George Junus Aditjondro: Konsisten dan Militan Mengkritik Penguasa

oleh
George Junus Aditjondro. (Foto: Wikimedia)

Katoliknews.com – Tepat di Hari Hak Asasi Manusia  (HAM) Internasional, 10 Desember 2016, George Junus Aditjondro menghembuskan nafas terakhir pada usia 70 tahun.

Kepergian George, sosok yang dikenal konsisten dan militan berada di posisi kritis dalam membongkar praktek korupsi di lingkaran kekuasaan, membuatnya dianggap sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan demokrasi di Indonesia.

Kondisi kesehatan George mulai menurun sejak 2012 lalu. Kala itu, di Yogyakarta, George diserang stroke, yang membuatnya dirawat di Rumah Sakit Bethesda, sebelum pindah ke Rumah Sakit Umum Pusat dr. Sardjito selama satu bulan.

Sejak September 2014, istrinya, Erna Tenge–dosen di Universitas Tadulako, Palu–memutuskan untuk membawa George ke Palu. Di ibu kota Sulawesi Tengah itu, George menjalani proses pemulihan pasca-stroke.

Beberapa bulan terakhir, kondisi kesehatan George cenderung membaik. Beberapa kali, ia sempat menghadiri acara diskusi yang diselenggarakan para aktivis dan akademisi di Palu.

Bahkan pada akhir tahun ini, rencananya, dia akan hadir dalam sebuah konferensi akademis internasional di Palu.

Menurut Arianto Sangaji, rekan George yang menjadi panitia konferensi itu, salah satu sesinya akan membahas karya-karya George, dengan pembahas Andreas Harsono, peneliti Human Rights Watch.

“Sesi itu akan membahas karya George, mengingat dia punya jejak kekaryaan luas di Indonesia, mulai dari Timor Leste sampai Papua, dari Poso sampai Aceh,” ujar Arianto kepada Tempo.co.

Sehari sebelum berpulang, kata Arianto, George sempat merespon pembicaraan saat mendapat kabar ihwal konferensi itu. “George senang sekali, terlebih dengar Andreas Harsono akan hadir.”

Para aktivis dan akademisi meratapi kepergian George. Banyak yang menyebut peristiwa ini sebagai cara berpulang nan mulia, sebab bertepatan dengan peringatan hari HAM.

“Sepanjang hidupnya George sudah mendedikasikan waktu, tenaga, dan terutama pemikirannya untuk penegakan HAM, lewat berbagai isu dari soal korupsi sampai konflik-konflik sosial. Kini dia tinggalkan kita pada momen hari HAM sedunia,” kata Arianto.

Nama Besar

George yang lahir di Pekalongan pada 27 Mei 1946 meraih gelar doktor dari Cornell University, Ithaca, Amerika Serikat pada Juli 1992.

Tesisnya setebal 400 halaman menyoroti peliputan kasus Kedungombo oleh media di  Indonesia dan luar negeri. Bertindak sebagai pembimbing adalah David Deshler, Benedict R.O.G. Anderson, dan Frederick H. Buttel.

Menariknya, menurut Daniel Dhakidae, rekan George yang sama-sama kuliah di Cornell University, George masuk ke kampus berkelas itu tanpa menggunakan ijazah.

Dhaniel berkisah, pada suatu hari di Cornell University, Profesor Benedict (Ben) Anderson, mencari-cari dirinya.

Setelah bertemu, Ben – yang banyak melakukan penelitian tentang Indonesia – mengatakan, “Daniel ada orang melamar ke program doktor di Cornell, namun aneh sekali, tidak ada selembar pun ijazah. Baik sarjana muda, apalagi sarjana.”

Daniel bertanya siapa orang Indonesia yang melamar itu? Ben menyebut nama George Aditjondro. Daniel mengatakan tidak mengetahui aturan yang ada di Cornell University.

“Namun inilah calon brilian, pekerja keras, bahasa asing Ingris dan Belanda tidak ada masalah,” kata Daniel memberi jaminan.

Ben Anderson, yang salah satu bukunya yang terkenal berjudul Imagined Communities, mengatakan, “OK, let’s see!”

Daniel menjelaskan hanya karena wibawa Prof. Ben Anderson-lah, George Aditjondro langsung diterima di program doktor Cornell University.

Kepercayaan yang diberikan Ben Anderson tidak disia-siakan George, di mana ia berhasil menyelesaikan studinya di kampus tersebut.

Sesudah setahun belajar di Cornell University, dia bekerja di sebuah organisasi pengembangan masyarakat di Jayapura, Irian Jaya, selama lima tahun.

Nama George muncul ke permukaan, sejak memosisikan diri sebagai salah seorang pengkritik Soeharto dan Orde Baru.

Sebagai peneliti, George memang fokus meneliti jejak Soeharto, terutama dalam isu korupsi dan Timor Timur (kini Timor Leste).

Ia adalah figur penting dalam kampanye kemerdekaan Timor Timur. Sebagai kritikus yang militant terhadap kedikatatoran Suharto, George menjalin relasi dengan kelompok dan individu yang ditindas di seluruh kepulauan Indonesia.

Penelitian akademisnya di Universitas Satya Wacana di Salatiga, Jawa, menunjukkan bahwa program transmigrasi yang disponsori pemerintah di Timor Timur ialah upaya mengubah keseimbangan demografi di kawasan itu. Dia juga memancing perhatian internasional atas program keluarga berencana pemerintah di Timor Timur.

Lewat beragam teknik luas untuk mengendalikan kelahiran, dia berpendapat hal itu disebut “program kontrol kelahiran perempuan.”

Dia secara terbuka menyangkal klaim pemerintah tentang jumlah rakyat Timor Timur yang meninggal di bawah pendudukan Indonesia, serta menentang sejarah resmi pembantaian Santa Cruz 1991.

Bersama dengan kawan dan kolega kampusnya, Dr Arief Budiman, dia memberikan dukungan vital bagi para mahasiswa Timor Timur saat memanjat pagar kedutaan besar AS sewaktu KTT APEC pada November 1994.

Rezim Suharto memburunya setelah dia berpidato pada Agustus 1994 di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta, tentang suksesi presiden Indonesia.

George menyampaikan lelucon bahwa stuktur kekuasaan di Indonesia boleh dibilang “Ha Ha Ha Ha” (Harto (Suharto), Habibie, Harmoko (Menteri Penerangan) dan Hasan (Bob Hasan, pengusaha kayu)).

“Ha Ha Ha Ha” menjadi slogan populer di antara para mahasiswa di Yogyakarta. Pemerintah memanggilnya untuk diminta keterangan, menyatakan tuduhan pelanggaran Pasal 207 dari Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, terkait penghinaan terhadap penguasa negara.

Dia mengelak perintah panggilan itu, yang diterima pada 28 Desember 1994, dengan mengajukan keberatan hukum secara kreatif: dia mengklaim “Duabelas Hari Natal” dari 25 Desember hingga 6 Januari merupakan hari kudus baginya, dan karena itu tidak akan memenuhi panggilan itu.

Dia menerima panggilan baru pada 1995 saat mengajar di Australia. Dia menanggapi dengan mengajukan izin tinggal permanen di Australia, dan mengambil tempat tugas di Murdoch University Asia Research Centre.

Dia kemudian bekerja di University of Newcastle, mengajar sosiologi korupsi. Dia menjadi pakar soal kekayaan keluarga Suharto.

George juga mengkritik para sarjana Australia tentang Indonesia yang bungkam soal represi rezim demi melindungi karier mereka. Dia menggambarkan penelitian mereka sebagai “beasiswa visa-jalan.”

Dia kembali ke Indonesia setelah Suharto jatuh. Saat turun dari pesawat di Jakarta, sekelompok orang Timor Leste mengelilinginya dan mengangkatnya ke udara. Bertahun-tahun kemudian, dia menerima penghargaan atas kontribusinya oleh pemerintah Timor Leste.

Karena pilihan yang demikian, terutama dalam melawan Soeharto, Majalah TIME pada 24 Mei 1999 menyebut George sebagai “seseorang dengan misi melacak jarahan Soeharto”.

TIME edisi itu memang menurunkan laporan khusus tentang jejaring bisnis Soeharto, serta sengkarut korupsi di sekitarnya. Dan, George menjadi narasumber utama dalam laporan tersebut.

Sebelum berkecimpung dalam dunia akademik dan penelitian, George lebih dikenal sebagai aktivis lingkungan. Dia juga pernah bekerja sebagai jurnalis untuk Majalah Tempo(1971-1979).

Tahun 1979, George keluar dari Tempo dan bergabung dengan lembaga Bina Desa, sebuah yayasan yang mengurusi masalah lingkungan hidup. Dua tahun kemudian dia mendirikan Yayasan Pengembangan Masyarakat Desa (YPMD) Irian Jaya.

Pada tahun 1987, George Aditjondro menerima Hadiah Kalpataru sebagai pengabdi lingkungan dari Desa Padang Bulan, Jayapura, Irian Jaya.  Pada 2003, George menerbitkan buku berjudl “Pola-pola Gerakan Lingkungan: Refleksi untuk Menyelamatkan Lingkungan dari Ekspansi Modal.”

Nama George menjadi makin dikenal pada 2009, saat ia sempat membuat marah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Hal itu terkait buku George bertajuk Membongkar Gurita Cikeas: Di Balik Skandal Bank Century.

Kesan

Andreas Harsono, yang juga rekan dan mantan murid George mengatakan,  Indonesia kehilangan seorang tokoh cendekiawan yang rajin menulis tentang Indonesia.

Menurut Andreas, George juga sosok kritis dan berani. “Dia cendekiawan dan penulis yang rajin. Dia aktivis yang mendirikan lebih dari 20 organisasi di seluruh Indonesia dari Pulau Jawa hingga Papua,” ucapnya.

“Dia seorang intelektual yang istimewa, karena sedikit bahkan tidak sampai lima jari kita bisa menghitung intelektual Indonesia yang pernah menulis berbagai macam daerah di Indonesia. Kebanyakan intelektual kita menulis tentang Pulau Jawa, tidak nasional,” pungkas Andreas.

Pastor Peter C Aman OFM, Direktur Komisi Justice, Peace and Integrity of Creation – Ordo Fratrum Minorum (JPIC-OFM) Indonesia, salah satu sahabat George menyebutnya sebagai tokoh pejuang keadilan, HAM dan antikorupsi yang pernah dimiliki bangsa Indonesia.

“Dia berpihak pada korban rakyat kecil tertindas dari Papua sampai Timor Leste. Ia hidup dari dan demi keadilan dan HAM. George adalah seorang pejuang pemberani yang melawan setiap penguasa lalim dan korup dari Soeharto sampe Susilo Bambang Yudoyono,” katanya.

Ia mengatakan, pada 2009-2012, George terlibat kerja sama dengan JPIC-OFM dalam advokasi melawan kehadiran perusahan tambang di Flores, pulau yang tergolong kecil, di mana mayoritas warganya bekerja sebagai petani.

Pastor Peter menyebut Geroge, berjuang berdasarkan keyakinan kebenaran dan data.

“Dia juga terkenal sebagai pejuang lingkungan yg gigih. Tokoh seperti George diharapkan dan dirindukan bangsa ini. Semogs George yang lain akan segera lahir,” jelasnya.

George, kata dia, juga ikut mendorong Gereja, mengembangkan pastoral palang pintu dan bukan palang merah, melawan korporasi tambang.

“Ia tokoh di balik surat pastoral tolak tambang Keuskupan Ruteng,” katanya.

Sementara itu, Daniel Dhakidae menilai George Aditjondro adalah tipe sarjana yang tidak pernah bekerja setengah-setengah.

“Seluruh dirinya terlibat baik dalam bekerja maupun menjadi tipe intellectual engagé, intelektual yang terlibat dalam soal yang ditelitinya,” katanya seperti dilansir Tempo.co.

Kalau dia meneliti konsentrasi modal dan kekayaan pada segelintir orang, ujar Daniel,  berarti dia menolak konsentrasi kekayaan itu dan berani mengambil risiko terhadap apa pun yang menimpanya.

Daniel menjelaskan topik apa pun yang dipilihnya dikerjakan dengan habis-habisan. Ketika dia menulis tentang Dr Sam Ratulangie, George mengejar bahan-bahan itu sampai ke tanah Papua,  sebelum dia bekerja di Papua.

“Inilah George yang hidupnya berwarna-warni. Ketika dia meninggalkan dunia ini, dia harapkan dunia ini warna-warni, alias Indonesia yang plural dan multikuktural,” kata Daniel.

Katoliknews