Pak RW di Ciledug (kiri) saat bertemu dengan pewakilan umat Katolik. (Foto: Stefan)

Katoliknews.com – Umat Paroki St Bernadeth Ciledug, Keuskupan Agung Jakarta  masih menemui hambatan dalam pembangunan Gereja mereka.

Hingga kini, resistensi masih terus terjadi dari warga setempat.

Di tengah situasi demikian, belakangan muncul isu di tengah warga sekitar lokasi paroki itu, bahwa umat Katolik sedang “diam-diam” memulai pembangunan Gereja.

Informasi itu menyebar dan sampai di telinga Des Faisal, Ketua RW 07 Barata, Kelurahan Ciledug, tempat paroki itu berada.

Takut bahwa isu itu bisa saja memicu konflik, ketua RW itu pun mendatangi pastoran paroki yang terletak di Kompleks Perumahan Barata No. 32, Sabtu Sore, 16 Oktober 2016.

Kepada Katoliknews.com ia mengatakan,  dirinya harus mengecek supaya suara sumbang warga tidak menjadi fitnah dan dipolitisasikan, bahkan digesek-gesek sehingga memicu konflik.

“Saya sudah dengar suara sumbang warga beberapa Minggu lalu,” katanya.

“Mereka bercerita bahwa di rumah No. 32 sedang dibangun rumah ibadah, karena di depan rumah itu ada tumpukan pasir dan bahan bangunan lainnya. Warga mencurigai jangan-jangan ada pembangunan gereja,” lanjutnya.

Ia menambahkan ,warganya juga melaporkan bahwa ada kegiatan ibadah umat Katolik di di pastoran tersebut.

“Mungkin warga saya kurang mengadakan pendekatan,” ujar Des Faisal.

“Menurut saya laporan seperti ini bisa dikategorikan fitnah karena tidak benar.  Saya takut dosa. Maka saya datang cek, apakah benar atau tidak,” imbuhnya.

Mendengarkan penjelasan ketua RW itu, salah satu tokoh umat St Bernadeth, Bernardus Hadi Sudjarwo mengatakan bahwa laporan warga RW 07 bukan dosa, tetapi lebih karena warga tidak mengerti.

Sementara itu, Kosmas Alprianto, Ketua Lingkungan St Maria I mengatakan, pastoran paroki itu hanya menjadi pusat berbagai macam urusan dengan umat, termasuk dalam hal administrasi, surat-menyurat.

“Juga..berkaitan dengan permintaan umat untuk mendapatkan pelayanan para romo, kami sebagai ketua lingkungan harus lapor di sini,” jelas Kosmas.

Ia mengatakan, untuk misa hari Minggu, mereka memanfaatkan sebuah tenda di daerah Pinang.

“Di sini (pastoran), hanya Misa harian para romo, itu pun hanya hari Kamis saja,” tambah Kosmas.

Mendengar penjelasan Kosmas dan Sudjarwo itu, Ketua RW pun mengakui bahwa selama ini warganya salah mengerti akan hal ini.

“Nanti saya bisa jelaskan hal yang saya dapatkan hari ini. Setelah keliling mengcek rumah ini, memang tidak ada yang dibangun,” tuturnya.

“Semoga mereka mengerti. Yang saya takutkan nanti gampang digesek-gesek kalau mereka tidak memahami hal sebenarnya,” lanjutnya.

Di pastoran, Ketua RW ini mengelilingi sejumlah ruangan, seperti ruang tamu, sekretariat, ruang TV, ruang tempat penyimpanan alat Misa dan gua Maria. Ia sempat memotret kapel dan ruangan lain.

Terkait tumpukan pasir di depan pastoran yang memang pernah ada, Sonny, karyawan pastoran itu menyebutkan, pasir itu untuk memperbaiki lantai dua yang bocor.

“Beberapa waktu lalu ada tumpukan pasir di depan karena waktu itu lagi ada pengerjaan perbaikain lantai dua yang bocor,”  jelasnya.

Kepada Katoliknews.com, Des Faisal sempat mengatakan, dirinya bertanya-tanya, mengapa masih ada warga yang selalu membuat isu.

“Sebenarnya orang memuji Allah lewat doa, bahkan lagu itu kan bukan masalah,” pungkasnya.

Stefan/Katoliknews

Komentar