anak yang Hilang. Sesungguhnya itu seperti sebuah kaleidoskop. Kisah itu menawarkan kedalaman yang indah tentang arti mengikuti Yesus Kristus.

Salah satu makna yang dapat kita renungkan adalah tentang bahaya terbesar yang kita hadapi yang disebut dengan bahaya iman dangkal lahiriah. Bahaya itu tampak pada iman yang hanya di permukaan saja, tidak disertai dengan peresapan di kedalaman hati, jiwa dan hidup kita. Itu berarti bahwa kita hidup di rumah Bapa namun tanpa sungguh mengetahui kasih kerahiman Allah Bapa kita.

Itu yang terjadi pada kedua anak-anak bapa itu, yang bungsu dan yang sulung. Mereka tidak sungguh-sungguh mengetahui betapa bapa mereka sungguh mengasihi mereka. Maka, meskipun mereka hidup bersama dalam satu atap yang sama, kedua saudara itu tidak pernah membuka hati kepada bapa mereka. Mereka menutup diri dalam dunia yang picik dengan egoisme mereka. Mari kita lihat satu per satu.

Anak bungsu itu tidak mengetahui betapa bapanya mengasihi dia dan betapa besar keinginan bapa untuk mewariskan kesejahteraan dan sukacita padanya. Akibatnya, ia membalas bapanya dengan penghinaan yang amat sangat dengan meminta bagian warisannya sementara ayahnya masih hidup. Itulah caranya dia mengatakan bahwa lebih berguna baginya ayahnya mati ketimbang ayahnya hidup. Sungguh suatu sikap yang mengerikan!

Yang sulung tidak lebih baik. Secara lahiriah ia tampak melakukan segala sesuatu yang benar. Namun, ia tidak memiliki pemikiran betapa bapanya peduli padanya. Itulah sebabnya ia sedemikian marah atas perayaan yang diselenggarakan bapanya untuk menyambut kembalinya saudaranya itu.

Apa yang dapat kita petik sebagai pelajaran dari Injil hari ini? Kita menyadari bahwa kita dapat dengan mudah bersikap sama. Kita pun sering bersikap seperti kedua anak-anak bapa itu.

Kita menghabiskan seluruh hidup kita sebagai orang Katolik praktis dengan iman dangkal di permukaan saja. Kita hanya melakukan kewajiban kita saja dan tampak hebat secara lahiriah, namun kenyataannya kita tidak membuka hati kepada Allah, Bapa yang penuh kasih kerahiman. Kita tidak mau tahu dan mengalami Dia dalam level yang lebih personal dan mesra.

Itulah cara yang berbahaya hidup dalam iman dangkal di permukaan. Kita dapat dengan mudah menyerah terpisah dari Bapa yang penuh kebaikan, kehilangan kesempatan ikut serta dalam perayaan penuh sukacita atas kasih Bapa. Hal-hal duniawi membuat kita berpusat pada diri sendiri dan memisahkan kita hingga kita tidak pernah mampu mengenal Allah Bapa yang sedemikian mengasihi kita. Kita terlalu sibuk untuk membaca Kitab Suci, untuk mengikuti Misa Suci harian, dan untuk ikut serta dalam Adorasi Ekaristi Abadi,

Sesungguhnya, Adorasi Ekaristi Abadi merupakan salah satu cara terbaik bagi kita untuk mengalami kasih Allah Bapa yang penuh kerahiman melalui Yesus Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Dalam Sakramen Mahakudus, Allah yang Mahakuasa dan Kekal telah membuat diri-Nya dekat dengan kita. Ia sungguh menjadi Sang Emmanuel, Allah-yang-beserta kita. Di sana kita mengalami Allah, Bapa melalui Yesus Kristus dan dalam Roh Kudus dalam level yang personal dan intim mesra. Apakah kita mengandalkan Dia dan mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan kehidupan kita?

Tuhan Yesus Kristus, begitu sering kami seperti anak bungsu dan anak sulung yang tidak menyadari bahwa Allah Bapa mengasihi kami dan betapa inginnya Bapa mewariskan kepada kami kerahiman, kesejahteraan dan kegembiraan. Sembuhkanlah kami dari bahaya iman dangkal lahiriah. Semoga kami membiarkan iman kami meresap di kedalaman hati, jiwa, dan hidup kami kini dan selamanya. Amin.

Komentar