Keluar Dari Zona Nyaman, OMK dari Jakarta Ini Belajar Toleransi di Dusun

by
OMK Sathora sedang belajar dialog budaya dengan memainkan alat musik tradisional. (Foto: dok)

Katoliknews.comBiasanya pada hari-hari libur, mal dan pusat-pusat perbelanjaan lain tidak pernah sepi. Siapapun akan ke tempat-tempat demikian.

Namun, beda halnya dengan anak-anak muda yang terhimpun dalam wadah kelompok Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santo Thomas Rasul  (Sathora) Bojong, Jakarta.

Pada Rabu, 5 Juli sampai Minggu, 9 Juli, sekitar tujuh puluhan OMK Sathora beranjak dari paroki mereka ke sebuah gereja stasi yang disebut Gubug karena dekat sawah di lereng Gunung Merapi.

Di sana, mereka belajar untuk peka pada keberagaman dan belajar tulus seperti alam.

Sebagian besar di antara mereka baru kali ini mengikuti kegiatan demikian. Mereka harus keluar dari zona nyamannya sebagai warga dan OMK paroki di ibukota negara.

Audrey Isabella dan Ricky, bukan termasuk OMK Sathora yang pertama kali ikut live in seperti ini.  Tetapi, untuk tujuan belajar soal pluralisme, mereka mengaku ini yang pertama kali.

“Terhitung ini yang kedua kalinya ikut live in. Tahun 2012 ke Sukorejo bersama OMK Paroki Sathora juga,” ungkap Audrey kepada Katoliknews.com.

OMK yang juga aktif Legio Maria ini mengaku live in selalu indah dan memberi pengalaman unik untuknya.

Berdasarkan pantuan Katoliknews.com, Audrey juga ikut menjadi pemain gamelan saat kelompoknya yang tinggal di Dusun Grogol mementaskan tarian “Jalan Tur” pada Pentas Seni, Sabtu, 8 Juli malam di Gubuk Lor Senowo. 

Audrey mengatakan, dirinya merasa live in kali berbeda. “Kalau yang dulu belajar berbagi, kalau sekarang lebih fokus pada belajar toleransi,” imbuh Audrey yang mengaku tinggal di rumah keluarga Sisarno ini.

Selama di sana, tepatnya di dusun Tutup Ngisor, Ricky mengaku ikut memanen kacang panjang, cabe dan pepaya.

“Ketika saya ikut memanen kacang panjang, sampe sakit pinggang,” imbuh Ricky yang sudah empat kali ikut live in seperti itu.

Ricky mengaku tinggal di rumah keluarga Bu Prapto yang nota bene adalah keluarga Muslim.  

Ricky begitu terpesona, karena keluarga itu menerimanya dengan ketulusan.

“Beliau (Bu Prapto) sudah ditinggal sama suaminya beberapa tahun yang lalu,” kata Ricky.

“Ia sangat ramah menyambut kedatangan kami yang non Muslim,” tambahnya.

Sementara itu, Arko, salah seorang panitia mengatakan kepada Katoliknews.com, dirinya bangga dengan rekan-rekan OMK yang mau keluar dari zona nyamannya untuk bisa belajar peka pada pluralisme di dusun, jauh dari keramaian kota.

Santo, juga anggota panitia mengatakan, dengan mau belajar di dusun, OMK bisa memaknai nilai-nilai ketulusan, keterbukaan pada perbedaan dan peka pada alam.

“Kalau mau belajar tentang manajemen pasar, di sini bukan tempatnya,” katanya.

Stefan/Katoliknews