Katoliknews.com  –  Minggu, 18 Desember 2016, media sosial Facebook digemparkan dengan dugaan soal praktek pencemaran hosti yang diimani sebagai tubuh Yesus Kristus di Gereja Katedral Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dugaan itu disebar oleh sejumlah akun, termasuk di grup-grup Facebook.

Tudingan bahwa ada kelompok yang sedang mengganggu keharmonisan di NTT segera menyeruak. Pelaku disebut-sebut sebagai penyusup.

Namun, benarkah tudingan tersebut? Informasi yang didapat  Floresa.co dari internal di Polda NTT menyebutkan bahwa ada empat orang yang dituding mencemarkan hosti itu.

Namun, sebenarnya bukan penyusup, sebagaimana dituduhkan. Mereka disebut hendak mengikuti kebaktian, namun, keliru masuk Gereja.

Pihak kepolisian pun mengimbau warga untuk tidak cepat mempercayai informasi di media sosial dan saat ini tim Cyber Crime Polda sedang memantau aktivitas di media sosial.

Sementara itu, Romo Yohanes Kristoforus Tara OFM, Ketua Forum Pemuda NTT Penggerak Keadilan dan Perdamaian (Formadda NTT) yang menyatakan sudah mengontak sejumlah pihak terkait masalah ini mengatakan, berdasarkan informasi yang diperoleh, sesungguhnya peristiwa tersebut tidak termasuk dalam kategori pencemaran hosti.

“Karena, dalam liturgi kita Gereja Katolik, orang Kristen dari Gereja lain juga bisa terima komuni, asal ada niat  dari hati dan telan hostinya,” katanya kepada Floresa.co,

“Nah, salah satu dari mereka tadi memang maju dan terima komuni, lalu telan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, keempatnya memiliki kerinduan untuk ikut kebaktian dan perjamuan.

“Kalau kebetulan masuk Gereja Katolik, ikut Misa dan terima komuni, maka kerinduan mereka terpenuhi. Kita justru bersyukur karena orang bisa berjumpa dan bersatu dengan Yesus Kristus,” ungkap imam fransiskan ini.

Ia menambahkan, jikalau ada penyelesaian lanjutan kasus ini, maka percayakan kepada Keuskupan Agung Kupang, Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) dan Kepolisian.

“Umat diharapkan tetap tenang dan jangan mudah terprovokasi,” ungkapnya.

Sementara itu, Sarah Lery Mboeik, aktivis perempuan di Kupang mengatakan, kini mereka sedang membantu penyelesaian masalah ini.

“Saya bersama Pemuda Katolik Kota Kupang sementara di Polresta Kupang. Keempatnya sangat memohon maaf karena niat mereka adalah untuk ibadah” katanya.

Ia menjelaskan, keempatnya berasal dari Manado, Sulawesi Utara dan penganut Kristen Protestan.

Mereka, jelas Sarah, sebelumnya hendak mengikuti kebaktian ke salah satu Gereja Protestan di Kupang. Namun, saat tiba di Gereja itu, kebaktian sudah selesai.

“Jadi, mereka naik angkutan untuk ke Gereja. Dan, masuklah mereka ke Gereja Katedral itu,” jelasnya.

Sementara itu, Pastor Yulius Yasinto SVD, imam yang memimpin Misa di Katedral Kupang saat terjadi peristiwa itu meminta agar umat tidak muda terprovokasi.

Imam yang juga rektor di Universitas Katolik Widya Mandira, Kupang itu menyampaikan hal itu via akun Facebook-nya.

Ia juga mengapresiasi umat yang sigap mengamankan pelaku dan meminta agar tidak menyebarkan informasi yang bisa menyulut kebencian.

“Agama apapun tidak menjadi besar krn dibela dengan kekerasan dan kebencian. Agama menjadi besar kalau penganut atau umatnya menjlnkan perintah cinta kasih dgn sebenar-benarnya, termasuk perintah utk saling mengampuni n memaafkan,” demikian tulis Pastor Yasinto.

Floresa.co/Katoliknews

Komentar