Mgr Samuel Oton Sidin OFM Cap. (Foto: Ist)

Katoliknews.com – Mgr Samuel Oton Sidin, OFMCap bukanlah nama baru bagi para pegiat ekologi. Lama bergelut dalam urusan rawat-merawat lingkungan hidup, ia akhirnya terpilih menjadi Uskup Sintang yang baru.

Pendiri ‘Rumah Pelangi’ itu terpilih sebagai Uskup Sintang pada tanggal 21 Desember 2016 menggantikan Mgr Agustinus Agus yang sebelumnya menjabat sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sintang.

Lahir di Peranuk, Bengkayang, 12 Desember 1954, Uskup dari Ordo Kapusin ini pernah menempuh pendidikan doktorat di Antonium, Roma tahun 1990. Disertasinya berjudul  “The Role of Creatures in Saint Francis’ Praising of God”, mempertegas spirit yang dibawanya tak  jauh dari warisan luhur  pendiri ordonya, Santo Fransiskus dari Asisi, pelindung lingkungan hidup.

‘Rumah Pelangi’ yang ia dirikan merupakan wujud nyata dari spiritnya untuk mencintai dan merawat lingkungan hidup.  Asal mula nama ini ia diambil dari kisah Nabi Nuh. Setelah 40 hari 40 malam banjir raya menimpa manusia, muncul pelangi di cakrawala. Pelangi, baginya, merupakan tanda perdamaian dan harmoni dengan semua; Allah dan ciptaan-Nya, antara langit dan bumi dan dengan sekalian makhluk. Dengan memakai “pelangi” sebagai nama, kita berharap, rumah ini menjadi penebar harmoni. Setiap orang yang datang, datang dengan damai dan mau mengupayakan damai dengan semua.

Melalui ‘Rumah Pelangi’, ia hadir untuk terlibat langsung dalam melestariakn lingkungan hidup. Pertama-tama, ia berjuang menanamkan kesadaran orang-orang di sekitarnya, terutama warga lereng gunung Benuah. Pekerjaan ini ia rasakan sebagai sesuatu yang tidak mudah. Di sini, ia sering bertemu dengan orang-orang yang masih punya keterbatasan pemahaman tentang ekologi. Orang-orang seperti ini memang agak susah diajak terlibat bersama. Namun ia tidak pernah putus asa.

Satu teks Kitab Suci yang sering ia pakai sebagai pendasaran gerak ekologinya adalah Kitab Kejadian 21:18. Teks ini menginspirasi dia untuk membangkitkan tanggung jawab bersama dalam memanfaatkan, mengelola dan melestarikan alam seturut kehendak Allah. Inspirasi biblis ini menarik. Karena dalam pandangannya, manusia dengan “rumah”-nya sudah seharusnya kembali pada posisi dan kondisi firdausi di mana mereka dapat hidup harmoni dengan alam.

‘Rumah Pelangi’ yang ia dirikan kini menjadi pusat pendidikan ekologi. Ada banyak program yang ditawarkan di sana seperti camping ground, ret-ret bertemakan ekologi, wisata rohani dan ekologis. Tapi yang paling pokok, setelah semua hal itu dilakukan, ia membawa orang-orang untuk menanam pohon-pohon, terutama pohon buah-buahan dan pohon-pohon khas Kalimantan.

Ia pernah menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai pahlawan Kalpataru.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (R) menyerahkan penghargaan Kalpataru untuk kategori Pembina Lingkungan kepada Pastor Samuel Oton Sidin (L) dari desa Sungai Raya, kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat saat peringatan hari lingkungan hidup di Istana Negara, Jakarta, Selasa, 5 Juni 2012. Dalam kesemmpatan tersebut, presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga mencanangkan tahun ini sebagai tahun Badak Internasional sebagai bentuk kampanye penyelamatan spesies Badak Jawa yang terancam punah. (Foto: The Jakarta Post/Jerry Adiguna)

Tapi hal itu ia anggap tidak terlalu penting. Yang paling penting adalah ia tidak akan pernah membiarkan ‘rumah pelaingi’-nya berhenti menginspirasi dan bertindak nyata untuk merawat lingkungan hidup.

Mirifica.net/Katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here