Soal Ekstremisme dan Keberagaman, Ini Kata Romo Magnis

by
Romo Frans Magnis Suseno (Foto: Republika.co.id).

Katoliknews.com – Salah satu Perguruan Tinggi Islam di Indonesia, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) mengadakan pengkajian Ramadhan PP Muhammadiyah yang berlangsung sejak tanggal 5 hingga 7 Juni 2017.

Dalam kegiatan tersebut, sebagaimana dilansir Republika.co.id, tidak hanya tokoh agama Islam yang diundang, beberapa tokoh agama lain juga turut hadir.

Tokoh agama Katolik, Romo Franz Magnis Suseno, menjadi salah satu pembicara saat dialog antar agama dibuka.

Dalam paparannya, ia sempat menceritakan perjalanan gereja Katolik di masa lalu, khususnya sebelum Konsili Vatikan II.

“Pada pertengahan abad yang lalu, Gereja Katolik akhirnya mulai membuka diri, terutama kepada Protestan,” kata Romo Magnis, Selasa (6/6).

Padahal, lanjut dia, sebelumnya Gereja Katolik terbilang sangat memusuhi agama-agama lain, tidak terkecuali Islam.

“Baru pada tahun 70-an, hubungan Katolik dan Islam mulai membaik, setelah sebelumnya tidak ada sama sekali komunikas yang baik,” kata dia.

Romo Magnis berpendapat, komunikasi itu memiliki posisi penting dalam rangka bersama-sama menentang kekerasan, terutama yang ada di Indonesia.

Ia melihat, komunikasi itu berperan untuk mengembangkan paham keagamaan yang tidak membuat takut.

“Tapi, ekstrimisme sendiri hadir karena dunia semakin modern, ditambah suasana kapitalis dengan semakin banyaknya usaha komunitas yang berhadapan,” lanjut dia.

Saat ini, kata dia, semakin banyak orang menganggap keberagaman sebagai kompetisi, hal mana yang akan memicu pergesekan antar Umat.

“Persaingan malah merujuk kepada ancaman yang tentu bukan tidak mungkin menimbulkan rasa ego yang tinggi di antara masing-masing umat beragama,” tutup Romo Magnis.

 

JTP/Katoliknews