Para Mahasiswa Katolik Se- Jakarta Selatan Berfoto Bersama Usai Mengadakan Misa Natal dan Tahun Baru Bersama, Sabtu (14/1). Foto: ist

Katoliknews.com -Perkumpulan Mahasiswa Katolik Jakarta Selatan (PMKAJ US), salah satu organisasi mahasiswa Katolik yang membawahi mahasiswa dari Kampus-kampus se-Jakarta Selatan, Depok serta beberapa dari daerah Bekasi dan Tanggerang gelar Natal dan Tahun Baru bersama di Wisma Yesuit, Margonda, Depok, Jawa Barat, Sabtu 14 Januari 2017.

Adapun Kampus-kampus yang masuk dalam PMKJ US ialah Universitas Indonesia (UI), Universitas Nasional (UNAS), Universitas Gunadama, Universitas Indraprasta PGRI (Unindra), Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta.

Selain itu ada Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), Presiden University (PU), STAN, ITI, Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Universitas Pembangunan Veteran (UPN) dan Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta (STPI) juga tergabung dalam organisasi ini.

Acara natal dan tahun baru bersama ini merupakan satu dari 3 acara yang rutin digelar setiap tahun oleh PMKAJ-US. Dua lainnya adalah aksi sosial yang telah dilaksanakan pada Minggu (7/1/2016) Cup yaitu kompetisi olahraga antar universitas se-PMKAJ US yang akan digelar pada tanggal 21, 22, 28 dan 29 Januari 2017 mendatang.

Mengusung Tema Kebhinekaan

Sekitar pukul 17.00, Wisma yang merupakan bangunan tua bercorak sederhana dan bersejarah dalam perjalanan Mahasiswa Katolik Jakarta itu terlihat ramai. Gerebang terbuka lebar dan terlihat, satu, dua dan segerombolan muda/i melangkah masuk.

Di teras, dua mahasiswi mengenakan baju putih tak henti melemparkan senyum ramah kepada setiap orang yang masuk. Di hadapannya terdapat buku tamu. Seperti biasa, dalam setiap upacara, orang-orang yang hadir lebih dahulu melakukan registrasi.

Melewati teras, tepatnya di tengah-tengah bangunan tua itu, sebuah bangunan terpisah dari lainnya dan tak berdinding sudah dirias sedemikan rupa layaknya suasana natal. Ada lampu kelap-kelip, pohon natal, beberapa potong karpet yang menutup ubih putih lantai, serta sebuah meja dan kursi yang ditempatkan di tempat yang paling depan yang nanti digunakan sebagai Altar misa.

Beberapa Mahasiswi membawakan Tarian Khas Batak saat Persembahan (Foto: Katoliknews.com)

Jika menghadap ke depan, terbentang spanduk berukuran 2×3 meter bertuliskan “Rangkaian Acara Cup, Aksos dan Natal PMKAJ Unit Selatan Tahun 2016”. Disambung dengan kalimat: “Berhimpun Dalam Kebhinekaan” sebagai tema natal, aksi sosial dan cup tahun 2016.

Sebagaimana acara natal dan tahun baru dalam Gereja Katholik, acara dimulai dengan misa kudus yang dimulai tepat pukul 18.00 WIB. Misa dipimpin oleh Rm. Swasono, SJ, selaku pembina.

Adapun yang bawakan koor ialah Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) Unindra. Menggunakan kain adat beberapa daerah di Flores seperti Kain Manggarai, Ngada, Nagekeo, Ende dan Sika, KMK Unindra menyanyikan lagu-lagu dengan penuh hikmat. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada saat liturgi ekaristi, tepatnya bahan saat persembaan diantar ke panti imam, tarian daerah Batak menjadi pengiring. Mengenakan pakaian ada Suku Batak, keempat mahasiswa berparas cantik menari dengan ragam yang penuh dengan tanda sembah sujud.

Masih dalam perayaan Ekaristi. Doa permohonan juga cukup unik. Dibacakan dalam beberapa bahasa daerah berbeda dan oleh mahasiswa yang berbeda pula. Ada bahasa daerah Jawa, Batak serta bahasa daerah Sika dan Manggarai – Flores. Keragaman bahasa itu semakin jelas menampakkan keberagaman latar belakang mahasiswa PMKAJ US. Misa berakhir kira-kira pukul 19.45 WIB.

Setelah misa, dilanjutkan dengan makan malam dan pentas seni. Seperti biasa, dalam penetas seni, mahasiswa menghibur mahasiswa lainnya dengan beragam acara. Mulai dari nyanyian, teather, puisi dan lainnya. Nyanyi-nyanyian dibawakan KMK UI dan teather dari kelompok teather “Teras” yang merupakan kelompok teather PMKAJ US.

Mengwali rangkaian acara hiburan, Romo Swasono, SJ memberikan sambutan. Dalam sambutannya, ia menegaskan kepada anggota PMKAJ US untuk menjadikan tema “Berhimpun dalam Kebhinekaan” sebagai pedoman dalam menjalin relasi degan sesama khususnya sesama anggota PMKAJ.

Dari berbagai acara tersebut, yang menarik adalah saat pembacaan puisi oleh Agung Ginanjar Prasetyo, mahasiswa fakultas sastra UNAS. Serentak dalam remangnya cahaya lampu, suaranya memecah keheningan. Berambut panjang dan layaknya sastrawan, ia membacakan lirik-lirik puisi WS Rendra, berjudul, “Khotbah”.

”Ca ca ca-ca ca ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-ca-,” pekiknya melewati satu per satu baris puisinya.

Tyo demikian ia biasa disapa, hadir di tengah mahasiswa PMKAJ US hanya karena kecintaanya pada puisi. Tentu juga ia ingin menyapa teman-temannya yang Katolik yang baginya juga adalah saudaranya. Ia sendiri adalah seorang Muslim.

“Saya hanya ingin hidup bersama dengan yang lain. Ya, intinya marilah hidup bersama dalam perbedaan warna yang indah ini,” katanya kepada Katoliknews.com, Kamis (19/1).

Sementara itu, Nikomedus Dhawmawan selaku ketua PMKAJ US periode 2016-2017 saat ditanya mengapa memilih tema “Berhimpun dalam Kebhinekaan:, menjelaskan bahwa tema itu tidak dipilih begitu saja. Tetapi, berangkat dari refleksi atas berbagai peristiwa intoleran yang kerap terjadi akhir-akhir ini.

“Kami melihat kondisi saat ini dimana masyarkat begitu mudah diprovokasi dan akhirnya terpecah karena alasan perbedaan”, ujarnya kepada Katoliknews.com, Selasa (17/1).

Maka natal kali ini dan dengan tema ini, seluruh kaum muda terutama mahasiswa PMKAJ US diajak untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, pemberian cuma-cuma dari Tuhan yang harus disyukuri.

Apalagi, dalam lingkungan PMKAJ US, anggotanya terdiri dari berbagai latar belakang, baik kampus, suku, ras dan lain sebagainya. Ada yang berasal dari Flores, Batak, Cina, Jawa dan lain sebagainya. Maka, tak lain harus mensyukuri perbedaan tersebut.

“Kami ingin sedikit menyadarkan anggota PMKAJ US bahwa perbedaan bukan sesuatu yang harus dipermasalahkan namun sebaliknya dijadikan suatu keindahan.”

“Untuk teman – teman sekalian saya mewakili PMKAJ US,ingin mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru 2017 semoga lewat inkarnasi Tuhan Kita Yesus Kristus dan tentunya kita diajak untuk tetap menghargai perbedaan,” tutup mahasiswa Universitas Gunadarma itu.

 

Arrio Jempau/Katoliknews

Komentar