Mgr Don Carlos Filipe Ximenes Belo SDB. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Warga keturunan Timor Leste – dulu Timor Timur  – yang ada di Denpasar, Bali bertemu dengan Mgr Don Carlos Filipe Ximenes Belo SDB pada Minggu 18 September lalu.

Uskup Belo, yang lahir di Baucau, Timor Leste pada 3 Februari 1948, adalah seorang tokoh penting dalam sejarah Timor Leste. Pada 1996, bersama dengan Jose Ramos Horta, ia menerima Nobel Perdamain untuk usaha kerasnya “menuju penyelesaian yang adil dan damai atas konflik di Timor Timur.”

Dalam pertemuan di Denpsar, warga keturunan Timor Leste mereka menyatakan harapan agar suatu saat terbangu sebuah kebersamaan antara warga Timor Leste yang memilih bergabung dengan Indonesia dengan yang bergabung dengan Republik Demokrat Timor Leste (RDTL).

“Ini sebuah reuni. Kami berharap, agar ke depan ada pertemuan antara eks warga Timtim yang pro-Integrasi dengan pro-Kemerdekan sehingga dapat dibangun sebuah kebersamaan,” ujar Juanico Cesario Belo, yang saat ini menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) sebagaimana dilansir Balitribune.co.id.

Untuk itu, Juanico Cesario berharap kepada generasi tua melepas ego masing-masing demi generasi yang akan datang.

“Memang, sejarah tidak boleh dilupakan. Tetapi itu sudah menjadi bagian dari masa lalu. Kita sudah capek dengan konflik, perang, dan politik. Alangkah baiknya kalau kita saling memaafkan. Kalau masih punya musuh dan dendam, bagaimana nasib generasi muda ke depan. Untuk itu, kami minta kepada generasi tua untuk menghilangkan ego,” imbuhnya.

Hal senada disampaikan oleh eks warga Timtim lainnya, Antonio.

Pria asal Baucau yang memilih bergabung dengan Indonesia ini mengatakan, pernah ditanya oleh anaknya, apakah sang anak kelak dapat pulang ke Timor Leste dan bekerja di sana.

Dan pertanyaan tersebut, diteruskan Antonio kepada Uskup Belo.

“Apakah boleh bekerja di Timor Leste? Boleh saja. Asalkan otaknya pintar dan menguasai teknologi,” jawab Uskup Belo dalam acara yang difasilitasi oleh Konsulat RDTL itu.

Selain dihadiri oleh eks warga Timtim yang berada di Bali, kegiatan ini juga dihadiri Duta Besar RDTL untuk Indonesia dan mantan Walikota Dili, Mateus Maia, yang bergabung dengan Indonesia.

Juanico berharap pertemuan seperti ini bisa digelar kembali agar dapat terbangun kebersamaan.

“Semoga pertemuan dengan Uskup Belo ini dapat membangun sebuah kebersamaan. Apalagi Uskup Belo sebagai penerima nobel perdamaian, setidaknya bisa memfasilitasi atau memediasi. Dan, untuk generasi tua diharapkan melepas egonya untuk generasi ke depan,” pungkasnya.

Edy/Katoliknews

Komentar