Ilustrasi

Farhana, seorang perempuan Muslim membagikan kisahnya tentang bagaimana ia disambut hangat sebuah keluarga Katolik di Palermo, Italia saat ia mengikuti sebuah program pertukaran pelajar tiga setengah tahun lalu.

Kisahnya yang diunggah di LINE itu pada Kamis, 8 Desember 2016  kemudian menjadi viral dan dibagikan lagi oleh sesame pengguna lain.

Tak ketinggalan ratusan komentar netizen di bawah artikel tersebut. Namun, seperti dilansir Tribunnews.com, sejumlah netizen menyayangkan justru maraknya perang komentar antarpihak yang berbeda pendapat.

Berikut ini kisah yang ditulis Farhana:

Tiga setengah tahun lalu, sebuah keluarga Katolik di PalermoItalia memutuskan untuk menerima seorang pelajar pertukaran Muslim dari Indonesia untuk tinggal di rumah mereka selama setahun secara sukarela.

Tanpa dibayar 1 Euro pun.

Keluarga tersebut adalah keluarga Aiello, dan pelajar yang dimaksud adalah saya sendiri.

Bagi orang-orang yang seringnya mengutamakan sesamanya saja, mungkin yang saya lakukan adalah sesuatu yang aneh.

Tentunya ada perbedaan-perbedaan yang kentara; mereka berkulit putih dan saya berkulit coklat, mereka biasa makan pasta dan saya terbiasa makan nasi, mereka menyembah Tuhan Yesus dan saya menyembah Allah SWT.

Tapi tidak pernah sekali pun saya terpikir untuk tidak menyukai apalagi membenci mereka, karena itu tidak menghalangi kami berbuat baik kepada satu sama lain.

Dalam keluarga yang sebagian dari Anda mungkin sebut orang-orang kafir, saya diperlakukan seperti anak sendiri. Tiap hari diantar jemput ke sekolah, dipastikan makan tiga kali sehari, diajarkan bahasa Italia kata demi kata, dan selalu dibantu saat harus beradaptasi di lingkungan yang sepenuhnya asing.

Tiap Sabtu di rumah nenek, saya diajak main seperti seorang kakak, adik, atau sepupu mereka sendiri.

Saya masih ingat kali pertama minta izin untuk solat di rumah setelah makan malam. 
Saya bilang mau berdoa sebentar, saya tunjukkan sajadah dan mukena. Dengan polosnya, Mamma menawarkan agar saya dan mereka berdoa bersama. “Così non preghi da sola”, katanya (baca: supaya kamu ga berdoa sendirian).

Saya tidak akan pernah lupa pengalaman absurd namun mengharukan; saya melaksanakan solat isya di ruang makan, dengan Mamma membaca Alkitabnya di belakang saya.

Malam ini saya tergerak membuat tulisan ini karena kenyataan yang sejujurnya membuat saya sedih; ternyata intoleransi bisa terjadi bahkan di depan mata sendiri. Di kampus, di dunia maya, di televisi. Di jalanan. Untuk Anda yang secara langsung atau tidak langsung pernah menyebarkan hate speech terhadap kaum atau agama lain; percayalah, ada lebih banyak persamaan dibanding perbedaan diantara satu manusia dengan yang lain.

Ketahuilah bahwa setiap orang hanya berusaha mencapai kebahagiaannya masing-masing; orang Muslim ingin berlebaran dengan keluarga terdekat, orang Kristen ingin merayakan natal dan menerima berkat, dsb. Setelah satu tahun hidup sebagai orang yang dianggap ‘berbeda’, saya jadi mengerti betapa hidup sebagai kaum minoritas jauh lebih sulit dibandingkan sebagai mayoritas.

Kaum mayoritas seringkali beranggapan bahwa suatu atribut darinya adalah sesuatu yang umum, lalu ‘yang minoritas bisa menyesuaikan’. Mungkin Anda belum pernah merasakan jika situasinya dibalik, mungkin juga Anda tidak peduli.

Katoliknews.com

Komentar