Memahami Media Sebagai Kultur Baru, Gaya Hidup, dan Cara Hidup Baru

484
Romo Edy Menori, Pr (Foto: Floresa.co).

Ruteng, Katoliknews.com – Gereja sangat membutuhkan media dalam upaya mengintegrasikan sabda dalam kultur baru. Karena media itu sebuah kultur baru. Media menawarkan kultur baru, dengan bahasa baru, teknik baru dan psikologi baru. Nah, sekarang bagaimana Gereja masuk ke sana dengan menggunakan bahasa baru ini. Tidak bisa kita melunakkan media untuk kepentingan pewartaan.

Hal itu disampaikan Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Ruteng, Romo Edy Menori, Pr di sela-sela kegiatan Rekoleksi dengan Tema Spiritualitas Pewarta Katolik di Aula Keuskupan Ruteng, Jumat, 10 Maret 2017.

Dikatakan Romo Edy, Umat tidak bisa hanya menggunakan media sebagai salah satu alat pewartaan. Umat kan berpikir media sebagai sebatas alat.

 

Romo Edy Menori Berfoto Bersama Para Peserta Seusai Rekoleksi (Foto: Alfan Manah).

 

“Media itu kan kultur baru, gaya hidup dan cara hidup baru.Nah kalau kita melihat Media sebagai sebuah kultur baru, gaya hidup dan cara hidup, kita tidak bisa melihatnya sebagai alat,” ujarnya.

“Masalah utama kita kan, kita ini hanya sebatas meneruskan tradisi tanpa ada sebuah refleksi untuk melihat konteksnya sudah bergeser banyak. Kita masih dengan tradisi lama,’ lanjut dia.

Spiritualitas Pewarta Katolik

Romo Edi ,melanjutkan, sebagai Jurnalis Katolik, Umat diharapkan memiliki spiritualitas yang sama dalam menjalankan misi kemanusiaan.

“Pekerja media Katolik juga mengusung spiritualitas Katolik sebagai garam dan terang dunia. Spiritualitas itu semangat. Ada sebuah nilai yang mau kita perjuangkan melalui karya-karya kita di bidang jurnalistik,” ungkap Romo Edy.

Dikatakannya, pewarta Katolik harus menyadari misi yang satu dan sama yaitu misi kemanusiaan. Melalui misi itu kita membawa pesan Kristus.

“Hal itu menjadi pokok penting dari spiritualitas sebagai orang Kristen. Kecenderungan kita selama ini kalau bicara spiritualitas berarti doa. Tetapi sebetulnya spiritualitas itu perjuangan nilai kemanusiaan yang didaraskan di atas doa dan iman akan Kristus,” ujarnya.

Ia juga mengatakan, Jurnalis atau Pewarta Katolik adalah sebuah panggilan, terutama di aman modern seperti sekarang.

“Tugas Jurnalis adalah panggilan. Tugas apa saja adalah panggilan. Panggilan dan perutusan ibarat dua sisi mata uang. Bisa dibedakan namun tak bisa dipisahkan,” ujarnya lagi.

Sementara itu, Wakil Komsos Keuskupan Ruteng, Romo Erik Ratu mengatakan Jurnalis adalah tugas yang mulia.

“Melalui karya-karya jurnalistik, kita mengajar, mendidik, memberi informasi, mengadvokasi, juga mendorong perubahan,” tandasnya.

 

Alfan Manah/Katoliknews

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here