(Gambar Ilustrasi)

Katoliknews.com – Kelompok Katolik yang tergabung dalam Forum Masyarakat Katolik Indonesia dan Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Surakarta mengecam pembubaran Misa arwah oleh sekelompok orang di Penumping, Kecamatan Laweyan, Solo, Jawa Tengah pada Selasa 6 September 2016 lalu.

Sebagaimana dilansir Tribunsolo.com, pada Kamis 8 September, Ketua Pemuda Katolik Komisariat Cabang Kota Surakarta, J. Antonius Bambang Tri Antono, melalui sebuah ‘pernyataan sikap bersama’ mengatakan bahwa ada beberapa hal inti yang menjadi dasar bagi kelompok Katolik mengecam aksi tersebut.

Sebagaimana tertulis dalam sebuah pernyataan sikap tersebut, disebutkan bahwa meski hidup dalam perbedaan, semua manusia memiliki satu Allah. Lantas, setiap manusia harus menerima kebersamaan dan keragaman.

Kemudian,agama seharusnya menjadi ruang relegiositas yakni sebagai tempat penyembahan manusia kepada misteri yang kudus.

Namun terkait kejadian ini, demikian isi pernyataan sikap tersebut, agama justru masuk ke ranah politik yang bermuatan kepentingan sesaat, yang berpotensi menimbulkan berbagai kekerasan.

Lebih lanjut, tindakan intoleransi yang mengedepankan kekerasan disebut oleh kelompok Katolik itu sebagai suatu hal yang bertentangan dengan hakekat manusia.

Berdasarkan Pasal 29 UUD 1945 juga, lanjut isi pernyataan itu, Kota Surakarta yang merupakan bagian dari negara Indonesia berkewajiban melindungi kebebasan beragama dan menjunjung tinggi pemahaman multikultural yang merupakan warisan leluhur.

Pada poin terakhir pernyataan itu, kelompok Katolik meminta aparat penegak hukum untuk bertindak tegas terhadap setiap kelompok yang melakukan intimadasi terhadap agama lain sebagaimana yang terjadi di Solo.

Sebelumnya, Camat Laweyan, Hendro Pramono, mengatakan bahwa peristiwa ini sudah diselesaikan secara baik-baik. Pihaknya berharap peristiwa serupa tidak terjadi lagi.

“Ini hanya salah paham, sudah diselesaikan dengan baik-baik,” kata Hendro.

Peristiwa pembubaran misa arwah itu terjadi pada malam hari, saat seorang umat bernama Ursula Yanita mengadakan misa arwah ibunya, Lestari, di Pendapa Kelurahan Penumping.

Saat misa arwah tengah berlangsung, sekelompok orang datang ke tempat itu dan membubarkan misa secara paksa.

Roby Sukur/Katoliknews

Komentar