Gambar: Ilustrasi

Purwokerto, Katoliknews.com – Dalam rangka Asian Youth Day (AYD) 2017, 50 orang muda Katolik (OMK) asal Jepang dan Thailand mengunjungi Pondok Pesantren An Najah, Purwokerto, pada Selasa 1 Agustus 2017 sore. Kesempatan itu mereka gunakan untuk berdiskusi soal keberagaman dan toleransi.

Kunjungan itu merupakan agenda Day In Dioces (DID), satu dari 3 agenda utama AYD 2017. Dalam DID, peserta diwajibkan mengetahui dan mengenal lebih dekat kehidupan umat di tempat mereka diterima. Dan di Purwokerto peserta tersebut diarahkan mengenal kehidupan di pesantres An Najah.

Sedangkan 2 agenda lainnya adalah AYD’s Venue, dan Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM).

Dilansir Gatra.com, Selasa 1 Agustus 2017, saat kunjungan tersebut, didampingi OMK dari Banyumas, Cilacap dan sekitarnya, peserta dan Santri tampak langsung akrab begitu mereka tiba di Pondok Pesantren. Satri di Pesantren tersebut merupakan mahasiswa sejumlah Peguruan Tinggi di Purwokerto.

Dalam kesempatan itu, selain bertemu dengan Santri, mereka juga bertemu dengan Pengasuh Pondok Pesantren An Najah, Kyai DR M Roqib. Kesempatan itu digunakan untuk berdiskusi soal keberagaman dan toleransi yang dikembangkan pesantren An Najah.

Peserta asal Jepang, Giok, menanyakan hubungan antara pesantren dengan kelompok non Islam. Dia juga bertanya soal konflik berbasis keagamaan, ras maupun suku. “Bahwa sebelumnya diceritakan ada beberapa mahasiswa Katolik, Kristen yang tinggal datang untuk belajar di Pondok Pesantren ini. Apakah mungkin mereka berpindah agama menjadi Muslim?” tanya Giok.

Menjawab pertanyaan ini, Roqib menjelaskan bahwa banyak anak muda atau mahasiswa Kristen atau Katolik yang seringkali datang ke pondok pesantren An Najah. Bahkan, ada pula yang tinggal cukup lama. Akan tetapi pesantren tak pernah mencampuri urusan agama mereka. Roqib menegaskan, mereka pun tidak ada yang lantas menjadi Muslim.“Jangan khawatir,” tandasnya.

Soal konfilk yang kerapkali terjadi dengan alasan SARA, Roqib mememastikan bahwa konflik itu berawal dari komunikasi yang buruk antar agama atau antar suku. Miss-komunikasi itu menyebabkan mereka sulit memahami satu sama lainnya.

“Ini arti penting dari kehadiran Anda semua di pesantren sehingga bisa saling kenal,” ujarnya.

Mendapat jawaban Pengasuh Ponpes An Najah itu, seorang remaja Jepang lainnya, Risako mengaku senang berkawan dan berkenalan dengan santri An Najah.

“Saya sangat senang di tempat mereka (Pondok Pesantren An Najah). Mereka sangat terbuka dengan kita. Walaupun Indonesia mempunyai beragam kebudayaan, perbedaan agama, tetapi bisa saling terbuka,” tutur Risako.

Lalu, ada juga peserta asal Thailand menanyakan pola kehidupan dan budaya yang berkembang di pesantren. Soal ini, Roqib menjelaskan bahwa pesantren merupakan salah satu miniatur beragamnya masyarakat Indonesia, dalam hal suku, ras, dan adat kebiasaan. Namun, mereka semua bersatu dalam bimbingan sang kyai.

Roqib menerangkan, Kyai, dalam khazanah pesantren harus memiliki minimal dua kompetensi, yaitu kompetensi dalam hal ilmu agama Islam dan kompetensi dalam hal spiritualitas.

“Spiritualitas kyai berbeda dengan spiritualitas masyarakat pada umumnya. Hal ini seringkali tidak dimengerti oleh masyarakat,” kata Roqib.

Menurut Roqib, spiritualitas kyai harus mendalam sampai hakekat terdalam dari ajaran Islam yang dipahami dalam ilmu tasawuf. Karena ilmunya itu, para kyai, menurutnya, memiliki pergaulan yang terbuka dengan orang-orang dari berbagai latar belakang agama.

“Kadang-kadang ada kelompok masyarakat yang mudah curiga dengan kelompok yang berbeda,” ujar Roqib.

Sementara itu, peserta lainnya Amelina mengaku senang bisa berteman dan mengenal santri. Ia sempat diajak melihat kamar tidur santri perempuan dan melihat kamar mandi. Menurutnya tempat tidur dan kamar mandi itu sangat sederhana. Ia pun takjub dengan betapa tolerannya pesantren ini.

“Saya mendapat pesan jelas, agar tidak membeda-bedakan antara Islam dan Katolik,” kata Amelina.

Pertemuan itu juga semarakkan dengan penampilan teatrikal dari para santri. Sejumlah santriwan dan santriwati memainkan hadroh, sementara lima santriwati tampil membacakan tembang dan puisi. Salah satu tembang yang dibawakan adalah Kidung Jatimulya.

Peserta juga diajak mengenal kehidupan masyarakat di sekitar pesantren, seperti petani dan pedagang. Mereka melihat-lihat petani sayur, seperti kacang, kangkung, cesin yang banyak tersebar di daerah lereng selatan Gunung Slamet ini.

j-aR/Katoliknews

 

Komentar