Pasukan Myanmar turun dari helikopter di Muse, Negara Bagian Shan dekat perbatasan dengan Tiongkok pada 25 November. (Foto: Ucanews.com)

Katoliknews.com – Konflik etnis di Myanmar makin mengerikan, di mana sebuah gereja Katolik di utara Negara Bagian Shan ikut dibom oleh kelompok bersentara yang berperang melawan militer Myanmar.

Menurut laporan Ucanews.com, Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius di Mongkoe, dekat perbatasan Tiongkok itu terkena serangan udara pada 3 Desember, Pesta St. Fransiskus Xaverius.

Imam paroki, biarawati dan sekitar 1.000 umat Katolik di Mongkoe sudah melarikan diri ke Tiongkok. Tidak ada yang terluka oleh serangan pagi itu yang menyebabkan kebakaran hingga sore hari.

Uskup Philip Lasap Za Hawng dari Keuskupan Lashio, Negara Bagian Shan bagian utara, mengatakan,ia amat prihatin.

“Kami belum tahu fakta-fakta rinci, tapi saya akan menulis surat kepada pihak berwenang yakni komandan militer dan menteri dari Negara Bagian Shan setelah saya tahu segalanya,” katanya.

Uskup Kachin itu meminta pemerintah bernegosiasi dengan semua kelompok bersenjata.

“Kita perlu semua kelompok bersenjata untuk berpartisipasi dalam pembicaraan damai,” katanya.

Lebih dari 60 gereja Kristen telah hancur di Negara Bagian Kachin sejak gencatan senjata tahun 2011, menurut kelompok advokasi yang berbasis di Inggris, Christian Solidarity Worldwide.

Konflik baru telah kembali meletus di utara Negara Bagian Shan, yang dikenal secara kolektif sebagai Aliansi Utara.

Ribuan warga sipil melarikan diri ke Tiongkok meminta otoritas Tiongkok menyebarkan militernya di sepanjang perbatasan meninggalkan 2.000 orang terjebak dan 10.000 lebih berlindung di Manhai, sebuah kota perbatasan, menurut pekerja bantuan.

Sebanyak 11 LSM, termasuk Caritas, telah mendesak pemerintah menegakkan hak-hak masyarakat yang terkena dampak konflik.

Pertempuran baru-baru ini adalah pukulan besar bagi pemerintah Aung San Suu Kyi yang menyelenggarakan Konferensi Panglong Abad ke-21 akhir Agustus lalu yang mencoba dan membawa perdamaian bagi Myanmar. Sebagian besar Aliansi Utara tidak hadir karena militer menuntut bahwa pertama mereka harus menyerahkan senjata mereka.

Ucanews.com/Katoliknews

Komentar