Ketua Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, Romo Ignasius Sukawalyana. (Foto: Laurenstius Sukamta)

Katoliknews.com – Setiap tanggal 2 November, Gereja Katolik memperingati Hari Arwah Semua Orang Beriman. Di Keuskupan Agung Semarang (KAS), umat sering menyebutnya dengan istilah “Sadranan Katolik”.

Ketua Komisi Liturgi KAS, Romo Ignasius Sukawalyana menyatakan, tradisi Sadranan Katolik ini yang biasanya diisi dengan Misa adalah sesuatu yang baik.

“Dalam Misa Sadranan ini kita memberikan penghormatan dan mendoakan kepada jiwa-jiwa (arwah) yang sudah meninggal,” katanya saat ditemui di Gereja Santo Yusup Pekerja Gondangwinangun, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah beberapa waktu lalu.

Dalam konteks communio sanctorium atau persekutuan orang-orang yang dikuduskan, jelas dia, mendoakan arwah itu baik, karena kita memohonkan bagi arwah yang masih di api pencucian agar kerahiman Allah menyelesaikan yang belum rampung.

“Dan, Gereja berkewajiban mendoakan jiwa-jiwa mereka,” ungkapnya.

Romo Suka menambahkan, Gereja terdiri dari tiga kelompok, yaitu para kudus yang telah mulia di surga, mereka yang masih berziarah di dunia ini dan mereka yang masih berada di api pencucian.

“Kita yang masih hidup ini perlu mendoakan arwah yang masih berada di api pencucian itu. Selain itu, dalam Misa Sadranan ini kita juga diajak untuk ingat akan hidup abadi,” ujarnya.

Menurut dia, Misa Sadranan adalah bentuk dari pastoral budaya.

“Misa Sadranan ini untuk menyatakan iman kita dan sekaligus menghormati leluhur kita. Maka, baik kalau Misa Sadranan ini diadakan, baik itu di makam, di keluarga, atau di tempat lain,” tandasnya.

Laurentius Sukamta/Katoliknews

Komentar