Karolin Margret Natasa, Ketua Umum PP Pemuda Katolik.

Solo, Katoliknews.com – Pengurus Pusat Pemuda Katolik menegaskan siap menjadi garda terdepan untuk menjaga kebhinekaan. Para kader organisasi itu pun diimbau untuk berpartisipasi aktif  dalammenjaga kebhinekaan di masing-masing daerah.

“Saya mengimbau kepada kader Pemuda Katolik di mana pun berada untuk menjadi garda terdepan menjaga dan membangun kebhinekaan,” ujat Ketua Umum Pemuda Katolik, Karolin Margret Natasa di acara Rapimnas Pemuda Katolik di Hotel Sahid Surakarta, Jawa Tengah, Sabt, 19 November 2016.

Caranya, kata Karolin, adalah mengedepankan dialog dan musyawarah dalam menghadapi masalah dan terus menjalin komunikasi serta silahturahmi dengan kelompok lain demi menjaga kebhinekaan dan keutuhan NKRI.

“Jika ada persoalan hukum, ya serahkan aparat penegak hukum. Jangan menggunakan cara -cara yang bisa mengancam kebhinekaan dan mengganggu persatuan dan kesatuan,” katanya.

Pemuda Katolik, menurut Karolin, sudah terlibat dan berpartisipasi aktif memperjuangkan persatuan dan kesatuan Indonesia dari kolonialisme.

Bahkan, jelasnya, pada tahun 1965, saat gerakan Partai Komunis Indonesia (PKI) merajalela, Pemuda Katolik bersama organisasi kepemudaan lainnya berupaya membendungnya.

“Sejarah telah mencatat, kader-kader Pemuda Katolik mengambil peran dalam dinamika kehidupan politik bangsa dan negara. Kini, dalam realitas Indonesia saat ini, kolonialisme hadir dalam bentuk lain, mulai dari ancaman terhadap kesatuan dan persatuan bangsa, kesenjangan sosial yang besar akibat rantai kemiskinan dan dampak buruk dari arus globalisasi,” ungkap Karolin.

Sementara itu, Ketua Bidang Pemuda dan Politik dan Olahraga Pemuda Katolik, Frederikus Tulis mengatakan bangsa Indonesia adalah bangsa majemuk yang terdiri dari ribuan pulau, suku, bahasa, adat istiadat dan golongan.

Kemajemukan tersebut, kata dia adalah sesuatu yang terberikan, yang mau tidak mau kita terima sebagai anugerah dari Tuhan yang Maha Esa.

“Kita patut bersyukur karena kemajemukan tersebut memberikan warna tersendiri. Kemajemukan tersebut menjadi kekayaan yang telah berkontribusi bagi pembangunan bangsa dan negara,” katanya.

“Para founding fathers menyadari betul eksistensi bangsa Indonesia tersebut sehingga merajut bangsa ini dalam kebhinekaan dengan semboyan yang tak pernah usang Bhineka Tunggal Ika,” tutur Frederikus.

Frederikus mengakui bahwa dalam sejarahnya, kebhinekaan kita sering diuji.

Menurut dia, jika perbedaan tidak diolah dengan baik akan bisa menimbulkan perpecahan.

Perbedaan, kata dia, kadang dipolitisasi dan dikapitalisasi oleh kelompok tertentu demi kepentingan tertentu.

“Kenyataan saat ini pun menunjukkan kebhinekaan kita sedang diuji. Adanya politisasi SARA dan aksi teror di beberapa daerah seperti di Samarinda, Singkawang, dan Kota Batu mengindikasi bahwa kebhinekaan kita sedang diuji,” ungakpnya.

“Rajutan kebhinekaan itu bisa rusak lantaran nafsu kelompok politik dan kelompok garis keras,” tandas dia.

Bangsa Indonesia, kata Frederikus tidak boleh kalah dengan kelompok yang ingin memecah belah bangsa ini.

“Maka, kita mendukung dan berpartisipasi dalam berbagai gerakan untuk menjaga kebhinekaan demi keutuhan NKRI,” ungkapnya.

Acara Rapimnas Pemuda Katolik tahun ini dengan tema “Konsolidasi Organisasi untuk Memperkuat Pembangunan Nasional Berbasis Desa” dibuka oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjoyo dan dihadiri oleh Walikota Surakarta, FX. Rudi Rudyatmo.

Dalam sesi seminar, hadir sejumlah tokoh nasional, antara lain Deputi Komunikasi Politik dan Informasi Kantor Staf Kepresidenan Eko Sulistyo, Pemikir Kebangsaan Yudi Latif, Tenaga Profesional Lemhanas RI Mayjen TNI (Purn) E. Imam Maksudi, Anggota DPR RI Agustina Wilujeng dan Riek Diah Pitaloka, Anggota DPD Anang Prihantoro dan pemerhati dan peneliti bidang desa, Goris Sahdan.

Patris/Katoliknews

Komentar