Romo Franz Magnis-Suseno SJ

Katoliknews.com – Romo Franz Magnis-Suseno, Guru Besar Emeritus di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, menyatakan, gesekan antargolongan umat beragama yang terjadi akhir-akhir ini dapat membahayakan keharmonisan dalam merajut nilai-nilai keberagaman di Indonesia.

“Kita menghadapi sesuatu yang bisa membahayakan kita semua, yaitu bahasa ‘kita bersama’ menjadi bahasa ‘kami’ dan ‘mereka’,” katanya dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2016  dengan tema “Tantangan Merawat Kebangsaan Indonesia” di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Kamis 29 Desember 2016.

“Kalau hanya melihat kami dan mereka, yang dilihat hanya perbedaan, persaingan, mungkin sentimen. Kita ditantang untuk betul-betul menghayati (makna) ‘kita bersama’,” lanjutnya, sebagaimana dikutip Liputan6.com.

Menurut dia, bangsa Indonesia punya modal besar untuk kembali merajut dan membangun rasa kebangsaan. Indonesia bisa melakukan apa yang tidak bisa dilakukan negara lain.

“Indonesia begitu mantap bersatu sampai sekarang karena bersedia melakukan sesuatu yang di banyak negara lain tidak berhasil dilakukan, yaitu menerima dalam kekhasan,” tutur Romo Magnis.

Dia mencontohkan, bagaimana suku dan agama di Indonesia bersatu yang dibangun dalam peristiwa Sumpah Pemuda. Dia kagum dengan tokoh Islam terdahulu yang menyetujui dan tak menuntut kedudukan istimewa dalam membentuk Undang-Undang Dasar. Dengan sikap seperti itu, Indonesia mempunyai modal besar untuk saling bersatu.

“Meski ada semacam gesekan, intoleransi, dan sebagainya, sebetulnya konsensus dasar sampai sekarang masih tetap utuh,” jelas dia.

Oleh karena itu, Romo Magnis meminta agar semua pihak bisa menampilkan sikap saling kasih seperti Tuhan Yang Maha Esa. Dirinya pun meminta agar tidak menunjukkan seolah-olah agama menakutkan.

“Agama tidak boleh menakutkan. Kalau menakutkan, masalahnya bukan agama tapi manusia yang sudah menyalahgunakannya. Agama mesti memberikan damai dan mencerminkan rahmat kasih,” tandasnya.

Karena itu, dia mengingatkan agar para pemuka agama sadar akan arti agama sebenarnya, sehingga bisa bersikap rendah hati, dan menunjukkan kebesaran akan kasih Tuhan.

“Kalau kita sadar betapa Tuhan jauh melampaui kita, agamawan yang bicara tentang Tuhan, mesti sangat rendah hati dan sadar bicaranya,” pungkas Romo Magnis.

Katoliknews

Komentar