dr. Margareta Diyan Novina Jati

Katoliknews.com – Disaat banyak rekan-rekan seprofesinya memilih berpraktek di kota besar di Pulau Jawa, dokter berkulit terang ini justru memilih melayani pasien di Jayapura, Papua. Berada di masyarakat Papua membuat dr Margareta Diyan Novina Jati menemukan arti hidupnya. Gadis yang semasa SMU tinggal di asrama Stella Duce 1 ini ingin menjadi pensil Tuhan untuk menuliskan cerita indah kehidupan.

Masa kecil dokter ramah yang biasa disapa dokter Reta ini dihabiskan di salah satu daerah transmigrasi di Jayapura, Papua.  Pekerjaan ayahnya membuat mereka sekeluarga pindah ke ibukota provinsi Jayapura. Reta lalu melanjutkan studinya di Jawa tepatnya di Yogyakarta.

“Kehidupan asrama menempa saya menjadi gadis yang disiplin dan mandiri. Setelah itu saya melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Katolik (Unika) Atmajaya Jakarta,” kata gadis yang pernah menjadi relawan penyuluh organisasi Alzheimer Indonesia dalam masa orientasi SMA dan SMP  ini mengawali kisahnya.

Pasutri Yohanes Sugiyarto dan Dionesia Pri Utami sangat mengharapkan putri bungsu mereka ini bisa menjadi dokter. Kebetulan ibu Reta berprofesi sebagai bidan. Dokter Reta mengaku mulanya dokter merupakan ambisi orangtuanya. Hatinya belum tertambat di profesi mulia itu. Seiring waktu yang berjalan, Reta menemukan panggilan hidupnya sebagai paramedis yang bertugas menyelamatkan nyawa pasien ini.

Sewaktu menjalani kepaniteraan klinik (ko-ass) bungsu dari tiga bersaudara ini menemukan pengalaman berharga salah satunya di departemen Jiwa. Disana ia bertemu dengan teman-teman pecandu narkoba yang sedang berjuang untuk sembuh. Awalnya, ia  berpandangan buruk dengan pecandu narkoba.  Anggapan itu berubah. Reta menyaksikan sendiri perjuangan para pecandu untuk lepas narkoba. Proses penyembuhannya cukup berat karena terjadi pada susunan saraf mereka.

dr. Reta bersama anak Papua

Para penghuni rehabilitasi narkoba harus berjuang dengan kerasnya menyangkal setiap dorongan dan sensasi dalam otak mereka agar bisa bebas obat.

“Meskipun kerap kali gagal, berkali-kali masuk rehabilitasi bukan karena mereka bandel, nakal, tidak patuh. Tapi mereka berjuang dan akan selalu berjuang seumur hidup. Maka kita sedikitpun tidak berhak untuk menghakimi mereka. Klien kesehatan yang saya temui selama menjalani stase di departemen Jiwa dan perilaku menyadarkan saya bahwa mustahil menyembuhkan raga disaat jiwa kita masih bermasalah,” ujar gadis yang pernah menjadi moderator seminar awam lansia ini miris.

Setiap kali tergoda untuk mundur dan menyerah dari pendidikan dokter, pengagum presiden pertama RI Soekarno ini merasa perjalanannya sudah jauh dan sayang bila harus terhenti di tengah jalan.  Hingga akhirnya Tuhan membukakan ‘pintu’ hati Reta.

“Ketika saya mengucapkan Sumpah Dokter, saat itulah saya benar-benar menyadari bahwa banyak tugas yang harus saya lakukan. Langkah saya tidak berhenti sampai saya mengucapkan sumpah, justru saat itulah awal mula perjalanan saya. Saya merasa bahwa panggilan saya lebih daripada menjadi seorang klinisi. Saya ingin menyentuh jiwa manusia, seperti yang Tuhan Yesus ajarkan mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri,” ujar dokter muda yang sehari-hari bekerja sebagai dokter intership di RSUD Abepura dan Puskesmas di Jayapura, Papua ini.

Selepas menuntaskan studi kedokterannya pada 2016, Reta memutuskan kembali ke Jayapura. Hatinya berlabuh di tempat ia menghabiskan masa kecilnya.

”Meskipun lama tinggal di Jayapura (hingga SMP) tetapi ketika kembali lagi ke daerah ini sebagai seorang dokter, tentunya menjadi tantangan baru, saya seperti beradaptasi kembali. Saya pun sempat mengalami culture shock. Untunglah sedikit demi sedikit saya mulai bisa beradaptasi,” ujar gadis muda yang pernah mengikuti pelatihan SAR Darat oleh Badan SAR Nasional di Bogor tahun 2011 ini

RSUD tempatnya mengabdi selalu kebanjiran pasien. Masyarakat Papua mendapat jaminan kesehatan daerah. Semua penduduk asli Papua dijamin kesehatannya, dan semua tindakan medis ditanggung apapun diagnosisnya.

Namun dilain pihak tidak sedikit masyarakat yang belum paham bahwa Instalasi Gawat Darurat (IGD) adalah tempat khusus gawat darurat  sehingga tidak jarang masyarakat datang ke IGD dini hari dengan keluhan batuk pilek. Situasi inilah yang membuat IGD penuh sesak. Dr Reta pun mendapat pasien yang banyak setiap harinya.  Ketua Panitia Sumpah Dokter Angkatan 1 2016 ini harus bijak menjaga stamina dan juga emosi.

“Sebelum bekerja saya selalu berdoa memohon rahmat agar dapat menghadapi semua kasus dengan kepala dingin. Saya sering sekali terpancing untuk marah pada pasien yang “bandel” bila diberitahu. Tetapi saya selalu teringat pada perkataan dosen saya “Jika nada pasien naik dan marah jangan sekali-kali terpancing untuk menurunkan derajat dan harga diri kalian dengan ikut marah”. Jadi dengan menjaga emosi di depan klien kesehatan, saya pun menjaga harga diri sebagai seorang dokter,” ujar lajang kelahiran Surabaya, 22 November 1992 ini seraya tersenyum.

dr. Reta bersama pasien

Di Indonesia semakin banyak fakultas kedokteran yang dibuka. Lulusannya pertahunnya pun sangat banyak. Namun mengapa Indonesia masih saja mengatakan kekurangan Dokter apalagi di daerah pedalaman? Dokter jarang yang bersedia mengabdi di Pedalaman. Salah satu alasannya mereka khawatir dengan keamanan, sarana dan prasarana. Dokter Reta berharap dengan perbaikan infrastruktur saat ini dapat diiringi dengan peningkatan keamanan dimanapun itu, sehingga makin banyak dokter muda yang tergerak untuk melayani penduduk di daerah terpencil.

“Melihat senyum pasien dan perjuangan mereka untuk sembuh membuat saya bahagia. Percayalah meskipun tanpa kata “terima kasih” saya sangat bahagia boleh menjadi perpanjangan tanganNya,” ujar  gadis yang mengidolakan aktivis kampus almarhum Soe Hok Gie ini.

Bagi penggemar travelling ini dokter Katolik tak boleh hanya mengandalkan ilmu dan keterampilan semata. Mereka haruslah memiliki empati dengan penderitaan pasien.

“Dari semester awal kuliah kedokteran, empati adalah hal yang sangat dipesankan berulang-ulang di almamater saya. Saya yakin fakultas kedokteran lain juga mengajarkannya. Sayangnya kian lama empati dokter kian pudar tergerus oleh kebutuhan materi. Empati bukan hanya terhadap pasien tetapi juga pada sejawat,” himbau peraih nilai tertinggi OSCE Nasional se-fakultas kedokteran Unika Atmajaya periode Februari 2016

Tak haya itu integritas adalah hal yang penting bagi seorang dokter Katolik. Perkataan seorang dokter hendaknya selaras dengan perbuatannya. “Tidak perlu takut melawan arus jika kita tahu pasti arus itu salah. Orang baik akan menemukan orang baik lainnya untuk berjuang bersama. Seorang dokter katolik harus idealis tetapi disaat yang bersamaan iapun harus realistis inilah hal lain yang saya dapatkan dari para guru saya, dan percayalah sampai detik ini saya juga masih berjuang untuk melakukannya,” ujar dokter yang masih berpikir untuk melanjutkan S2 ini. Bidang peminatan dokter Reta saat ini diantaranya neuroscience, addiction, health policy. Selain itu ia  ingin sekali mengambil S2 di luar negri dengan beasiswa.

Setelah lulus, adik arsitek Lucia Dina Rosaria ini berencana akan kembali ke Indonesia sembari mencari ‘sesuatu’ yang saya bisa dilakukan untuk negaranya tercinta ini. Sambil termenung Reta mengatakan apakah ia bermimpi terlalu tinggi?

“Lalu ia menjawab, “Tak apalah, Jika punya mimpi harus dibagikan keseluruh semesta, agar lebih semangat meraihnya, jika semesta mendukung kesempatan meraih impian akan terbuka,” ujar gadis yang terinspirasi dari kalimat Soekarno yang berbunyi “Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Bermimpilah setinggi langit. Karena jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang,”

Dokter Reta mengaku belum merasa puas dengan apa yang dicapainya sekarang. “Saya tidak bermaksud sombong tetapi jujur saya belum merasa bangga dengan pencapaian saat ini. saya lebih merasa bahwa gelar dokter ini adalah tanggung jawab. Terkadang bahkan saya merasa ini beban dan sebuah janji yang harus saya penuhi. Masih banyak yang harus saya capai dan lakukan,” tekad Umat Paroki Gembala Baik Jayapura, Papua ini mengakhiri ceritanya.

Ivonne Suryanto/j-aR/Katoliknews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here