Antara Filosofi Pendidikan dan Sekolah

oleh
Romo Egidius Menori, Pr

Oleh: Romo Edigius Menori Pr, anggota Majelis Nasional Pendidikan Katolik (MNPK)

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) setiap 2 Mei ibarat ruang waktu yang menyatukan ingatan dan kesadaran kita akan buah-buah pendidikan yang diperlihatkan anak bangsa ini.

Di satu pihak, kita bangga dengan menurunnya angka buta huruf dan meningkatnya jumlah anak bangsa yang mengenyam pendidikan tinggi.

Pada pihak yang lain mereka yang menyebut diri terdidik bahkan religius, dalam kenyataanya lebih banyak memicu keresahan di tengah masyarakat.  Buah pendidikan kita bukannya memberikan harapan kepada masyarakat malahan sebaliknya  menakutkan masyarakat.

Baiklah hari ini kita sadari kembali makna sekolah.  Semua memang pernah duduk di bangku sekolah, tapi tidak semua sukses menjadi murid yang cerdas, baik dan setia.  Banyak yang bertitel dan berijasah tapi tidak semua pantas disebut yang terdidik.

Mengapa demikian? Karena bangsa ini lebih menghargai sekolah dan orang yang berpendidikan dari pada kebudayaan dan orang yang berbudi luhur. 

Banyak dana dan pikiran tercurah untuk membangun sekolah dan cetak ijazah. Sementara anggaran untuk membagun ‘kultur’ belajar dan ‘kultur’ pendidikan diabaikan.

Kita bicara tentang pendidikan bangsa, tapi sebatas mengurus sekolah. Pendidikan disederhanakan maknanya hanya berkaitan dengan sekolah, alias pendidikan formal dan non formal.

Kita sangka, seluruh kekayaan dan kearifan budaya bangsa bisa diwariskan melalui pendidikan formal.

Kita terlalu mencampuradukan dua entitas yang berbeda yakni pendidikan dan sekolah. Filosofi pendidikan disamakan saja dengan filosofi sekolah. Sekolah yang pada hakekatnya pertama-tama merupakan upaya membuat anak mengerti dan mengetahui dituntut untuk memprioritaskan menghayati nilai dan mempraktekan sikap keagamaan.

Guru  berperan membuka wawasan dan pengertiaan para murid. Pengetahuan penting untuk membentuk sikap. Pengetahuan tentang nilai membantu murid untuk bertindak baik dan benar dan menjauhkan yang jahat. Karena itu, sekolah memberikan dasar pengetahuan kepada siswa untuk bertindak dan menghayati nilai. Namun, hal ini tidaklah berarti tidak ada ruang dan tempat di sekolah untuk penghayatan nilai. Tetapi hanya mau menegaskan bahwa pertama, hakekat sekolah pertama-tama berurusan dengan pengetahuan. Kedua, hakekat pendidikan jauh lebih luas dan dalam dari pada hakekat sekolah (pendididikan formal).

Memperluas peran sekolah (tempat belajar menjadi tempat membentuk sikap) menjadi medan melatih prilaku (pendidikan) menuntut konsekuensi untuk mengurangi jumlah mata pelajaran dan materi ajar untuk memberikan ruang pada praksis nilai dan kebudayaan.

Mungkinkan di sekolah-sekolah kita yang jumlah mata pelajaranya tergolong paling banyak dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia dengan muatan materi ajar yang banyak pula, dapat mewujudkan harapan bangsa ini agar sekolah ikut berperan dalam membentuk prilaku anak-anak?

Maaf catatan ini berakhir dengan sebuah pertanyaan yang saya sendiri tidak bisa menjawabnya.

Tulisan ini sebelumnya dipublikasi di Mnpkindonesia.org