Pengalaman Pelayanan di Papua Mengubah Maichel Ngilamele

oleh
Maichel Ngilamele. (Foto: dok. pribadi)

Katoliknews.com – Maichel Ngilamele (23) sempat ingin menjadi tentara. Namun, keputusannya berubah ketika saat SMA ia melihat penyakit yang diderita kedua orangtuanya.

Ia pun memilih menjadi perawat, sebuah keputusan yang beberapa tahun kemudian mengubah banyak hal dalam dirinya.

Itu terjadi saat Mike – sapaannya –  menjadi relawan untuk melayani masyarakat di Kampung Er, Distrik Sawa Erma, Kabupaten Asmat, Papua.

Di kampung daerah pedalaman itu, ia selalu bangun subuh.

Usai berdoa untuk memulai hari yang baru, Mike kemudian bergerak ke asrama milik Keuskupan Agats-Asmat untuk mengawasi anak-anak di sana, yang sedang mengenyam pendidikan di sekolah satu atap di daerah itu.

Tugasnya, memastikan agar anak-anak berangkat ke sekolah.  Bila ada yang sakit, kata Mike, ia segera memberi obat dan menulis surat izin.

Saat anak-anak sudah ke sekolah, tempat tugas Mike berikutnya adalah klinik, yang juga terletak di Kampung Er.

Ia menyambut warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan.  Tak jarang, Mike mengunjungi penduduk di rumah-rumah, sambil menenteng tas kecilnya yang berisi obat-obatan. Warga biasa menyapanya dengan sebutan Pak Mantri.

Mike tergabung dengan tim relawan yang anggotanya terdiri dari beberapa anak muda Katolik, yang terpanggil memajukan kehidupan penduduk asli Papua.

Fokus kegiatan merek adalah pendampingan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi dan pelestarian budaya.

Ada tiga rekan Mike yang juga memilih mendedikasikan diri untuk warga Papua. Mereka adalah Rosa Dahlia, relawan bidang pendidikan, Ignas bidang  ekonomi masyarakat, Ardo bidang riset dan dokumentasi serta kordinator mereka, Wahyu.

Menyalahan Lilin Harapan

Bagi mereka, pilihan untuk datang ke tengah-tengah warga pedalaman adalah bagian dari komitmen menjadi agen perubahan, yang berusaha untuk tidak hanya ‘mengutuk kegelapan’ melainkan ‘menyalakan lilin harapan.’

Masyarakat di kampung Er mencari nafkah dengan pergi ke befak (kebun) yang letaknya cukup jauh dari tempat tinggal mereka. Tanah desa tandus dan berupa lumpur.

Untuk menuju ke befak, mereka mesti menyeberangi sungai menggunakan perahu. Kondisi jalan yang sulit membuat mereka seringkali terlambat memeriksakan diri ke petugas kesehatan. Akibatnya, ketika dibawa ke klinik, kondisi pasien sudah terlanjur parah.

Selain itu, sebagian masyarakat mempunyai kebiasaan yang cukup “aneh,” di mana mereka sering membakar diri menggunakan rokok dan mengiris-iris kulit dengan silet bila mereka sakit. Ini, kata Mike, sebagai bentuk pengalihan dari rasa sakit.

Sayangnya, mereka tidak menyadari bahwa kadang kebiasaan itu  justru  membuat  sakit mereka kian parah. Apalagi, bila terjadi infeksi yang menyebabkan demam tinggi.

Ada juga penduduk yang lukanya sampai bengkak dan bernanah.

“Keadaan mereka yang kurang mengetahui kesehatan itulah yang membuat saya sering ke pedesaan sekitar untuk memberi penyuluhan,” kata Mike.

“Banyak penduduk yang belum memahami Bahasa Indonesia, maka saya sering menggunakan bahasa mereka untuk membuat mereka mengerti,” lanjutnya.

Ia menambahkan, sering pula ia mengulang-ulang materi penyuluhan agar bisa dimengeri warga.

“Tetapi saya tidak bosan, karena saya yakin suatu saat mereka dapat mengerti,” jelas lulusan Akademi Keperawatan Masohi Maluku Tengah ini.

Mike mengatakan, ada kampung di pedalaman yang sama sekali tidak memiliki tenaga medis yang menetap. Selain itu, stok obat-obatan sering kurang sehingga banyak yang terlambat mendapatkan pertolongan.

Ia mengatakan, untuk menutupi kekurangan obat-obatan, ia bekerja sama dengan petugas kesehatan setempat agar bisa saling mengisi kekurangan.

“Saya juga sering menggunakan uang hasil kerja saya untuk membeli obat-obatan agar bisa melayani penduduk desa,” katanya.

“Saya tidak pernah merasa rugi tentang itu karena saya sudah berjanji dalam diri saya, dimana pun saya dipanggil untuk melayani, di situ saya siap melayani,” kisah pemuda kelahiran Masohi, 18 September 1993 ini.

Masalah yang sering muncul di tempat Mike bertugas yaitu penyakit malaria, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), diare serta masalah kebersihan diri dan lingkungan.

Maka, Mike tanpa kenal lelah memberikan penyuluhan ke desa-desa.

“Ketika saya pergi dengan tim ke desa-desa untuk melayani, saya hampir meneteskan air mata. Batin saya tersentuh melihat keadaan mereka. Mereka hidup seadanya. Saat sakit juga bingung, mau dibawa kemana, (mereka) tidak mempunyai biaya,” katanya.

Hal sederhana seperti cara meminum obat, kata dia, juga sering harus dijelaskan berulang-ulang.

“Mereka juga belum mengerti apa artinya kebersihan diri dan tempat tinggal. Masih banyak lagi yang belum mereka ketahui,” cerita Mike.

Ia mengatakan, dalam dirinya timbul tekad untuk memberitahu pentingnya menjaga kesehatan diri.

“Yang paling penting, saya ingin mereka menyadari dan meninggalkan kepercayaan mereka yang bisa dibilang primitif, yaitu mereka menyilet diri mereka ketika sakit, membakar mereka menggunakan puntung rokok,” katanya.

“Sebagian dari mereka masih mempercayai bahwa sakit mereka juga karena guna-guna,” lanjutnya.

Padahal, menurut Mike, sudah jelas bahwa mereka positif Malaria, ISPA dan lain-lain.

“Itulah yang membuat saya sangat prihatin dan membuat saya merasa ditantang untuk menyadarkan mereka betapa penting dan berharganya kesehatan itu,” urai anak keempat dari enam bersaudara ini.

Pandangan Berubah

Perjumpaan dengan penduduk desa Papua membuka babak baru dalam kehidupan Mike.

Ia mengaku, awalnya berpikir bahwa menjadi aktivis kemanusian merupakan hal yang mudah, hanya bermodalkan semangat dan niat untuk melayani.

“Tetapi seiring berjalannya waktu, ternyata saya membutuhkan kesabaran yang ekstra,” katanya.

Ia mengatakan, kini ia melihat keputusan untuk mau bergabung menjadi aktivis kemanusiaan di Papua merupakan panggilan.

“Dan, saya percaya bahwa ini bukan hanya sekedar panggilan tugas biasa. Tetapi inilah saatnya Tuhan menggunakan saya sebagai alat-Nya untuk membantu mereka yang membutuhkan,” katanya.

“Saya ingin menyalakan ‘api’ harapan di mata mereka yang hampir padam,” ujarnya seraya termenung.

Mike mengaku semula merupakan seorang muda  yang masih emosional, egois dan tidak begitu menghargai sesama.

Semuanya berubah setelah ia menjadi aktivis kemanusiaan. Ia mengatakan, kini menjadi lebih baik, sabar, dan mau menerima masukan orang lain.

“Bahkan kadang-kadang saya lebih memprioritaskan orang lain lebih dari diri saya sendiri. Yang paling penting bagi diri dan kehidupan saya sekarang, saya merasa sangat dekat dengan Tuhan,” katanya.

“Intinya saya merasa kehidupan saya sudah sangat berubah,” ujar pemuda yang mengidolakan sosok ayahnya yang seorang guru ini penuh syukur.

Mike mengaku selalu merasa bahagia tak terkira ketika melihat pasien yang ditolongnya bisa sembuh dan beraktivitas kembali ini.

Di penghujung cerita, Mike berpesan bagi OMK yang terpanggil untuk melayani di daerah agar terus melayani, jangan pernah merasa bosan  dengan orang yang kita layani.

“Karena sesungguhnya merekalah yang dapat menjawab pertanyaan diri kita sendiri, Siapakah aku ini?” katanya.

Ia mengatakan, jangan lupa selalu mengandalkan Tuhan karena tanpaNya kita bukanlah siapa-siapa,

“Dialah yang menentukan dan mengarahkan hidup kita di dunia ini.Maka teruslah menjalani hidup yang bermanfaat bagi sesame.”

Ivonne Suryanto