Acara peluncuran buku "Mata Sang Guru" di Pangkalpinang, Senin 1 Mei 2017. (Foto: Stefan)

Katoliknews.com – Keuskupan Pangkalpinang meluncurkan buku berjudul “Mata Sang Guru,” yang mengisahkan tentang mendiang Mgr Hilarius Moa Nurak SVD.

Peluncuran yang berlangsung di Pangkalpinang pada Senin, 1 Mei 2017 juga dirangkai dengan acara bedah buku tersebut.

Hadir sebagai narasumber Pastor Aurelius Pati Soge SVD dan Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kota Pangkalpinang, Akhmad Elvian.

Willy Siswanto, budayawan kota Pangkalpinang memoderatori acara ini, yang dihadiri sekitar 200 orang.

Mgr Yohanes Harun Yuwono, Administrator Apostolik Keuskupan Pangkalpinang, yang menulis prolog buku itu juga hadir dan menyampaikan sambutan, di mana ia menyebut Mgr Hila sebagai seorang perantau sejati.

“Ia seperti Abraham yang tercabut dari akarnya, meninggalkan kampung halamannya, dipilih menggembalakan umat Allah di Keuskupan Pangkalpinang. Dan, Ia tidak pernah mau kembali ke kampungnya di Maumere, NTT,” kata Mgr Yuwono.

Mgr Hila yang meninggal pada 29 April 2016 melayani Keuskupan Pangkalpinang selama hampir 30 tahun sejak ia ditunjukan sebagai uskup pada 30 Maret 1987.

Mgr Yuwono menambahkan, buku “Mata Sang Guru” menyajikan potret yang lengkap tentang sosok Mgr Hila sejak kecil, sebagai frater dan imam, dan sebagai Uskup Pangkalpinang.

Sementara itu, Pastor Aurelius, yang juga mantan murid Mgr Hila saat di Seminari Menengah San Daminggo Hokeng, Flores Timur, menyebut bahwa buku ini berisi aneka wajah mosaik tentang Mgr Hila.

Pastor Aurelius begitu eksploratif saat memaparkan pandanganya. Ia juga menyampaikan berbagai cerita menarik dan unik tentang Mgr Hila ketika di Hokeng.

Ia juga menyoroti peran Mgr Hila dalam upaya menjalin dialog dengan budaya dan agama lain.

“Dalam buku ini, kita juga menemukan bahwa Mgr Hila SVD adalah pribadi yang menjaga kebhinekaan,” ujarnya, sambil menambahkan, umat Pangkalpinang sangat perlu membaca buku tersebut.

Sementara itu, Akhmad Elvian dalam pemaparannya mengatakan, hal terpenting bagaimana semua orang bisa membaca dan memaknai isi buku itu.

“Dalam buku ini, kita kenal bahwa Mgr Hila adalah uskup seribu pulau, yang berjuang mengarungi pulau dan menantang ombak,” katanya.

Ia pun berharap, para gembala umat di Pangkalpinang mengikuti teladan Mgr Hila.

“Harus bertahan dan tidak takut untuk menerjang ombak dalam pelayanannya masing-masing,” katanya.

Akhmand juga menyebut buku itu dengan istilah menarik, yakni bergenre sejarah intelektual (intellectual history).

“Karena buku ini merekonstruksi sejarah hidup dan menempatkan Mgr Hila sebagai man of history,” jelasnya.

Hal penting lain, dalam buku tersebut, kata dia, pembaca juga bisa mengenang kesederhanaan Mgr Hila, yang lebih senang sebagai pendengar.

“Hal ini beda dengan karakter kita orang Bangka, kalau omong tidak mau berhenti,” katanya.

Acara peluncuran ini dihadiri juga tokoh penggagas pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung seperti Amung Tjandra, juga  Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Dapil Babel, Ir Rudianto Tjen serta para pejabat dari Provinsi Bangka Belitung.

Dalam acara ni, juga diluncurkan buku “Gurindam Jiwa dalam 29 Pasal, bersuluh lilin dilambung Ombak, Atok Kami Mgr. Hilla” yang ditulis oleh Romo Paschal Esong.

Romo Paschal, yang bersama Saverius Moa membacakan gurindam 29 pasal membuat suasana menjadi hening.

Romo Paschal Esong membacakan gurindam 29 pasal. (Foto: Stefan)

Bahkan anggota DPRD Bangka Tengah, Me Hoa yang turut dilibatkan dalam membaca gurindam itu tidak mampu menahan air mata saat membacakan gurindam pasal 27.

Acara peluncuran kedua buku ini pun ditandai dengan pelelangan 10 buku, yang dananya dialokasikan untuk pembinaan di Seminari Menengah Mario John Boen (SMMJB) Pangkalpinang, lembaga pendidikan yang dirintis Mgr Hila.

Banyak umat yang tergerak membeli 20 buku itu di atas harga normal. Beberapa di antaranya adalah Rudianto Tjen, Yohanes, Sarjulanto, Teddy Halim dan dokter Lusi Silalahi.

Ary/Stefan/Katoliknews

Komentar