Statusnya Ditangguhkan Selama Tiga Tahun, Seorang Imam di Uganda Akan Meminta Pengampunan Paus

by
Mgr Cyprian Lwanga dan Pastor Anthony Musala (Foto: The Investigator)

Katoliknews.com – Pastor Anthony Musaala, seorang Imam Katolik Roma di Uganda, Afrika meminta otoritas Keuskupan Agung Kampala yang dipimpin oleh Uskup Agung Cyprian Lwanga agar mengampuni dirinya setelah statusnya sebagai Imam ditangguhkan sejak tiga tahun yang lalu.

Sebagaimana dilansir AllAfrica.com pada Selasa (17/1), Pastor Musaala menerima suspensi dari Gereja Katolik Roma pada Maret 2013 setelah suratnya yang berjudul “Surat terbuka untuk para Uskup, Imam dan Awam. Kegagalan kesucian hidup selibat di antara para Imam Diosesan” tersebar luas di Uganda.

Dalam surat itu ia berargumen bahwa ” sebuah rahasia umum bahwa banyak Imam Katolik Roma dan beberapa Uskup di Uganda dan di tempat lain, tidak lagi menjaga kesucian hidup selibat.” Tak lama kemudian, surat itu bocor ke media.

Dalam sebuah wawancara eksklusif pada hari Minggu, 15 Januari 2017 lalu di rumahnya di Gayaza, Kampala, Ibukota Uganda, Pastor Musaala menyesalkan bahwa surat itu bocor ke media oleh “kekuatan misterius” dan itu telah menyakiti banyak orang.

Namun, ia berpendapat bahwa ia menulis surat dengan itikad baik dan disampaikan kepada otoritas yang tepat dan seandainya surat itu tidak bocor ke media, statusnya sebagai Imam mungkin tidak ditangguhkan.

“Saya diberitahu bahwa saya mendapatkan hukuman tapi saya memohon kepada Otoritas Keuskupan Agung Kampala, saya pergi dan mengatakan saya sangat menyesal atas apa yang terjadi. Mereka meminta saya untuk menulis surat permintaan maaf,” kata Pastor Musaala kepada AllAfrica.com.

“Saya menulis permintaan maaf sebanyak dua kali. Saya pergi dan berlutut di depan Uskup Agung, saya meminta maaf. Mereka mengatakan kami akan berpikir tentang hal itu dan sampai sekarang, mereka sepertinya masih berpikir. Saya telah memohon ampun selama tiga tahun dan tidak mendapatkan apapun,” lanjutnya.

Pastor Musala mengatakan, ia sempat merasa sangat frustrasi dan tahun lalu ia sempat berpikir untuk pindah ke Gereja Ortodoks, namun niat itu diurungkannnya.

“Saya siap dan selalu siap untuk melanjutkan pilihan hidup saya sebagai Imam Gereja Katolik Roma. Saya lahir di Gereja Katolik, dibesarkan di Gereja Katolik dan saya ditahbiskan menjadi Imam di Gereja Katolik Roma,” katanya.

Pada Mei 2016 lalu, Uskup Agung Kampala, Mgr Cyprian Lwanga memintanya untuk menulis surat permintaan pengampunan kepada Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma.

Uskup Lwanga mengatakan bahwa ia hanya pemimpin Gereja lokal, kalaupun Pastor Anthony Musala meminta pengampunan melalui dirinya, jawabannya adalah bahwa ia harus menunggu pesan dari Paus.

Namun, Pastor Musaala berpendapat bahwa Otoritas Keuskupan Agung Kampala adalah bagian dari hierarki Gereja Katolik Roma dan telah mendapat restu dari Paus untuk mencabut suspensinya.

“Hukum Kanonik mengatakan jika Uskup setempat yang memberikan hukuman, itu adalah urusan Uskup setempat juga untuk menghapus hukuman tersebut, sementara jika Paus yang memberikan hukuman, maka Paus yang berwenang menghapus hukumannya,” kata Pastor Musaala.

“Tapi jika mereka tidak ingin membuat keputusan dan menginginkan saya memohon langsung kepada Paus, baiklah saya akan tempuh cara itu,” tutupnya.

Yohanes Trisno/Katoliknews