Pengikut Kristus, Kaum Teraniaya

oleh
Seorang polisi Pakistan berjalan dekat lokasi ledakan bom bunuh diri yang menargetkan keluarga Kristen di sebuah taman terbuka di Lahore, 28 Maret, 2016 (Foto: AFP).

Katoliknews.com – Jika seseorang mempelajari sejarah perkembangan Gereja, maka ia akan mengerti bagaimana perjuangan para pengikut Kristus terdahulu dalam mempertahankan imannya.

Bukan perkara mudah, Umat Nasrani awalnya tak diakui oleh Kekaisaran yang paling besar pada masa itu, Kekaisaran Romawi, dan tak sedikit dari mereka yang harus meregang nyawa karena menolak untuk murtad.

Pengeboman salah satu Gereja di Mesir (Foto: ist).

Walaupun dalam perkembangannya Agama Katolik dijadikan Agama resmi Kekaisaran Romawi, perjuangan Umat belumlah selesai.

Hal tersebut terus terjadi di dunia modern seperti sekarang, tengok saja bagaimana kasus pembunuhan masal Umat Kristiani di Timur Tengah, di Afrika bagian Tengah, bahkan di Mesir mereka dibom saat sedang melaksanakan ibadat.

“Di Bawah Pedang Caesar”

Sebuah laporan yang dikeluarkan pekan lalu berbunyi, ketika berbicara tentang penganiayaan berbasis agama, orang-orang Kristen menjadi kelompok yang paling menjadi target di seluruh dunia.

Kondisi salah satu Gereja setelah dibom kelompok ISIS (Foto: ist).

Laporan bertajuk “Di Bawah Pedang Caesar” yang merupakan proyek gabungan Universitas  Notre Dame dan Pusat Kebebasan Beragama Berkley Center di Universitas Georgetown , dipublikasikan tanggal 20 April 2017 di Washington D.C.

Laporan itu tidak hanya mendokumentasi penganiayaan terhadap umat Kristen di seluruh dunia, tapi juga tentang bagaimana mereka menanggapi penganiayaan.

“Orang-orang Kristen menjadi kelompok yang menjadi target utama,” kata laporan tersebut seperti dilansir Catholic News Agency.

Ada tiga jawaban yang lazim dari komunitas-komunitas Kristen terhadap kekerasan yang mereka alamai seperti: bertahan hidup, strategi untuk berbaur, dan konfrontasi, meskipun jawaban yang terakhir tidak lazim.

Bertahan hidup mencakup pilihan kelompok-kelompok Kristen untuk bertahan di mana mereka berada meskipun mengalami penganiayaan, misalnya kelompok minoritas di Iraq dan Syria, berkumpul secara rahasia untuk berdoa seperti gereja bawah tanah di Cina atau mempertahankan hubungan dengan rejim yang berkuasa.

Komunitas-komunitas Kristen juga menggunakan ‘strategi asosiasi’ dengan membangun hubungan dengan lembaga-lembaga non pemerintah atau kelompok internasional seperti PBB, atau memperkuat hubungan sosial mereka di negara mereka tinggal melalui layanan sosial atau menerapkan strategi memaafkan.

Contohnya Kristen Koptik dan Muslim di Mesir yang berusaha bersama-sama untuk saling melindungi gereja dan masjid dari kekerasan tahun 2011.

Ledakan bom di salah satu Gereja di Samarinda, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu (Foto: ist).

“Tanggapan orang Kristen terhadap penganiayaan hampir selalu tanpa kekerasan, dengan sedikit pengecualian, tidak melibatkan aksi terorisme,” demikian laporan tersebut.

Beberapa dari kelompok Kristen yang sangat teraniaya terjadi di negara-negara yang terisolasi dan tertutup terhadap penelitian dari luar, misalnya Korea Utara, Eritrea, Somalia, dan Yaman.

Orang-orang Kristen di seluruh dunia berusaha untuk menerapkan dialog, membangun hubungan yang baik dengan kelompok lain dalam masyarakat, dan tanpa kekerasan, lanjut laporan tersebut.

Keberanian Paus Fransiskus

Pada perayaan Minggu Palma beberapa pekan lalu, terjadi hal memilukan yakni tewasnya puluhan Umat Kristen Koptik akibat bom bunuh diri di Kota Tanta dan Kota Alexandria, Mesir.

Kejadian tersebut ibarat sebuah gertakan, mengingat sebelumnya beberapa pemimpin agama, termasuk Paus Fransiskus hendak berkunjung ke negera tersebut guna mengikuti dialog antar umat.

Namun, bukannya membatalkan agendanya, Paus justru menegaskan bahwa tak ada satupun yang bisa menghalanginya berkunjung ke negeri Firaun tersebut.

Kunjungan itu sendiri akan berlangsung pada Jumat, 28 April 2017.

Paus Fransiskus, keberaniannya adalah teladan luar biasa bagi seluruh Umat Kristiani (Foto: ist),

Bagi sebagian orang, sikap Paus mungkin dianggap sebagai kegilaan, namun bagin sebagian orang, ini adalah teladan baik dari seorang pemimpin.

Dunia dengan segala ancamannya bukanlah hal yang menakutkan bagi Paus Fransiskus, walaupun ia sadari dengan melakukukan kunjungan ke Mesir yang notabene situasi keamanannya belum stabil, ia bisa saja menghadapi kemungkinan terburuk.

Paus hanya mau menunjukkan kepada Umat yang dititipkan Tuhan kepadanya, bahwa yang perlu ditakuti di dunia ini hanyalah Tuhan sendiri.

Bahwa, sejak keberadaannya di muka bumi ini, Umat Kristiani adalah Umat yang teraniaya, namun situasi itu justru membuat jumlah pengikut Kristus semakin bertambah.

 

JTP/Katoliknews/Ucannews